Pola Serangan AS ke Iran Picu Dugaan Persiapan Operasi Darat

Sejumlah pakar menilai kesiapan militer AS dan respons Iran terhadap kemungkinan operasi darat, dari serangan terbatas hingga invasi penuh.

Diterbitkan 22 Juli 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Lebih dari 50.000 tentara Amerika Serikat (AS) kini dikerahkan di berbagai wilayah Asia Barat. Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Minggu menyebut pasukan tersebut berada dalam kondisi "sangat waspada, fokus, mematikan, dan siap".

Pengumuman itu muncul lebih dari sebulan setelah Teheran dan Washington menandatangani memorandum pada 18 Juni untuk mengakhiri perang AS terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Namun, jeda pertempuran hanya berlangsung singkat.

AS kembali menyerang Iran pada 8 Juli. Teheran membalas dengan menggempur pangkalan-pangkalan AS di kawasan. Sehari kemudian, Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata berakhir.

Sejak itu, menurut laporan Al Mayadeen, sasaran operasi militer AS mulai meluas. Serangan yang semula berfokus pada pertahanan udara dan kekuatan maritim Iran kini juga menyasar infrastruktur transportasi serta unit militer di wilayah selatan.

Perubahan tersebut memunculkan pertanyaan apakah Washington sedang menyiapkan operasi yang lebih besar daripada sekadar membuka kembali Selat Hormuz.

Pola Sasaran Mulai Berubah

Pada 16 dan 17 Juli, AS menyerang tiga jembatan, sebuah terowongan jalan raya, dan stasiun kereta api di Bandar Khamir, Provinsi Hormozgan.

Para pengamat menilai serangan itu bertujuan memutus jalur darat yang menghubungkan Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran, dengan wilayah tengah negara tersebut dan Teheran.

Menara pengendali lalu lintas maritim di Chabahar juga diserang. Kerusakannya disebut terlihat dalam citra satelit. Sebuah bangunan pelabuhan di Sarkhur Tahruyi serta Bandara Iranshahr turut menjadi sasaran.

AS juga menggempur posisi Divisi Lapis Baja ke-88 Iran di Sistan dan Baluchestan serta Divisi Lapis Baja ke-92 di Khuzestan. Serangan tersebut dapat menghambat kemampuan Iran memindahkan pasukan dan pasokan di wilayah selatan.

Pola ini berbeda dari gelombang serangan pada 7 dan 8 Juli yang masih berfokus pada pertahanan udara, radar pesisir, persenjataan antikapal, dan aset angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Perluasan sasaran pada pertengahan Juli dinilai sebagai upaya melemahkan kemampuan Iran menggerakkan pasukan dan logistik sebelum kemungkinan pengerahan pasukan darat.

 

Menekan Militer dan Ekonomi Iran

Penulis dan analis politik Saeed Shaverdi menilai serangan AS tidak hanya ditujukan untuk melemahkan militer Iran, tetapi juga perekonomiannya.

Ia menunjuk empat provinsi yang paling banyak diserang, yakni Khuzestan, salah satu wilayah utama penghasil minyak dan gas; Bushehr, termasuk Assaluyeh; Hormozgan; serta Sistan dan Baluchestan.

Pelabuhan-pelabuhan terbesar Iran berada di wilayah tersebut. Dari sana, Iran mengekspor minyak dan komoditas nonmigas sekaligus mengimpor berbagai barang dari luar negeri.

Menurut Shaverdi, keempat provinsi itu telah digempur selama sekitar sepuluh hari. Serangan juga meluas ke wilayah lain, termasuk Yazd.

Ia menilai AS menganggap blokade laut saja tidak cukup karena Iran masih dapat menggunakan jalur alternatif. Karena itu, Washington diduga berusaha memutus jalur penghubung antara provinsi-provinsi selatan dan wilayah Iran lainnya.

Dua Kemungkinan Tujuan AS

Jurnalis dan analis Lebanon Ali Fneish mengatakan terdapat dua kemungkinan tujuan operasi AS dan keduanya dapat dijalankan bersamaan.

Pertama, Washington ingin menekan Iran agar melepaskan kendalinya atas pelayaran di Selat Hormuz. Kedua, serangan tersebut mungkin dimaksudkan untuk membuka jalan bagi operasi darat di Iran selatan dan pendudukan pulau-pulau tertentu.

Pakar kebijakan keamanan Iran Hamidreza Azizi juga menilai AS mungkin menganggap penguasaan pesisir selatan Iran sebagai satu-satunya solusi jangka panjang terhadap masalah Selat Hormuz.

Ia menunjuk serangan terhadap jembatan, jalur kereta api, bandara, truk pengangkut bahan bakar di Bandar Abbas, serta divisi-divisi lapis baja sebagai tanda adanya upaya mempermudah pengerahan pasukan darat.

Pakar hubungan internasional Mostafa Khoshcheshm bahkan berpendapat bahwa AS akan mengupayakan gencatan senjata sementara untuk mempersiapkan invasi darat.

