Liputan6.com, Jakarta - Vaksin influenza kerap dianggap penting guna melindungi tubuh dari risiko infeksi virus yang bisa berujung komplikasi serius. Namun, hingga kini, vaksin ini belum masuk dalam program imunisasi nasional gratis di Indonesia. Lantas, apa sebenarnya alasan di balik kebijakan tersebut?
Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang sekaligus Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. DR. Dr. Soedjatmiko, Sp.A (K), Msi menjelaskan bahwa keputusan pemerintah bukan berarti menganggap influenza tidak berbahaya. Ada banyak pertimbangan yang harus dikaji secara matang sebelum suatu vaksin dimasukkan ke dalam program nasional.
"Pemerintah melihat prioritas penyakit lain seperti campak dan difteri yang dinilai lebih mendesak dari sisi dampak dan penyebaran. Selain itu, ada pertimbangan analisa health economic sebelum sebuah program dijalankan," ujar Miko.
Advertisement
Dia, menjelaskan, ada beberapa faktor utama yang menjadi dasar pengambilan keputusan. Pertama adalah seberapa besar beban penyakit tersebut di masyarakat, termasuk jumlah kasus dan penyebarannya di Indonesia. Kedua, dampak yang ditimbulkan, seperti tingkat keparahan, risiko kecacatan, hingga angka kematian.
"Lalu dihitung juga berapa biaya yang ditimbulkan akibat penyakit tersebut, serta bagaimana efektivitas pencegahannya, termasuk melalui vaksinasi," jelasnya.
Tak hanya itu, harga vaksin dan ketersediaannya dalam jangka panjang juga menjadi pertimbangan penting. Pemerintah harus memastikan pasokan vaksin stabil dan tidak terputus jika sudah dijadikan program nasional.
"Setelah semua pertimbangan itu, baru diputuskan apakah vaksin tersebut perlu dimasukkan dalam program. Untuk influenza, saat ini masih belum dianggap prioritas," tambahnya.
Meski belum menjadi program gratis, bukan berarti vaksin influenza tidak direkomendasikan. Justru, organisasi profesi kesehatan baik untuk anak maupun dewasa tetap menyarankan masyarakat untuk mendapatkan perlindungan tambahan ini.
"Semua organisasi profesi tetap merekomendasikan, lindungi anak, cucu, dan keluarga kita dengan cara masing-masing, termasuk vaksinasi influenza," katanya.
Â
Influenza Bukan Penyakit Ringan
Banyak orang masih menganggap influenza sebagai penyakit ringan, sekadar batuk dan pilek yang bisa sembuh sendiri. Padahal, influenza bisa berkembang menjadi penyakit serius, bahkan berujung kematian, terutama pada kelompok rentan.
Miko menegaskan bahwa influenza bukan sekadar flu biasa. Virus ini dapat menyerang berbagai organ vital dalam tubuh.
"Influenza yang disebabkan oleh virus Influenza A dan B bisa menyebabkan penyakit berat. Tidak hanya menyerang saluran napas, tapi juga bisa ke paru-paru menjadi pneumonia, ke jantung, bahkan ke otak, dan itu yang menyebabkan kematian," ujar Miko.
Dia, menjelaskan, risiko komplikasi meningkat pada bayi, balita, lansia, serta individu dengan penyakit penyerta seperti diabetes, gangguan jantung, dan kelainan darah.
Pada kondisi tertentu, infeksi influenza dapat menyebar melalui aliran darah dan memicu peradangan di organ-organ penting.
Gejala awal influenza umumnya diawali dengan demam. Jika infeksi semakin berat, pasien bisa mengalami demam tinggi, nyeri otot, lemas, hingga kehilangan nafsu makan.
Ketika virus menyerang paru-paru, penderita akan mengalami sesak napas yang membutuhkan penanganan medis segera. "Kalau sudah sampai ke paru-paru, napas jadi sesak. Bahkan ada yang sampai kekurangan oksigen dan harus dibantu alat," jelasnya.
Di sejumlah negara lain, vaksin influenza sudah menjadi program nasional, terutama di wilayah dengan angka kasus dan kematian yang tinggi. Faktor harga vaksin yang lebih terjangkau juga turut memengaruhi kebijakan tersebut.
Â
Advertisement
Bukan Tidak Mungkin Vaksin Influenza Bakal Gratis
Indonesia sendiri pernah mengalami hal serupa pada vaksin lain. Contohnya vaksin PCV (pneumokokus) yang dulu tergolong mahal. Namun, pada akhirnya masuk program nasional setelah terbukti efektif menekan angka kematian akibat pneumonia.
"Dulu PCV mahal, tapi karena pneumonia menjadi pembunuh nomor satu, biaya perawatan tinggi, dan vaksinnya tersedia, akhirnya masuk program," katanya.
Hal yang sama juga terjadi pada vaksin HPV untuk mencegah kanker leher rahim, yang kini mulai diperluas karena terbukti efektif dan didukung ketersediaan vaksin dengan harga terjangkau.
Melihat pola tersebut, bukan tidak mungkin vaksin influenza akan menyusul di masa depan. Namun, keputusan tersebut tetap bergantung pada hasil kajian menyeluruh.
"Kalau nanti kajiannya menunjukkan dampak yang besar dan vaksin tersedia dengan baik, bisa saja suatu saat influenza masuk program nasional," pungkas Miko.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411187/original/066520500_1763004762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-13T103028.882.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4866719/original/017032400_1718697583-Pajak1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497481/original/095565600_1770631238-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T163415.626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254682/original/016436200_1750136014-Gemini_Generated_Image_r03v0or03v0or03v.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288624/original/094450800_1783327932-000_B9C996W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293466/original/077963300_1783718956-063_2285564351.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293456/original/054507100_1783717417-000_B9W36UY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293465/original/017817900_1783718956-063_2285562554.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293455/original/048931800_1783717383-000_B9W36VN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110960/original/024723100_1783047145-sp7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289078/original/032461700_1783391107-bel11.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291435/original/001786200_1783562166-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292618/original/088093700_1783634462-000_B9T74UT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292072/original/001928600_1783583941-WhatsApp_Image_2026-07-09_at_11.25.29.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291616/original/077545600_1783569990-WhatsApp_Image_2026-07-09_at_10.59.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254682/original/016436200_1750136014-Gemini_Generated_Image_r03v0or03v0or03v.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291020/original/017469700_1783501871-Thailand.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8395787/original/052169900_1782276692-Budi_Gunadi_Sadikin__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5485457/original/070806700_1769507349-bgs_jkn.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8144207/original/009352100_1780996945-55322489703_f4223effd4_c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4301837/original/002335600_1674614987-tomek-baginski-EI3lexoBY60-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411293/original/086765200_1763010317-pregnant-woman-with-baby-shoes.jpg)