8 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Sopan, Kebiasaan Sederhana yang Dilatih Sejak Kecil

Orang tua Jepang mendidik anak sopan lewat kebiasaan sehari-hari, teladan, empati, dan kemandirian, dengan penekanan pada variasi gaya pengasuhan.

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 17:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengajarkan sopan santun kepada anak bukan hanya soal meminta mereka mengucapkan “tolong” dan “terima kasih”. Cara orang tua Jepang mendidik anak agar sopan banyak dikaitkan dengan kebiasaan sehari-hari, seperti memperhatikan orang lain, mengikuti aturan bersama, menjaga barang, serta belajar melakukan sesuatu secara mandiri.

Di Jepang, sikap sopan juga berkaitan dengan kemampuan anak menempatkan diri dalam lingkungan sosial. Anak diperkenalkan pada kebiasaan yang membuat kehidupan bersama terasa tertib, baik di rumah, sekolah, maupun ruang publik.

Meski sering disebut sebagai “gaya parenting Jepang”, praktik pengasuhan tentu berbeda-beda pada setiap keluarga. Penelitian tentang parenting di Jepang justru menunjukkan adanya beragam gaya pengasuhan. Karena itu, kebiasaan yang dianggap khas Jepang sebaiknya dipahami sebagai kecenderungan budaya, bukan aturan yang berlaku untuk seluruh keluarga. Berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (2/10/2026).

1. Mengajarkan Sopan Santun Lewat Kebiasaan Sehari-hari

Salah satu hal yang menarik dari pendidikan anak di Jepang adalah perhatian terhadap kebiasaan sederhana. Anak tidak hanya diberi tahu bahwa dirinya harus bersikap sopan, tetapi juga dibiasakan melakukan tindakan yang mencerminkan sikap tersebut.

Misalnya, anak belajar menyimpan kembali barang yang digunakan, menaruh sepatu pada tempatnya, mengikuti aturan ketika berada di lingkungan bersama, serta memperhatikan orang lain ketika berbicara atau bermain.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan prinsip pendidikan anak usia dini yang tercantum dalam pedoman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang atau MEXT. Dalam pendidikan taman kanak-kanak, anak diarahkan untuk membangun kemandirian, berinteraksi dengan orang lain, memahami pentingnya aturan, serta mengembangkan kebiasaan dan sikap yang sesuai dengan kehidupan sosial.

Artinya, sopan santun tidak ditempatkan sebagai pelajaran yang berdiri sendiri. Anak mempelajarinya melalui berbagai aktivitas yang dilakukan berulang-ulang.

Ketika anak selalu diminta mengembalikan barang setelah digunakan, misalnya, yang dilatih bukan sekadar kerapian. Ia juga belajar memahami bahwa barang tersebut memiliki tempat dan bahwa tindakannya berpengaruh terhadap orang lain.

2. Orang Tua Menjadi Contoh Sebelum Memberi Banyak Nasihat

Anak belajar banyak hal dengan mengamati perilaku orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, salah satu bagian penting dari cara orang tua Jepang mendidik anak agar sopan adalah memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.

Anak akan lebih mudah memahami cara berbicara dengan orang lain ketika melihat orang tuanya sendiri berbicara dengan tenang, menghargai orang lain, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, atau mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan.

Konsep disiplin yang sering dibahas dalam konteks Jepang adalah shitsuke. Istilah ini tidak hanya berkaitan dengan hukuman, tetapi juga dapat dipahami sebagai pembiasaan, pelatihan, atau pembentukan kebiasaan.

Pengalaman yang ditulis dalam Savvy Tokyo menggambarkan bahwa orang tua Jepang dapat memilih untuk membicarakan perilaku anak secara lebih pribadi ketika anak melakukan kesalahan di tempat umum. Pendekatan tersebut berbeda dengan langsung menegur anak di hadapan banyak orang. Namun, pengalaman tersebut merupakan pengamatan penulis, bukan hasil survei yang mewakili seluruh keluarga Jepang.

Gagasan mengenai pembentukan kebiasaan juga sejalan dengan pedoman MEXT yang menempatkan hubungan dengan orang lain, kemandirian, kebiasaan sosial, kepedulian, dan kemampuan mematuhi aturan sebagai bagian dari perkembangan anak.

Dengan demikian, orang tua dapat mengajarkan sopan santun bukan hanya dengan berkata, “Jangan begitu,” tetapi dengan menunjukkan perilaku yang diharapkan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Mengajarkan Anak Memikirkan Perasaan Orang Lain

Sopan santun tidak berhenti pada penggunaan kata-kata. Anak juga perlu memahami bahwa perilakunya dapat memengaruhi orang lain.

Dalam konteks pendidikan Jepang, kemampuan memahami orang lain menjadi bagian penting dari hubungan sosial. MEXT, misalnya, mencantumkan tujuan agar anak mampu menyadari perasaan orang lain, berinteraksi dengan teman, bekerja bersama, serta mengembangkan sikap saling menghargai.

Karena itu, orang tua dapat mengarahkan anak dengan pertanyaan sederhana seperti, “Kalau kamu melakukan itu, bagaimana perasaan temanmu?” atau “Menurutmu, orang lain akan terganggu tidak?”

