Liputan6.com, Jakarta - Mengajarkan anak mengucapkan maaf dan terima kasih sering dianggap remeh, padahal dua kata sederhana itu punya dampak besar bagi tumbuh kembang emosional anak. Banyak orang tua sudah berulang kali mengingatkan, tapi anak tetap lupa atau mengucapkannya asal-asalan tanpa makna.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Sopan santun ternyata bukan bakat bawaan yang otomatis dimiliki anak sejak lahir, melainkan kemampuan yang perlu dilatih lewat kebiasaan sehari-hari, sama seperti keterampilan lain yang mereka pelajari.
Berikut Liputan6.com mengulas dari berbagai sumber sepuluh cara yang bisa dicoba orang tua di rumah untuk mengajarkan anak mengucapkan maaf dan terimakasih, mulai dari kebiasaan sederhana yang sudah dikenal luas hingga pendekatan yang lebih menyentuh sisi empati anak, Kamis (24/9/2026).
Advertisement
1. Jadi Teladan Langsung di Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843891/original/018274600_1562156772-boy-child-childhood-235554.jpg)
Anak banyak belajar dengan mengamati perilaku orang-orang terdekatnya, terutama orang tua. Membiasakan diri mengucapkan "tolong", "maaf", dan "terima kasih" dalam situasi sehari-hari di rumah membuat anak lebih mudah memahami kapan kata-kata itu digunakan, misalnya saat meminta bantuan mengambilkan buku atau berterima kasih setelah dibantu.
Peran orang tua sebagai figur yang paling sering dilihat anak membuat pengaruhnya sangat besar. Anak-anak yang melihat orang tuanya meminta maaf secara tulus saat melakukan kesalahan cenderung lebih memahami dan menghargai arti sebuah permintaan maaf.
Advertisement
2. Bacakan Cerita yang Menunjukkan Sopan Santun
Buku cerita yang memuat situasi sehari-hari dan memperlihatkan penggunaan kata "tolong", "maaf", dan "terima kasih" bisa jadi cara menyenangkan untuk mengenalkan sopan santun. Anak biasanya lebih mudah menyerap pesan lewat cerita dibanding nasihat langsung.
Setelah membacakan cerita, orang tua bisa mengajak anak membicarakan perilaku tokoh di dalamnya. Diskusi semacam ini membantu anak memahami alasan seseorang perlu meminta maaf atau berterima kasih kepada orang lain, bukan sekadar menghafal kapan kata itu diucapkan.
3. Biasakan Secara Berulang, Bukan Sekali Jadi
Anak membutuhkan waktu untuk memahami dan membentuk sebuah kebiasaan baru. Kata-kata sopan perlu diajarkan berulang kali dalam berbagai situasi, bukan hanya sekali diingatkan lalu dianggap selesai.
Orang tua tidak perlu berkecil hati jika anak masih lupa atau belum langsung mempraktikkannya. Mengingatkan dengan cara sederhana sambil tetap memberi contoh jauh lebih efektif dibanding memarahi. Konsistensi menjadi kunci agar kebiasaan ini perlahan melekat dalam keseharian anak.
Advertisement
4. Kenalkan Sejak Usia Dini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5110626/original/086902500_1737976278-Kontrol_anak.jpg)
Sopan santun bisa dikenalkan sejak anak masih kecil, bahkan sebelum ia lancar berbicara. Semakin sering anak mendapat contoh dan kesempatan mempraktikkannya, semakin besar peluang kebiasaan itu melekat dalam kesehariannya.
Orang tua bisa memanfaatkan berbagai momen sederhana, seperti saat anak meminta bantuan, menerima sesuatu, atau tidak sengaja membuat kesalahan. Penting juga menjelaskan makna di balik kata tersebut, bahwa meminta maaf bukan sekadar ucapan penutup masalah, melainkan bentuk pengakuan bahwa tindakannya mungkin membuat orang lain merasa tidak nyaman.
5. Berikan Pujian saat Anak Berhasil Melakukannya
Ketika anak berhasil mengucapkan "tolong", "maaf", atau "terima kasih" pada situasi yang tepat, orang tua bisa memberikan pujian. Pujian tidak harus berupa hadiah; kalimat sederhana seperti "terima kasih sudah bilang maaf" sudah cukup membuat anak merasa dihargai.
Apresiasi semacam ini memperkuat asosiasi positif anak terhadap perilaku sopan. Semakin sering perilaku baik itu diakui, semakin besar kemungkinan anak mengulanginya tanpa perlu diingatkan terus-menerus.
Advertisement
6. Bangun Empati Sebelum Mengajarkan Kata-katanya
Permintaan maaf yang bermakna sebenarnya berakar dari empati, yaitu kemampuan memahami perasaan orang lain. PBS Kids for Parents menyarankan orang tua mengajak anak "bertanya-tanya" tentang perasaan orang lain, misalnya menanyakan mengapa temannya terlihat sedih, sebagai langkah awal sebelum anak diminta meminta maaf.
Dengan memahami dulu apa yang dirasakan orang lain, anak belajar bahwa meminta maaf adalah cara mengambil tanggung jawab atas dampak tindakannya, bukan sekadar formalitas untuk mengakhiri konflik.
