Sukses

Serangan Siber dari Pihak Asing Ancam Infrastruktur Pemerintahan Amerika Serikat

Liputan6.com, Washington DC - Menurut kepala intelijen Amerika Serikat (AS), Dan Coats, terjadi peningkatan ancaman serangan siber yang merusak infrastruktur penting Negeri Paman Sam. Ia mengatakan bahwa hampir 20 tahun pasca-serangan 11 September 2011, lampu peringatan akan serangan masif semacam itu kembali menyala. 

"Rusia, China, Iran, dan Korea Utara, setiap hari melancarkan serangan siber terhadap jaringan komputer lembaga pemerintah federal, negara bagian maupun lokal, serta perusahaan-perusahaan dan lembaga akademis Amerika," ujar Dan Coats, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia pada Senin (16/7/2018).

Dari keempat negara tersebut, menurut Coast, Rusia adalah yang paling agresif menyerang Amerika Serikat. Ia menyebut ancaman dari Negeri Beruang Merah telah berlanjut sejak berakhirnya Perang Dingin pada akhir dekade 1980-an. 

Pernyataan di atas disampaikan oleh Coast dalam sebuah agenda lembaga riset Hudson Institute, tidak lama setelah Departemen Kehakiman mendakwa 12 perwira intelijen Rusia atas tuduhan meretas komputer kampanye presiden Amerika Hillary Clinton pada pilpres 2016.

Dakwaan dan komentar Coats muncul beberapa hari sebelum Donald Trump bertemu Vladimir Putin dalam pertemuan bilateral pertama mereka di Helsinki, hari ini.

Coats mengibaratkan ancaman serangan siber sebagai "aktivitas mengkhawatirkan", yang dahulu sempat terlambat dideteksi oleh Amerika Serikat ketika Al-Qaeda melancarkan serangan teror maut, yang menghancurkan Menara Kembar World Trade Center di New York, 17 tahun lalu. 

"Sistem peringatan itu berkedip merah. Kini, hampir 20 tahun kemudian, saya dengan tegas menyatakan lampu peringatan itu kembali berkedip merah," ujarnya memperingatkan. 

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Tidak Mendeteksi Ancaman Sebelum Pilpres AS

Menurut Coast, sejauh ini, pemerintah Amerika Serikat tidak pernah mendeteksi ancaman serangan siber, sebelum munculnya dugaan Rusia mencampuri agenda pemilihan umum di seluruh tingkat pemerintahan di Negeri Paman Sam pada 2016 lalu. 

"Namun, kami (intelijen) sepenuhnya menyadari, tinggal tekan papan ketik, maka situasi yang sama akan berulang," Coats menambahkan.

Pada saat yang sama, ujar Coats, sebagian orang Rusia yang mencampuri kampanye presiden AS tahun 2016, kembali menggunakan akun bodong di media sosial dan sarana lain, untuk menyebar informasi dan propaganda palsu guna memicu perpecahan politik. 

"Orang-orang itu membuat akun media sosial baru, menyamar sebagai orang Amerika, dan kemudian menyebarkan isu-isu yang memecah belah persatuan," jelas Coast.

Adapun China, menurut Coast, juga memiliki ancaman serupa yang bertujuan mencuri rahasia militer dan industri, melalui alih teknologi terselubung. 

Artikel Selanjutnya
Banyak Warga AS Tak Bisa Jawab Tes Pengetahuan Sederhana Ini, Apa Itu?
Artikel Selanjutnya
Akhirnya, Donald Trump dan Vladimir Putin Bertatap Muka dalam KTT AS-Rusia