Pertanyaan seperti ini membantu anak melihat sebuah situasi dari sudut pandang orang lain. Anak tidak hanya belajar bahwa suatu tindakan “dilarang”, tetapi mulai memahami alasan di balik aturan tersebut.

Penelitian Okubo dan kolega yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 2022 juga menunjukkan bahwa pengasuhan merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan perkembangan sosial-emosional anak. Penelitian tersebut mengembangkan Japanese Parenting Style Scale dengan empat aspek, yaitu warmth, hostility, permissiveness, dan harsh control. Dalam hasil penelitian, aspek warmth berkaitan dengan beberapa indikator positif, termasuk perilaku prososial dan kemampuan mengambil perspektif orang lain.

Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa mengajarkan sopan santun tidak harus dilakukan melalui kontrol keras. Kehangatan dalam hubungan orang tua dan anak juga menjadi bagian dari pola pengasuhan yang perlu diperhatikan.

4. Membiasakan Anak Mengikuti Aturan Bersama

Anak juga perlu memahami bahwa kehidupan bersama memiliki aturan. Di Jepang, pembiasaan mengikuti aturan dapat terlihat dalam berbagai situasi, mulai dari lingkungan sekolah hingga ruang publik.

Anak belajar bahwa ada perilaku yang sesuai dilakukan di rumah, tetapi belum tentu tepat dilakukan di kereta, restoran, perpustakaan, atau tempat umum lainnya.

MEXT memasukkan kemampuan memahami pentingnya aturan dan berusaha mematuhinya sebagai salah satu bagian dari pendidikan hubungan sosial anak. Anak juga diarahkan untuk belajar menggunakan fasilitas bersama dan menjaga barang yang digunakan bersama.

Pembelajaran tersebut dapat dilakukan dengan cara sederhana. Ketika berada di tempat umum, orang tua bisa menjelaskan bahwa seseorang perlu berbicara dengan suara yang tidak mengganggu orang lain. Saat menggunakan fasilitas bersama, anak diajarkan menunggu giliran. Setelah selesai bermain, anak diminta merapikan kembali barang yang digunakan.

Kebiasaan tersebut membuat anak memahami bahwa sopan santun bukan hanya hubungan antara dirinya dan orang tua. Ada orang lain yang juga perlu dipertimbangkan.

5. Memberikan Kesempatan Anak Melakukan Sesuatu Sendiri

Sikap sopan sering kali berjalan bersama dengan kemandirian. Anak yang terbiasa mengurus sebagian kebutuhannya sendiri dapat belajar memahami tanggung jawab dan konsekuensi dari tindakannya.

Dalam pedoman MEXT, pendidikan anak usia dini secara eksplisit menekankan pentingnya anak melakukan sendiri hal-hal yang memang sudah dapat dilakukannya. Anak juga diarahkan untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kemampuannya.

Dalam praktik sehari-hari, bentuknya tidak harus rumit. Anak dapat diberi tugas untuk merapikan mainan, menaruh pakaian kotor pada tempatnya, membawa perlengkapan sendiri, atau mempersiapkan barang yang dibutuhkan sebelum berangkat.

Kemandirian semacam ini juga dapat mendukung perilaku sopan karena anak belajar bahwa ia memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan di sekitarnya.

TIME, melalui tulisan Maryanne Murray Buechner tentang pengalaman tinggal di Tokyo, juga menggambarkan adanya harapan terhadap kemandirian anak dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengalaman tersebut perlu dibaca sebagai pengamatan pribadi, bukan sebagai gambaran mutlak seluruh keluarga Jepang.

6. Mengoreksi Perilaku, Bukan Memberi Cap pada Anak

Salah satu prinsip yang dapat dipetik dari pembahasan mengenai disiplin di Jepang adalah membedakan antara anak dan perilakunya.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat menjelaskan tindakan mana yang tidak tepat dan mengapa tindakan tersebut perlu diperbaiki. Anak tidak perlu terus-menerus diberi label sebagai “nakal”, “tidak sopan”, atau “bandel”.

Pendekatan ini penting karena tujuan disiplin adalah membantu anak memahami perilaku yang tepat, bukan sekadar membuat anak takut kepada orang tua.

Artikel Savvy Tokyo tentang shitsuke menggambarkan pengalaman penulis ketika melihat orang tua Jepang membawa anak keluar dari situasi publik yang mengganggu sebelum membicarakan perilakunya secara pribadi. Cara tersebut dipaparkan sebagai pengamatan lapangan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai pola universal semua keluarga Jepang.

Sementara itu, penelitian Okubo dan kolega memberikan gambaran yang lebih terukur. Dari penelitian terhadap orang tua yang memiliki anak usia prasekolah, ditemukan bahwa gaya pengasuhan di Jepang memiliki beberapa dimensi, termasuk kehangatan, sikap bermusuhan, permisivitas, dan kontrol yang keras. Peneliti juga menekankan bahwa penelitian tersebut bersifat potong lintang dan menggunakan sejumlah pengukuran berbasis laporan diri, sehingga hubungan yang ditemukan tidak dapat langsung dianggap sebagai hubungan sebab-akibat.

