Proyek Siluman Pengendalian Banjir Bikin Rakyat Filipina Murka

Kemarahan rakyat Filipina diluapkan lewat berbagai aksi demonstrasi, termasuk yang akan digelar besok.

Diterbitkan 20 September 2025, 21:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Manila - Hampir USD 2 juta uang rakyat dihabiskan untuk sebuah proyek tanggul di Filipina. Proyek itu seharusnya menjadi benteng yang melindungi warga Plaridel, sebuah kota kecil di utara Manila. Namun ketika Menteri Pekerjaan Umum Vince Dizon datang berkunjung bulan ini, yang dia temukan hanyalah tanah gembur yang ditumpuk seadanya di tepi sungai.

Bagi warga, pemandangan itu bukanlah hal mengejutkan. Mereka sudah tahu sejak lama bahwa pekerjaan sebenarnya belum berjalan, meskipun pejabat pemerintah sudah lebih dulu mengumumkannya "selesai" setahun lalu.

Tanggul itu hanyalah satu dari lebih dari 100 proyek pengendalian banjir yang kini menjadi pusat sorotan—sebuah skandal korupsi besar yang mengguncang Filipina. Posisinya bahkan sudah mengguncang kursi pimpinan di kedua majelis Kongres. Namun, yang paling merasakan akibatnya adalah masyarakat kecil, mereka yang setiap hari hidup berdampingan dengan air yang meluap dari sungai-sungai di Bulacan.

Leo Francisco, seorang buruh bangunan berusia 35 tahun, tahu betul bagaimana rasanya.

"Kalau air tinggi, kami harus menggendong anak-anak ke sekolah," kisahnya di Desa Bulusan seperti dilansir CNA.

Di rumahnya, air bisa sampai setinggi paha. Di jalan, kadang hanya sebatas mata kaki, kadang naik hingga lutut. Dan itu bukan saat badai, melainkan hari-hari biasa.

Harapan mereka sempat tertuju pada proyek tanggul. Namun kenyataan berbicara lain: bangunan itu tidak pernah selesai.

"Pondasi tanggulnya terlalu dangkal. Air tetap saja masuk, bahkan di bagian yang sudah selesai dibangun," ujar Francisco, pasrah.

Di Plaridel, dua tukang batu terlihat mandi di dekat sisa bangunan tanggul yang hanya meninggalkan rangka besi terbuka. Uang rakyat yang dialokasikan untuk proyek itu, kata Menteri Dizon, jelas-jelas dicuri. Dia menyebut proyek itu sebagai "proyek siluman" lalu memecat pejabat utama pekerjaan umum distrik bersama dua staf lainnya.

Janji Marcos

Isu proyek infrastruktur siluman semakin membakar amarah publik sejak Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyinggungnya dalam pidato kenegaraan. Setelah berminggu-minggu banjir melanda dan merenggut korban jiwa, masyarakat semakin gelisah. Greenpeace memperkirakan, sejak 2023 sekitar USD 17,6 miliar dana proyek iklim telah digelapkan. Padahal dana itu seharusnya membantu warga di kawasan yang perlahan tenggelam karena tanahnya terus turun sementara laut kian naik.

Marcos sendiri turun langsung ke lapangan. Di sebuah desa bernama Frances, dia menggenggam campuran semen dari tanggul, lalu meremasnya dengan tangan kosong.

"Semen ini bisa hancur begitu saja. Mereka jelas mengurangi kualitasnya," katanya dengan nada marah.

Dia berjanji akan mengusut dan menghukum para pelakunya.

Namun bagi warga, janji itu belum cukup. Nelia de los Reyes Bernal, seorang tenaga kesehatan, menyebut tanggul di desanya tidak ada gunanya, penuh lubang. Dia bercerita anak-anak sekolah kini terpaksa memakai sepatu bot karet karena maraknya penyakit leptospirosis dan infeksi jamur di kaki.

"Pembangunan dimulai tahun lalu, tapi berhenti di tengah jalan. Katanya, dananya habis," ucap perempuan berusia 51 tahun itu, seraya menambahkan kini keluarganya harus memindahkan dapur ke lantai dua rumah karena bagian bawah tidak lagi bisa dipakai.

Demo Besar-besaran

Bagi sebagian warga, yang bersalah bukan hanya kontraktor. Elizabeth Abanilla, nenek 81 tahun dari Plaridel, menilai kesalahan juga ada di pejabat yang memberi dana.

"Mereka tidak seharusnya menyerahkan uang sebelum pekerjaan selesai. Keduanya sama-sama bersalah," tegasnya, meski tidak pernah mengikuti sidang terkait skandal korupsi ini karena tidak punya televisi.

Skandal dana publik memang bukan hal baru di Filipina. Namun sejarah juga mencatat, para politikus tingkat atas biasanya lolos dari hukuman berat meski terbukti korupsi.

Hari Minggu (21/9), ribuan orang diperkirakan turun ke jalan di Manila. Mereka menuntut keadilan, bahkan penjara bagi siapa pun yang terbukti terlibat dalam proyek siluman.

Namun bagi Francisco, buruh bangunan yang sudah terlalu lama hidup dalam banjir, mimpi seperti itu terlalu jauh.

"Yang penting, uangnya dikembalikan," imbuhnya. "Soal nasib mereka, biarlah Tuhan yang menentukan."