Kolaborasi Pemerintah dan Swasta, Intip Kesuksesan Program SIGAP yang Berikan Dampak Nyata pada Keluarga Indonesia

Program Keluarga SIGAP perkuat layanan kesehatan primer dan dorong imunisasi, gizi, serta kebiasaan cuci tangan pada anak usia dini di berbagai daerah Indonesia

Diterbitkan 13 Februari 2026, 16:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setelah dijalankan hingga tahun 2025, Program Keluarga SIGAP mencatat berbagai capaian dalam mendorong perubahan perilaku kesehatan keluarga di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Gavi the Vaccine Alliance, Unilever melalui Lifebuoy, dan The Power of Nutrition, program ini berhasil memperkuat layanan kesehatan primer dengan pendekatan terintegrasi yang menyentuh langsung keluarga, khususnya pada praktik imunisasi, pemenuhan gizi, dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun pada anak usia dini.

Sejak 2022, SIGAP diimplementasikan di Sukabumi, Brebes, Banjar, serta melalui fase pilot di Bogor. Program ini tercatat telah menjangkau 84.628 anak usia di bawah dua tahun di wilayah intervensi dan menjangkau 40 juta masyarakat Indonesia melalui kampanye media di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Sinergi Lintas Sektor Perkuat Layanan Kesehatan Primer

Kementerian Kesehatan RI terlibat sejak tahap perencanaan awal program, memastikan SIGAP selaras dengan Agenda Transformasi Kesehatan Indonesia dan penguatan Pelayanan Kesehatan Primer Terpadu (ILP). Pendekatan ini diperkuat oleh peran Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan kader sebagai ujung tombak implementasi di lapangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar menyampaikan bahwa program ini sangat membantu dalam mendidik orang tua yang ada di wilayahnya. 

“Kami beruntung terpilih sebagai wilayah intervensi SIGAP. Program ini mendukung upaya kami dalam mendidik orang tua dan memperkuat keterampilan komunikasi kader, sehingga membantu meringankan beban kerja kami."

Pendekatan Terintegrasi: Imunisasi, Gizi, dan CTPS

SIGAP tidak menyampaikan pesan kesehatan secara terpisah. Imunisasi, gizi sesuai usia, dan cuci tangan pakai sabun dikomunikasikan sebagai satu kesatuan perilaku yang saling berkaitan dalam menjaga tumbuh kembang anak.

Evaluasi dampak pihak ketiga menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan praktik pada ketiga aspek tersebut. Di wilayah intervensi, terjadi peningkatan cakupan imunisasi dasar anak dibanding baseline, peningkatan keanekaragaman pangan minimum, serta peningkatan praktik cuci tangan pakai sabun pada momen penting.

“Di Sesi Posyandu SIGAP, suami saya dan saya mengetahui bahwa masalah pencernaan anak kami disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat. Sekarang, kami memberinya protein, sayuran, dan buah secara rutin,” ungkap seorang ibu baduta di wilayah Brebes.

Kunjungan Rumah dan Kelas Ibu Baduta Sentuh Keluarga Secara Personal

Kekuatan SIGAP terletak pada pendekatan berbasis komunitas melalui kunjungan rumah, kelas ibu baduta di Posyandu, serta pelibatan PAUD dan tokoh masyarakat. Metode ini memungkinkan dialog personal antara kader dan keluarga.

Seorang kader SIGAP di Banjar menuturkan, “Melalui SIGAP, saya belajar cara yang efektif untuk berkomunikasi dengan orang tua mengenai ASI eksklusif dan pemberian makanan pendamping yang sehat. Syukurlah, informasi yang kami sampaikan tidak hanya disambut baik oleh para ibu, tetapi juga oleh ayah.”

Komponen kunjungan rumah SIGAP diakui oleh Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat pada 2024 sebagai bagian integral dari pendekatan layanan kesehatan primer. Selain itu, 96 kepala desa telah berkomitmen mengalokasikan Dana Desa untuk mendukung keberlanjutan kader dan kegiatan SIGAP di komunitas.

Libatkan Ayah, Dorong Perubahan Norma Kesehatan Keluarga

SIGAP juga secara khusus mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan, berdasarkan riset Human-Centred Design yang menemukan bahwa ayah kerap menjadi pengambil keputusan penting dalam keluarga.

