Cerita Wanita China, Tinggalkan Kehidupan di Kota Demi Pindah ke Pulau Kecil Jadi Pemberi Pakan Ikan

Apa alasan di balik pilihan dari wanita asal China ini?

Diterbitkan 10 Februari 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Seorang wanita asal Beijing, China mengundurkan diri dari jabatannya sebagai manajer senior di perusahaan besar dan memilih bekerja di sebuah pulau tak berpenghuni di Laut China Timur dengan gaji jauh lebih rendah. Keputusan tersebut menarik perhatian luas dan memicu perbincangan hangat di media sosial Tiongkok.

Wanita bernama Yue Li, kelahiran 1980-an, kini bekerja sebagai inspektur kualitas di pangkalan pemberian pakan ikan di Pulau Dongzhai, sebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan oleh City Express setelah Yue membagikan pengalamannya secara daring.

Pulau Dongzhai dikelilingi oleh pulau-pulau kecil lain yang juga tidak berpenghuni. Pulau berpenghuni terdekat, Daishan, berjarak sekitar 40 kilometer. Dalam pekerjaannya, Yue bertanggung jawab memeriksa peralatan pemberian pakan ikan, mencatat suhu air dan kondisi gelombang laut, serta memantau pertumbuhan ikan, dikutip dari laman SCMP, Selasa (10/2/2026).

Sebelum mengambil pekerjaan tersebut pada pertengahan Desember lalu, Yue merupakan manajer senior di sebuah perusahaan pengembang properti besar di Beijing dan telah bekerja di sana selama hampir 20 tahun. Ia mengaku meninggalkan karier mapan itu karena tekanan kerja yang berat.

“Saya melakukan perjalanan bisnis selama sekitar 300 hari dalam setahun. Saat berada di Beijing, saya menghabiskan empat jam sehari untuk perjalanan pulang-pergi kantor. Kondisi fisik dan mental saya sudah berada di titik ekstrem,” ujar Yue.

Ia mengatakan mulai mempertanyakan pilihan hidupnya dan akhirnya tertarik pada lowongan kerja yang ditemuinya saat berkunjung ke Zhoushan, Provinsi Zhejiang. Pekerjaan tersebut menawarkan gaji 3.000 yuan per bulan (sekitar USD 430) dengan jadwal libur empat hari setiap dua bulan.

“Saya akan jauh dari hiruk pikuk kota. Saya bisa membaca buku, menikmati laut, dan melihat matahari terbenam,” katanya.

Namun, setelah sebulan tinggal di pulau tersebut, Yue mengakui bahwa kondisi hidupnya tidak mudah. Cuaca sering kali buruk, dengan badai dan hujan deras yang menyebabkan atap dapurnya bocor. Pada suatu waktu, angin mencapai Level 9 sehingga ia tidak dapat menyalakan api untuk memasak.

 

Hadapi Sejumlah Masalah

Pasokan kebutuhan sehari-hari hanya datang melalui kapal yang beroperasi tidak menentu. Selain itu, Yue juga harus menghadapi masalah tikus yang merajalela di pulau tersebut. Ia mengaku pasta giginya dicuri tikus sehari setelah tiba.

Meski demikian, Yue menyatakan tetap menikmati kehidupannya di pulau. Ia menghabiskan banyak waktu memancing dan menangkap kepiting, bahkan pernah menangkap 10 kepiting besar menggunakan perangkap. Hasil tangkapannya kerap ia bagikan di media sosial.

“Belut dan kepiting di sini sangat melimpah, lebih dari cukup untuk saya makan,” ujarnya dalam sebuah video.

Yue menyebut pengalaman hidup di pulau terpencil tersebut sebagai salah satu puncak dalam hidupnya. “Saya menemukan kebebasan dan kedamaian batin di lingkungan yang sederhana dan keras ini,” katanya.

Kisah Yue menuai beragam reaksi dari warganet. Banyak yang menyatakan kekaguman terhadap keberaniannya meninggalkan kehidupan kota yang mapan demi ketenangan. Sebagian lainnya bahkan bercanda ingin ikut tinggal di pulau tersebut demi bisa memancing bersama.

Fenomena ini kembali menyoroti meningkatnya kejenuhan terhadap tekanan kerja di kota-kota besar Tiongkok dan keinginan sebagian masyarakat untuk mencari gaya hidup alternatif yang lebih sederhana.