Penculikan Bermotif Kripto di Prancis: Ibu dan Anak Berhasil Diselamatkan Warga Sekitar

Pelaku penculikan bermotif kripto ini telah ditangkap.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 17:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Sebuah foto yang tidak pernah ingin diterima siapa pun menjadi awal terungkapnya kasus penculikan seorang perempuan aparat penegak hukum berusia 35 tahun di Prancis. Pasangan korban menemukan foto tersebut di ponsel yang disertai ancaman tegas: bayarkan tebusan dalam bentuk mata uang kripto atau korban akan dimutilasi.

Peristiwa ini terjadi pekan lalu dan segera dilaporkan kepada polisi pada Kamis (5/2/2026) pagi oleh pasangan korban, yang diketahui merupakan rekanan di sebuah perusahaan rintisan dengan aktivitas di bidang kripto. Laporan tersebut, menurut otoritas setempat, memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan hingga 160 petugas dari berbagai lembaga.

Korban dan ibunya yang telah lanjut usia diketahui disekap selama sekitar 30 jam di sebuah garasi di wilayah Drome, Prancis selatan. Informasi ini dilaporkan oleh afiliasi CNN, BFMTV.

Kasus ini kembali menyoroti meningkatnya penculikan yang terkait dengan dunia kripto di Prancis dan sejumlah negara lain. Korban dalam kasus-kasus tersebut sering kali merupakan individu berprofil tinggi atau orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan industri kripto.

Di Amerika Serikat, pencarian juga masih berlangsung atas hilangnya Nancy Guthrie, 84 tahun, ibu dari pembawa acara "Today", Savannah Guthrie. Menurut laporan CNN, sejumlah catatan tebusan yang diduga meminta jutaan dolar dalam bentuk bitcoin telah diterima terkait kasus tersebut.

Dalam kasus di Prancis, sang aparat penegak hukum dan ibunya akhirnya berhasil melarikan diri tanpa membayar tebusan. Keduanya disekap di sebuah garasi di wilayah Bourg-les-Valence sebelum berhasil membebaskan diri dengan bantuan seorang tetangga. Jaksa Lyon, Thierry Dran, menjelaskan dalam konferensi pers pada Jumat (6/2) bahwa kedua korban memanfaatkan ketidakhadiran penculik untuk melepaskan diri.

"Mereka dapat memanfaatkan ketidakhadiran penculik untuk membebaskan diri dan meminta pertolongan, khususnya dengan memukul pintu garasi dengan keras," kata Dran seperti dikutip dari CNN. "Seorang tetangga yang mendengar suara tersebut kemudian datang dan membuka pintu, sehingga memungkinkan kedua korban melarikan diri."

Pria yang menemukan kedua perempuan itu mengatakan kepada media lokal bahwa mereka tampak sedikit kotor, namun sangat berterima kasih atas pertolongannya.

"Saya hendak mengambil mobil ketika mendengar perempuan-perempuan memukul dan berteriak. Saya membuka pintu dan dua perempuan keluar; mereka agak kotor," ujarnya kepada BFMTV.

Setelah berhasil melarikan diri, kedua korban segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Pada Minggu (8/2), menurut BFMTV, enam orang ditangkap terkait penculikan tersebut, termasuk seorang anak di bawah umur. Para tersangka utama berusia sekitar 20-an tahun dan ditangkap di Kota Lyon dan Chambery.

Kasus ini merupakan bagian dari rangkaian insiden penculikan yang melibatkan permintaan tebusan dalam bentuk mata uang kripto. Meski sebagian orang meyakini bahwa bitcoin dan mata uang kripto lainnya tidak dapat dilacak sehingga dianggap aman digunakan untuk permintaan tebusan, para ahli menilai anggapan tersebut keliru.

 

Kasus Penculikan Bermotif Kripto Lainnya

Renaud Lifchitz, konsultan keamanan senior bidang teknologi informasi asal Prancis, mengatakan kepada CNN tahun lalu bahwa mata uang kripto bekerja menggunakan sistem blockchain, yakni sistem pencatatan transaksi terbuka yang seluruh riwayat transaksinya dapat dilihat, dilacak, dan diaudit.

Pekan lalu, Juan Andres Guerrero-Saade, wakil presiden intelijen dan riset keamanan di perusahaan SentinelOne, juga menyatakan kepada CNN bahwa bitcoin merupakan salah satu mata uang yang paling mudah dilacak yang pernah ada.

Sebelumnya, pada Desember 2024, istri investor dan influencer kripto Stephane Winkel diculik dari rumah pasangan tersebut di Belgia. Ia berhasil diselamatkan setelah penculiknya mengalami kecelakaan mobil dalam pengejaran dramatis oleh polisi.

Sebulan kemudian, David Balland, salah satu pendiri perusahaan dompet kripto Ledger, diculik bersama istrinya dari rumah mereka di Prancis tengah. Sebelum pasangan itu dibebaskan, para pelaku mengirimkan video yang memperlihatkan jari Balland yang terpotong kepada rekan bisnisnya, Eric Larcheveque, sambil menuntut pembayaran tebusan.

Pada 2025, putri CEO platform kripto Prancis, Paymium, juga berhasil diselamatkan oleh warga yang melintas dari upaya penculikan di siang hari di Paris.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan pola penculikan dengan tuntutan tebusan kripto yang menyasar individu-individu yang memiliki keterkaitan dengan industri aset digital dan kini tengah menjadi perhatian serius aparat penegak hukum di berbagai negara.