Temuan ini mengingatkan bahwa “parenting Jepang” tidak identik dengan disiplin keras. Ada variasi besar dalam cara orang tua mendidik anak.

7. Melatih Sopan Santun Secara Konsisten

Kebiasaan akan lebih mudah terbentuk ketika dilakukan berulang-ulang. Karena itu, orang tua tidak harus memberikan ceramah panjang setiap kali anak melakukan kesalahan.

Misalnya, anak dapat dibiasakan mengucapkan salam ketika bertemu orang lain, mengucapkan terima kasih ketika mendapatkan bantuan, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, mengetuk pintu sebelum masuk ruangan, serta menunggu giliran ketika menggunakan sesuatu bersama.

Yang penting adalah konsistensi. Jika orang tua meminta anak mengucapkan terima kasih tetapi orang tua sendiri jarang melakukannya, anak akan mendapatkan pesan yang berbeda.

Pembentukan kebiasaan juga menjadi bagian dari prinsip pendidikan anak usia dini di Jepang. MEXT menekankan bahwa anak memperoleh pengalaman melalui kegiatan sehari-hari dan secara bertahap membangun kebiasaan sosial, kemandirian, serta kemampuan berhubungan dengan orang lain.

Dengan demikian, sopan santun bukan sesuatu yang harus “dihafalkan” anak dalam satu waktu. Ia tumbuh dari rutinitas kecil yang terus dilakukan.

8. Menggabungkan Kehangatan dengan Batasan yang Jelas

Satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas cara orang tua Jepang mendidik anak agar sopan adalah jangan menganggap ketertiban sebagai hasil dari aturan yang keras semata.

Penelitian Okubo dan kolega justru menemukan bahwa warmth merupakan salah satu dimensi penting dalam pengasuhan orang tua Jepang. Dalam penelitian tersebut, pengasuhan yang hangat menunjukkan hubungan dengan karakteristik positif orang tua dan sejumlah indikator perkembangan anak yang positif.

Artinya, orang tua dapat memberikan batasan sekaligus tetap menunjukkan kasih sayang. Anak dapat diberi tahu bahwa berteriak di tempat tertentu tidak diperbolehkan, tetapi ia tetap diberi ruang untuk menjelaskan apa yang dirasakannya.

Cara ini membantu anak memahami bahwa aturan bukan berarti dirinya tidak diterima. Yang perlu diperbaiki adalah perilakunya.

Pada akhirnya, pelajaran yang bisa diambil dari berbagai sumber bukanlah bahwa semua orang tua Jepang menggunakan satu metode yang sama. Justru penelitian menunjukkan adanya variasi gaya pengasuhan. Hal yang dapat dipelajari adalah pentingnya keteladanan, pembiasaan, kemandirian, perhatian terhadap orang lain, aturan yang konsisten, serta hubungan yang hangat antara orang tua dan anak.

Tanya Jawab Seputar Parenting Orang Jepang

1. Apakah semua anak Jepang dididik dengan cara yang sama?

Tidak. Penelitian Okubo dan kolega menunjukkan adanya variasi gaya pengasuhan pada orang tua Jepang. Penelitian tersebut mengidentifikasi empat aspek, yaitu warmth, hostility, permissiveness, dan harsh control. Jadi, tidak tepat jika seluruh keluarga Jepang dianggap menggunakan satu pola parenting yang sama.

2. Apa arti shitsuke dalam parenting Jepang?

Shitsuke umumnya dapat diterjemahkan sebagai disiplin, pembiasaan, pelatihan, atau pembentukan perilaku. Dalam pembahasan tentang pengasuhan Jepang, istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan proses mengajarkan anak kebiasaan dan perilaku yang sesuai dalam kehidupan sehari-hari.

3. Apakah orang tua Jepang tidak pernah memarahi anak?

Tidak bisa disimpulkan demikian. Keluarga Jepang memiliki cara masing-masing dalam memberikan disiplin. Artikel Savvy Tokyo menggambarkan pengamatan bahwa sebagian orang tua memilih mengoreksi anak secara lebih privat, tetapi pengalaman tersebut tidak dapat dianggap mewakili semua keluarga Jepang.

4. Mengapa anak Jepang sering dianggap mandiri?

Kemandirian menjadi salah satu tujuan yang ditekankan dalam pendidikan anak usia dini Jepang. MEXT mencantumkan kemampuan anak untuk berpikir dan bertindak sendiri serta melakukan hal-hal yang sudah mampu dilakukannya sebagai bagian dari perkembangan sosial dan personal.

5. Apa yang bisa ditiru orang tua Indonesia dari parenting Jepang?

Beberapa kebiasaan yang relatif mudah diterapkan adalah memberikan contoh perilaku sopan, membiasakan anak merapikan barang, mengajarkan menunggu giliran, menjelaskan dampak perilaku terhadap orang lain, memberikan tanggung jawab sesuai usia, serta menetapkan aturan secara konsisten sambil tetap menjaga hubungan yang hangat.