Menurutnya, Trump tetap bertekad melancarkan serangan darat dan laut karena dua putaran perang sebelumnya tidak membuahkan hasil.

Khoshcheshm menunjuk penumpukan kekuatan militer AS di Kuwait sebagai tanda bahwa persiapan tersebut telah berlangsung. Ia juga menilai semakin besarnya keterlibatan negara-negara Arab Teluk dalam mendukung AS turut menjelaskan mengapa persiapan operasi dilakukan di wilayah mereka.

 

Iran Berupaya Menggagalkan Persiapan Militer AS

Pensiunan Brigadir Jenderal Ali Abi Raad menilai Iran telah bertindak dengan asumsi bahwa operasi darat sedang dipersiapkan.

Menurutnya, pasukan Iran sengaja menyerang lokasi pemusatan tentara AS yang dapat dilibatkan dalam operasi tersebut.

Serangan terhadap Camp Buehring di Kuwait, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai pembalasan, tetapi juga sebagai upaya memutus jalur logistik pasukan AS antara kawasan Teluk dan Irak.

Abi Raad juga mengatakan persediaan rudal pencegat Patriot dan Iron Dome milik AS menipis, sehingga rudal Iran lebih mudah mencapai sasaran.

Serangan terhadap Pelabuhan Fujairah, yang digunakan untuk mengisi bahan bakar kapal-kapal Angkatan Laut AS, dinilai sebagai tekanan terhadap jaringan logistik Washington.

Meski Trump mengklaim kemampuan Iran telah dihancurkan, Abi Raad mengatakan Teheran tetap menguasai Selat Hormuz.

Shaverdi menambahkan bahwa IRGC menyerang sasaran-sasaran pendukung operasi AS dengan rudal balistik dan drone, sedangkan militer reguler Iran lebih banyak mengandalkan drone.

Ia tidak menutup kemungkinan AS sedang membuka jalan bagi operasi darat. Namun, menurutnya, operasi semacam itu akan menghadapi kesulitan besar dan memiliki peluang keberhasilan yang sangat kecil.

Invasi Penuh Membutuhkan Jauh Lebih Banyak Pasukan

Jumlah pasukan AS saat ini disebut belum mendukung invasi penuh terhadap Iran.

Dengan menggunakan patokan 20 personel keamanan untuk setiap 1.000 penduduk, pendudukan Iran yang berpenduduk sekitar 88 juta jiwa akan membutuhkan sekitar 1,76 juta tentara. Jumlah itu lebih besar daripada seluruh personel aktif militer AS.

Bahkan operasi terbatas di pesisir Iran dan Khuzestan diperkirakan membutuhkan 250.000 hingga 400.000 tentara, atau lima hingga delapan kali lipat dari sekitar 50.000 personel AS yang kini ditempatkan di kawasan. Sebagian besar dari mereka juga bukan pasukan tempur darat.

Sebagai perbandingan, AS mengerahkan sekitar 170.000 tentara ketika menyerbu Irak pada 2003.

Iran hampir empat kali lebih luas, berpenduduk lebih dari tiga kali lipat, memiliki garis pantai selatan sepanjang 1.800 kilometer, serta terlindungi Pegunungan Zagros di jalur serangan dari arah barat dan selatan.

Irak saat itu juga memiliki medan yang lebih mudah dan militer yang telah dilemahkan oleh sanksi serta perang sebelumnya. Iran tidak memberikan keuntungan serupa.

 

Operasi Terbatas Tetap Mungkin

Pilihan yang lebih kecil, seperti merebut Pulau Kharg atau pulau-pulau di sekitar Selat Hormuz, pernah dibicarakan.

Namun, sejarah menunjukkan Iran mampu mempertahankan ekspor minyak meski Kharg berulang kali dibombardir Irak pada 1984 hingga 1988. Saat itu, Iran mengalihkan kapal-kapal tanker ke Pulau Larak.

Setiap upaya perebutan pada masa kini juga akan menghadapi pertahanan kuat, ancaman rudal dari Bushehr, dan risiko balasan yang lebih luas.

Iran kemungkinan akan menganggap setiap serangan darat ke wilayahnya, termasuk pulau lepas pantai, sebagai pelanggaran garis merah.

Teheran sendiri menyatakan siap menghadapi kemungkinan invasi darat AS. Ketika ditanya apakah Iran mengkhawatirkan skenario tersebut, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menjawab, "Tidak, kami menunggu mereka."

Ia mengatakan Iran yakin mampu menghadapi pasukan AS dan memperingatkan bahwa pengerahan pasukan darat akan menjadi "bencana besar" bagi Washington.

Belum ada bukti bahwa invasi darat AS akan segera dilakukan. Namun, sasaran-sasaran yang dihantam menunjukkan bahwa kemungkinan operasi terbatas di pesisir selatan Iran atau di pulau-pulau sekitarnya belum dapat dikesampingkan.