Lewat Teknologi, Nenek di China Bisa Lihat Wajah Mendiang Suami

Teknologi apa yang digunakan agar si nenek bisa melihat wajah suami?

Diterbitkan 01 Juli 2026, 19:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Seorang perempuan berusia 93 tahun di Provinsi Hunan, China, akhirnya dapat melihat kembali wajah mendiang suaminya yang gugur dalam perang lebih dari tujuh dekade lalu, setelah sebuah tim sukarelawan berhasil merekonstruksi potretnya menggunakan teknologi restorasi digital.

Zhao Cuifen, warga Kota Liuyang, menikah dengan Zhang Zhixin pada awal 1950-an. Tak lama setelah pernikahan mereka, Zhang bergabung dengan militer, dikutip dari laman SCMP, Rabu (1/7/2026).

Pada Juli 1953, ketika perundingan gencatan senjata Perang Korea mengalami kebuntuan, pasukan Kuomintang melancarkan serangan ke Pulau Dongshan di lepas pantai tenggara China. Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) mengerahkan pasukan tambahan, termasuk Zhang yang berasal dari Liuyang.

Setelah pertempuran selama 36 jam, PLA mengklaim berhasil mempertahankan pulau tersebut. Namun, lebih dari 1.200 tentaranya dilaporkan tewas atau terluka. Zhang menjadi salah satu korban tewas pada usia 20 tahun. Ia meninggal tanpa meninggalkan anak maupun foto dirinya.

Kepergian Zhang membuat Zhao larut dalam duka. Meski demikian, ia tetap merawat kedua mertuanya. Demi meringankan beban Zhao, orang tua Zhang kemudian menjodohkannya dengan sepupu mendiang suaminya.

Dari pernikahan keduanya, Zhao dikaruniai lima orang anak. Namun, menurut media lokal Liuyang Daily, ia tidak pernah melupakan suami pertamanya.

Harapan Zhao untuk kembali melihat wajah Zhang akhirnya terwujud setelah tim sukarelawan dari Universitas Teknologi Industri Nanjing, bekerja sama dengan pemerintah Provinsi Hunan, meluncurkan proyek restorasi potret para prajurit yang gugur di Pertempuran Pulau Dongshan.

Tim tersebut merekonstruksi wajah para prajurit menggunakan kombinasi ciri wajah anggota keluarga, catatan sejarah, kenangan keluarga, serta teknologi digital.

 

Momen Haru Memegang Potret Wajah Suami

Pada 24 Juni, empat potret hasil restorasi diserahkan kepada keluarga para prajurit di Liuyang, termasuk keluarga Zhang Zhixin.

Dalam rekaman yang beredar, Zhao tampak memegang potret suaminya sambil menatap wajah yang selama lebih dari 70 tahun hanya hidup dalam ingatannya. Ia kemudian menangis tersedu-sedu, memeluk bingkai foto, dan berlutut di depan dupa yang menyala.

Putri bungsu Zhao mengatakan ibunya dikenal sebagai sosok yang tegar. Menurutnya, momen itu baru kedua kalinya ia melihat sang ibu menangis.

Anak-anak Zhao juga mengaku tetap memanggil Zhang sebagai "Ayah Zhixin", meski bukan ayah kandung mereka.

"Mulai sekarang, Ayah Zhixin bukan lagi sekadar nama di dinding penghormatan para pahlawan. Kini kami bisa melihat wajahnya, menghormatinya, dan mengenangnya sebagai bagian dari keluarga," kata putri kedua Zhao.

Momen serupa juga dirasakan keluarga prajurit lain. Liu Xinfu, sepupu salah satu martir, tak kuasa menahan air mata saat pertama kali melihat potret kerabatnya.

"Saudaraku, setelah 73 tahun akhirnya kami bisa melihat wajahmu," ujarnya.

Perang Korea berlangsung pada 1950–1953 di tengah memanasnya Perang Dingin. China bergabung dalam konflik dengan mengirim Tentara Sukarelawan Rakyat untuk mendukung Korea Utara. Pemerintah China menyatakan lebih dari 197.000 tentaranya gugur selama perang tersebut, meski sejumlah lembaga internasional memiliki estimasi korban yang berbeda.