Israel-Hizbullah Sepakati Gencatan Senjata

Meski Israel dan Hizbullah sepakat gencatan senjata, sejumlah bentrokan masih terjadi.

Diterbitkan 20 Juni 2026, 10:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beirut - Israel dan kelompok Hizbullah dilaporkan telah menyepakati gencatan senjata menyusul eskalasi pertempuran di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya 47 orang. Kesepakatan tersebut dikonfirmasi seorang pejabat Amerika Serikat (AS), meski bentrokan dilaporkan masih terjadi setelah gencatan senjata mulai berlaku.

Menurut laporan BBC, Jumat (19/6/2026), kesepakatan terbaru itu dicapai di tengah kekhawatiran bahwa pertempuran antara Israel dan Hizbullah dapat menggagalkan nota kesepahaman (MoU) damai antara AS dan Iran yang sebelumnya diumumkan Presiden Donald Trump.

Militer Israel mengonfirmasi gencatan senjata telah berlaku. Namun, juru bicara militer Israel Effie Defrin menegaskan pasukannya tetap akan mengambil tindakan terhadap setiap ancaman yang dianggap membahayakan.

"Kami akan terus menghilangkan ancaman langsung, merespons setiap pelanggaran yang dilakukan Hizbullah, dan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi warga sipil kami," kata Defrin, dikutip BBC dari Sabtu (20/6).

Di sisi lain, Hizbullah belum secara resmi mengumumkan persetujuannya terhadap gencatan senjata. Meski demikian, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sheikh Naim Qassem menyatakan upaya untuk menghancurkan kelompok tersebut telah gagal.

"Proyek untuk melenyapkan Hizbullah telah gagal, dan Israel akan mundur dari setiap jengkal tanah kami," ujar Qassem.

Meski gencatan senjata diumumkan mulai berlaku pukul 16.00 waktu setempat, petugas penyelamat di Kota Nabatieh mengatakan sedikitnya 12 serangan udara masih terjadi setelah waktu tersebut.

Perkembangan ini menimbulkan keraguan terhadap efektivitas nota kesepahaman AS-Iran yang juga mencakup penghentian konflik di Lebanon. Pemerintah Iran menuding Presiden Donald Trump gagal menahan Israel agar mematuhi kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Israel menginginkan perang berkepanjangan dan menegaskan setiap pelanggaran terhadap isi nota kesepahaman akan menjadi tanggung jawab Amerika Serikat.

"Setiap pelanggaran terhadap komitmen dalam nota kesepahaman akan dianggap sebagai tanggung jawab AS," kata Araghchi.

Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengeluarkan pernyataan keras setelah empat tentara Israel tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan.

"Lebanon harus terbakar. Untuk setiap air mata ibu di Israel, seribu ibu di Lebanon harus menangis," ujarnya.

Sebelumnya, Hizbullah mengklaim berhasil menyergap pasukan Israel di Lebanon selatan. Kelompok tersebut menyatakan telah menghancurkan tiga tank Israel menggunakan rudal antitank berpemandu serta menyerang pasukan Israel dengan roket dan artileri. Serangan itu dilaporkan menewaskan empat tentara Israel, termasuk seorang komandan batalion.

Eskalasi terbaru menunjukkan situasi di Lebanon masih sangat rapuh meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan. Baik Israel maupun Hizbullah sama-sama menyatakan akan terus merespons setiap ancaman yang mereka hadapi, sehingga berpotensi memicu bentrokan baru di kawasan.