Mirip tapi Tak Sama, Kenali Perbedaan Gejala Influenza dan Salesma

Ada batuk, pilek, serta sakit kepala. Ketahui beda gejala influenza dan salesma atau common cold sehingga tahu kapan mesti waspada.

Diterbitkan 04 Mei 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Influenza kerap dianggap penyakit enteng padahal pada sebagian kasus bisa berujung pneumonia bahkan kematian. Bisa jadi yang disebut influenza oleh masyarakat awam itu adalah salesma atau common cold.

"Influenza bukan salesma," kata dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi, Profesor Iris Rengganis.

Influenza atau flu adalah penyakit infeksi saluran pernapasan akut yang sangat menular, disebabkan oleh virus influenza tipe A atau B.

Sementara, common cold atau salesma adalah infeksi virus ringan pada saluran pernapasan atas (hidung dan tenggorokan) penyebabnya paling sering rhinovirus.

Kebanyakan masyarakat menganggap kedua kondisi itu sama karena gejala yang mirip-mirip. Padahal ada gejala yang khas pada kedua kondisi itu.

"Kalau demam tinggi, lalu pusing banget, badan nyeri sekali, tapi bersin-bersin jarang, itu besar kemungkinan influenza," kata Iris dalam temu media bersama Kalventis di Jakarta pada Senin, 4 Mei 2026.

Lebih lanjut, Iris menjelaskan perbedaan gejala influenza dan salesma:

Demam

Salesma: jarang

Influenza: tiba-tiba, seringkali demam tinggi yang berakhir dalam 3-4 hari.

 

Sakit kepala

Salesma: jarang

Influenza: sering

 

Nyeri dan pegal

Salesma: ringan

Influenza: Biasa terjadi dan seringkali sangat nyeri

 

Lemah

Salesma: ringan

Influenza: sedang sampai berat, bisa sampai satu bulan

 

Terbaring di tempat tidur

Salesma: jarang atau ringan

Influenza: bisa sampai 5-10 hari

 

Pilek

Salesma: Sering

Influenza: kadang-kadang

 

Bersin-bersin

Salesma: umum

Influenza: kadang-kadang

 

Tenggorokan sakit

Salesma: umum

Influenza: kadang-kkadang

 

Batuk

Salesma: kadang-kadang, ringan

Influenza: biasa, dan bisa menjadi parah

 

Komplikasi

Salesma: sinus atau infeksi telinga

Influenza: pneumonia, gagal ginjal, gagal hati yang dapat mengancam nyawa.

"Pada kelompok dewasa dan lansia, influenza dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, perburukan penyakit kronis, bahkan kejadian kardiovaskular akut,” kata Iris.

 

Cara Menegakkan Diagnosis

Pada pasien dengan gejala yang mengarah ke flu, Iris biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut.

Salah satunya lewat pemeriksaan molekuler, seperti reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Ini  merupakan metode pemeriksaan yang paling akurat dalam mendeteksi keberadaan virus influenza. Tes ini bekerja dengan mendeteksi materi genetik (RNA) virus flu dari sampel usap hidung atau tenggorokan yang telah diambil.

RT-PCR memiliki sensitivitas yang tinggi, yang berarti mampu mendeteksi infeksi flu meskipun jumlah virus dalam tubuh belum banyak. Tes ini juga dapat mendeteksi jenis virus yang menginfeksi. Hasil pemeriksaan RT-PCR biasanya akan keluar dalam kurun waktu 24 jam. 

Atau bisa juga dengan Tes Antigen Cepat (rapid influenza diagnostic test/RIDT). Tes antigen cepat dilakukan untuk mendeteksi protein dari virus influenza melalui sampel usap hidung atau tenggorokan. Salah satu keunggulan tes ini adalah hasilnya bisa didapatkan dengan cepat, yaitu sekitar 15–30 menit.

Meski cepat, tingkat akurasi tes ini tidak setinggi RT-PCR. Ada kemungkinan hasil negatif palsu, terutama pada tahap awal infeksi di mana jumlah virus masih dalam kadar yang rendah.