Hal ini mendapatkan sambutan antusias dari para ayah yang terlibat. Salah seorang ayah baduta dari Sukabumi juga menyampaikan, “Dengan materi pantau mandiri, saya bisa membantu istri saya dalam jadwal imunisasi dan menyediakan makanan sehat. Saya juga harus mencuci tangan saat pulang ke rumah, sebelum memegang anak saya.”

Media, Digital, dan WhatsApp BOT Perluas Dampak

Dalam skala luas, SIGAP memanfaatkan media massa dan digital. Kampanye digital menghasilkan lebih dari 1,4 miliar impresi, sementara televisi menjangkau jutaan orang tua melalui iklan layanan berdurasi 30 detik.

Inovasi lain adalah WhatsApp BOT SIGAP, yang dirancang sebagai perpanjangan digital dari interaksi tatap muka. BOT ini mencatat tingkat penyelesaian tinggi, 50% orang tua menyelesaikan perjalanan bersama pasangan, dan 80% pengguna memilih pengingat imunisasi personal.

Rangkuman Dampak Nyata Program SIGAP

Penilaian dampak oleh pihak ketiga difokuskan pada perubahan di tiga aspek utama: imunisasi, gizi, dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun dalam Program Keluarga SIGAP. Dari hasil evaluasi tersebut terlihat adanya peningkatan pengetahuan masyarakat, perubahan perilaku, serta pemanfaatan layanan kesehatan. 

Media dinilai berkontribusi besar dalam menjangkau audiens secara luas, namun temuan ini juga menunjukkan pentingnya pendalaman riset untuk mengurai sejauh mana peran media memengaruhi perubahan perilaku dalam skala besar.

1. Imunisasi

Terjadi peningkatan cakupan imunisasi dasar anak, di mana rata-rata terjadi peningkatan 15% di Banjar, Brebes dan Sukabumi. Program SIGAP juga mencatat terjadi 2x peningkatan pemberian dosisi terakhir vaksin Pneumonia di Brebes dan 80% cakupan dosis terakhir vaksin polio di Banjar. SIGAP dinilai secara signifikan meningkatkan kepercayaan terhadap vaksin. 

2. Gizi

Dari sisi Gizi, pemberian makan bayi menunjukkan peningkatan signifikan di wilayan SIGAP dibandingkan wilayah kontrol. Sebesar 4,4% peningkatan inisiasi menyusu dini (IMD) dan 6,8% peningkatan keanekaragaman makan dan minum. Rata-rata 96% orang tua menyatakan bahwa alat pantau asupan gizi anak SIGAP bermanfaat, karena membantu mereka lebih menyadari praktik pemberian makan anak, termasuk kebiasaan mengemil tidak sehat. 

3. Cuci Tangan pakai Sabun

Perilaku cuci tangan pakai sabun menunjukkan peningkatan signifikan di wilayah SIGAP. Sebanyak 6,9% peningkatan terjadi terhadap ketersediaan sarana cuci tangan pakai sabun di rumah tangga wilayah SIGAP. Selain itu, 6,4% praktik cuci tangan pada berbagai momen penting/kritis dan 7,2% terjadi peningkatan jumlah orang tua yang menyebutkan kesehatan dan kebersihan sebagai manfaat cuci tangan pakai sabun. 

Penilaian dampak oleh pihak ketiga difokuskan pada perubahan di tiga aspek utama: imunisasi, gizi, dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun dalam Program Keluarga SIGAP. Dari hasil evaluasi tersebut terlihat adanya peningkatan pengetahuan masyarakat, perubahan perilaku, serta pemanfaatan layanan kesehatan. Media dinilai berkontribusi besar dalam menjangkau audiens secara luas, namun temuan ini juga menunjukkan pentingnya pendalaman riset untuk mengurai sejauh mana peran media memengaruhi perubahan perilaku dalam skala besar.

Dari pelaksanaan hingga 2025, SIGAP menunjukkan bahwa perubahan perilaku kesehatan keluarga membutuhkan kombinasi penguatan sistem kesehatan, pendekatan personal melalui kader, pelibatan ayah, serta dukungan media dan digital secara konsisten.

Pendekatan kolaboratif ini menjadi salah satu contoh praktik baik bagaimana pemerintah dan sektor swasta dapat bersinergi memperkuat layanan kesehatan primer sekaligus mendorong perubahan nyata di tingkat rumah tangga keluarga Indonesia.

 

(*)