7. Jangan Paksa Anak Minta Maaf Tanpa Memahami Maknanya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5038399/original/043864800_1733462367-Gambar_WhatsApp_2024-12-06_pukul_11.16.11_c5ee6ee8.jpg)
Riset dari Greater Good Science Center, Universitas California Berkeley, yang mengutip studi May Yuan dan koleganya pada 2021, menemukan bahwa memaksa anak langsung meminta maaf dan memaafkan setelah sebuah konflik justru mengajarkan bahwa permintaan maaf cukup diselesaikan dengan mengucap kata-kata, tanpa perlu memahami maknanya.
Senada dengan itu, laman parenting internasional A Fine Parent menyarankan orang tua memberi anak ruang untuk memahami situasinya terlebih dahulu, alih-alih menuntut ucapan "maaf" secara instan begitu konflik terjadi. Pendekatan yang terburu-buru berisiko membuat anak mengucapkan kata maaf dengan nada terpaksa atau bahkan defensif.
Advertisement
8. Gunakan Momen Nyata Sehari-hari sebagai Pembelajaran
Laman parenting Being The Parent menekankan pentingnya memahami alasan di balik perilaku anak sebelum memintanya meminta maaf, misalnya menanyakan kenapa ia merebut mainan temannya. Memahami akar masalah membantu anak tidak merasa dipermalukan saat diminta bertanggung jawab.
Momen-momen kecil seperti berebut mainan, tidak sengaja menyenggol orang lain, atau menerima bantuan dari teman, bisa dimanfaatkan sebagai kesempatan belajar nyata. Cara ini lebih efektif dibanding sekadar menghafal aturan sopan santun secara teoretis.
9. Latih Rasa Syukur, Bukan Sekadar Ucapan "Terima Kasih"
Program Making Caring Common dari Harvard Graduate School of Education menyebut bahwa rasa syukur lebih dari sekadar mengucapkan terima kasih atau mengaku merasa bersyukur. Anak perlu dilatih untuk "melihat" siapa atau apa yang membuatnya bersyukur, lalu "memikirkan" alasan di baliknya secara rutin.
Menurut riset Harvard tersebut, orang tua juga perlu menunjukkan rasa syukurnya sendiri agar anak lebih memahami makna di balik ucapan terima kasih, bukan sekadar meniru ucapannya tanpa penghayatan.
Advertisement
10. Perhatikan Nada dan Ketulusan saat Anak Mengucapkannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562753/original/025128600_1776839173-jcomp_1_.jpg)
Cara anak mengucapkan kata maaf atau terima kasih sama pentingnya dengan kata itu sendiri. Laman parenting FirstCry menyarankan orang tua mengajarkan anak menggunakan nada suara yang tepat, karena nada yang datar atau ketus bisa membuat ucapan terdengar tidak tulus meski katanya sudah benar.
Orang tua bisa membantu anak membedakan nada yang tulus dan yang terpaksa lewat latihan sederhana, misalnya dengan mencontohkan langsung perbedaannya. Cara ini melatih anak memahami bahwa kesopanan bukan hanya soal kata yang diucapkan, tapi juga cara menyampaikannya.
Pertanyaan Seputar Mengajarkan Anak Minta Maaf dan Terima Kasih
Kapan waktu tepat mulai mengajarkan anak mengucapkan maaf dan terima kasih?
Sejak anak mulai bisa berbicara, sekitar usia 1-2 tahun, orang tua sudah bisa mengenalkan kata-kata sopan lewat contoh sehari-hari.
Apakah wajar jika anak lupa mengucapkan kata-kata sopan?
Wajar. Anak butuh pengulangan berkali-kali sebelum kebiasaan itu melekat, jadi orang tua cukup mengingatkan tanpa memarahi.
Bagaimana jika anak menolak minta maaf?
Cari tahu dulu alasan di balik penolakannya, lalu bantu anak memahami dampak tindakannya sebelum memintanya meminta maaf.
Apakah pujian untuk anak harus berupa hadiah?
Tidak. Pujian verbal sederhana yang tulus sudah cukup membuat anak merasa perilaku baiknya dihargai.
Apa dampak jangka panjang membiasakan anak berterima kasih?
Anak tumbuh lebih peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mudah membangun hubungan sosial yang sehat.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356963/original/076849000_1790227753-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-24T122607.841.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348780/original/066704200_1789457937-cek_fakta_-_pekerja_migran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337193/original/082818200_1788236451-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-01T111508.347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355902/original/030503500_1790146463-c04bc17d-8684-43f2-9068-07999fe85942.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353536/original/012125000_1789968723-20260919_091409.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347895/original/044766700_1789374736-7f5a2402-d1f4-44a5-9786-e9a2e1101812.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/960372/original/069033200_1439981589-Untitled.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344830/original/076268300_1789007262-48227bb0-a74b-44ed-acdb-f6bb89649b73.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342730/original/031913900_1788795688-1000628310.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5434064/original/062926800_1764911468-Lifestylememory.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4092109/original/054963100_1658127409-jerry-wang-jfnUC7s3iuw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771065/original/068235200_1710317271-IMG_1701.jpeg)