Sukses

Di Balik 'Ketenangan' Israel Hadapi Ancaman ISIS

Liputan6.com, Tel Aviv - Dalam sebuah rekaman terbaru, kelompok militan ISIS telah jelas-jelas mengancam Israel. Dalam bahasa Ibrani, militan itu mengirimkan ancaman bahwa 'tidak akan ada satupun Yahudi yang hidup di Yerusalem'. Rekaman tersebut beredar di tengah meningkatnya ketegangan terbaru Israel-Palestina.

Tapi video yang dirilis pada Jumat, sejauh ini gagal untuk menarik perhatian pejabat Israel. Padahal sebelumnya, mereka sangat keras dengan keberadaan ISIS.

Para pejabat Israel sekarang terasa mengalihkan perhatian mereka pada gelombang mematikan dalam kekerasan Israel-Palestina, terutama di Yerusalem dan Tepi Barat. Rupanya, bagi Israel, ancaman Palestina lebih mengkhawatirkan dibanding ISIS itu sendiri.

Hal ini diungkapkan oleh seorang peneliti dari Senior Research Associate di Arab Reformasi Initiative yang berbasis di London, Lina Khatib.

"Bagi Israel, eskalasi dengan Palestina, jauh lebih mengkhawatirkan dibanding ISIS di negara tetangga Suriah," ujar Khatib kepada Al Arabiya News, Sabtu 24 Oktober.

Sepanjang tahun 2015, Israel telah membunyikan alarm bahwa ISIS telah mendekati Utara dan perbatasan selatan Israel. Militan ISIS banyak menyamar sebagai migran ilegal di Eropa. Hal itu terlihat dalam rilis video kampanye politik ISIS yang menunjukkan laki-laki di sebuah SUV melambaikan bendera organisasi mematikan itu menanyakan arah ke Yerusalem.

Namun, sikap pejabat Israel terbaru, bukanlah fokus terhadap ancaman ISIS kepada negaranya. Hal itu terlihat dari pernyataan Perdana Menteri Isrel Benjamin Netanyahu yang lagi-lagi tentang anti-Palestina yang ia kemukakan beberapa waktu lalu di depan Sidang Umum PBB.

Pernyataan paling hangat dan paling kontroversial adalah Palestina bertanggung jawab langsung atas Holocaust.

2 dari 2 halaman

Israel sama dengan ISIS?

Ketika ISIS disebut-sebut dalam minggu-minggu terakhir, kebanyakan mereka mentargetkan untuk menyerang menargetkan Hamas, Iran atau Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Sekarang, ISIS muncul untuk memposisikan diri sebagai pendukung rakyat Palestina, kendati sebelumnya telah mengancam untuk 'menghapus' Hamas di Gaza dalam sebuah video yang dirilis Juli lalu.

Dilaporkan setidaknya selusin serangan terhadap Hamas di Gaza oleh simpatisan ISIS yang terjadi tahun ini termasuk empat insiden pada bulan Mei. Satu bom menghantam sebuah pos pemeriksaan keamanan Hamas di Gaza utara. Beberapa hari kemudian, bom meledak di tempat sampah. Lalu, sebuah ledakan berkekuatan tinggi terjadi di sebelah Kota Gaza. Juga, ledakan kecil ditargetkan ke toko ayam milik pejabat intelijen Hamas, Saber Siyam.

Pada hari ISIS mengancam Hamas, menteri Intelijen Israel, Israel Katz, mengatakan, "Ada 'kerjasama' antara Hamas dan ISIS di ranah penyelundupan senjata dan serangan teroris dan di saat yang sama, di Gaza, ISIS telah mencemoohkan Hamas. Tapi mereka memiliki hal yang sama, yaitu membenci orang-orang Yahudi, di Israel atau di luar negeri."

Pernyataan para pejabat Israel telah berulang kali mengucapkan bahwa ada persamaan Hamas dan ISIS.

Lina Khatib kembali menegaskan, Israel-Hamas-ISIS adalah sebuah segitiga kebencian.

"Pemimpin ISIS sering menyatakan bahwa pertempuran memerangi murtad Sunni adalah prioritas dibanding memerangi Yahudi. Ancaman militan ini diarahkan kepada Hamas dan Otoritas Palestina," ujar Khatib.

"Dengan Israel mengambil sikap bertentangan dengan Otoritas Palestina serta antagonisme yang terus- menerus menuju Hamas, Israel pantas disejajarkan dengan posisi ISIS," tambah Khatib.

ISIS Manfaatkan Panasnya Israel Vs Palestina

Namun, bagi beberapa ahli Timur Tengah, ISIS menggunakan kesempatannya untuk memberi bensin pada api untuk hubungan Israel dan Palestina.

"ISIS berusaha untuk menggunakan situasi memburuknya kekerasan Israel-Palestina untuk meningkatkan visibilitas di arena tersebut," ujar sejarawan Timur Tengah Olivia L. Sohns kepada Al Arabiya News setelah melihat rilis ISIS video terbaru.

Sohns mengatakan kelompok militan "berusaha untuk memposisikan diri sebagai juara dunia Muslim Sunni dan sangat memusuhi Barat dan Israel, yang dianggap transplantasi Barat di Timur Tengah."

Sorotan Israel terhadap ISIS kini telah redup dengan kekerasan yang meningkat di Yerusalem dan Tepi Barat, yang menewaskan setidaknya 51 warga Palestina dan sembilan warga Israel dalam satu bulan terakhir.

"Perhatian utama Israel saat ini adalah untuk menstabilkan situasi dengan Palestina," kata Dr. Alon Ben Meir, seorang akademisi Amerika Serikat yang mengkhususkan diri dalam perundingan perdamaian antara Israel dan negara-negara Arab.

"Israel memahami dengan baik bahwa mereka harus berurusan, sekarang dan di masa depan, dengan Palestina, dan juga memahami bahwa ISIS tidak akan bertahan dalam jangka panjang, sedangkan konflik Palestina akan tetap hadir sampai masalah diselesaikan," ujar Meir.

"Dan Netanyahu tahu semua, bahwa eskalasi lebih lanjut hanya akan memusuhi masyarakat internasional dan meningkatkan tekanan pada dirinya dalam konflik," tambah Ben Meir.

Tapi dalam menanggapi klaim bahwa ISIS dan Israel "mengejar tujuan yang sama" di Timur Tengah, Ben Meir mengatakan: "Saya tidak percaya bahwa Anda akan menemukan Israel, dalam bentuk mendukung ISIS atau berjuang di sisi yang sama."

Analis Timur Tengah James Dorsey, yang telah banyak menulis tentang konflik Israel-Palestina, setuju dengan pemikiran Ben Meir.

"Saya pikir terlalu jauh untuk menyimpulkan bahwa Israel dan ISIS memiliki kesamaan, terutama dalam penentangan mereka terhadap Hamas.

"Jelas, gelombang protes dan serangan Palestina adalah kekhawatiran paling mendesak dari Israel ... Karena itu, hal tersebut tidak berarti bahwa Israel adalah mengambil matanya dari fokus di Suriah. ISIS sudah terlalu menimbulkan ancaman serius, biarpun Israel tidak tidak pedulu pada masalah itu, "tambah Dorsey.

Hal itu juga kemungkinan bahwa kekhawatiran Israel atas ISIS telah mengambil kursi belakang menyusul keputusan sekutu Rusia untuk melaksanakan serangan terhadap sasaran militan di Suriah.

Namun, respon Tel Aviv untuk ancaman ISIS terbaru masih harus dilihat. Kendati demikian, juru bicara kementerian dalam negeri Israel ketika dihubungi oleh Al Arabiya News tidak menanggapi permintaan untuk komentar pada kekhawatiran keamanan Israel oleh ISIS. (Rie/Mut)