7 Tanda Orang Belum Dewasa Secara Emosional, dari Sulit Mengakui Kesalahan hingga Egois

Kenali 7 tanda orang belum dewasa secara emosional, mulai dari sulit mengendalikan emosi hingga menyalahkan orang lain, serta cara mengembangkan kedewasaan diri

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 16:20 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tanda orang belum dewasa secara emosional dapat terlihat dari cara seseorang menghadapi konflik, menerima kritik, mengendalikan emosi, hingga memperlakukan orang lain. Kedewasaan tidak hanya berkaitan dengan usia, pendidikan, atau pengalaman hidup, tetapi juga kemampuan memahami perasaan sendiri dan menghargai perasaan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku tersebut bisa muncul dalam hubungan pertemanan, keluarga, percintaan, maupun lingkungan kerja. Seseorang mungkin mudah tersinggung ketika diberi masukan, menyalahkan orang lain saat melakukan kesalahan, atau memilih menghindari percakapan yang tidak nyaman. Jika terjadi berulang kali, pola ini dapat menghambat komunikasi dan merusak kepercayaan.

Meski demikian, satu atau dua perilaku tertentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang belum dewasa secara emosional. Kondisi stres, pengalaman masa lalu, dan kesulitan menghadapi situasi tertentu juga dapat memengaruhi respons seseorang. Karena itu, penting untuk melihat pola perilaku secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (27/10/2026).

1. Sulit Mengendalikan Emosi dan Bereaksi Berlebihan

Salah satu tanda orang belum dewasa secara emosional adalah kesulitan mengatur reaksi ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan. Persoalan kecil bisa memicu kemarahan besar, kritik sederhana terasa seperti serangan pribadi, atau perbedaan pendapat berakhir dengan pertengkaran panjang.

Menurut penjelasan WebMD dalam artikel What Is Emotional Immaturity, kematangan emosional berkaitan dengan kemampuan mengendalikan dan mengekspresikan emosi secara tepat. Sebaliknya, ketidakmatangan emosional dapat terlihat ketika seseorang mengungkapkan perasaan tanpa kendali atau dengan reaksi yang tidak sebanding dengan situasi.

Sebagai contoh, seseorang mungkin langsung membentak pasangan karena pesan singkatnya tidak segera dibalas. Di lingkungan kerja, ia bisa merasa dipermalukan ketika atasan memberikan koreksi terhadap hasil pekerjaannya. Alih-alih mencoba memahami persoalan, ia justru merespons dengan kemarahan atau sikap defensif.

Reaksi emosional yang kuat tidak selalu berarti seseorang belum dewasa. Setiap orang bisa kehilangan kesabaran ketika sedang lelah, tertekan, atau menghadapi masalah berat. Hal yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering reaksi tersebut muncul, bagaimana dampaknya terhadap orang lain, dan apakah orang tersebut berusaha memperbaiki perilakunya setelah situasi mereda.

Kedewasaan emosional bukan berarti harus selalu tenang atau menekan perasaan. Kemampuan ini justru terlihat ketika seseorang mampu mengenali emosinya, mengambil jeda sebelum bertindak, dan menyampaikan ketidaknyamanan tanpa menyakiti orang lain.

2. Selalu Menyalahkan Orang Lain dan Sulit Mengakui Kesalahan

Orang yang belum matang secara emosional sering kali kesulitan mengakui perannya dalam suatu masalah. Ketika terjadi perselisihan, ia lebih mudah mencari pihak yang bisa disalahkan daripada mengevaluasi tindakan sendiri. Bahkan, ketika bukti menunjukkan bahwa ia melakukan kesalahan, ia mungkin tetap berusaha membenarkan perilakunya.

Wellness Space Counseling, dalam artikel A Closer Look: Identifying Signs of Emotional Immaturity, menjelaskan bahwa kesulitan bertanggung jawab merupakan salah satu ciri ketidakmatangan emosional. Kebiasaan mengalihkan kesalahan dapat menghambat perkembangan pribadi sekaligus merusak kepercayaan dalam hubungan.

Contohnya, seseorang terlambat menghadiri janji temu, tetapi justru menyalahkan orang lain karena dianggap tidak mengingatkannya. Dalam hubungan romantis, ia mungkin mengatakan bahwa pasangannya terlalu sensitif setiap kali perilakunya menimbulkan kekecewaan. Akibatnya, persoalan utama tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Orang yang matang secara emosional juga bisa melakukan kesalahan atau bersikap defensif ketika dikritik. Perbedaannya terletak pada kesediaan untuk mengevaluasi diri setelah emosi mereda. Ia mampu mengakui kekeliruan, meminta maaf dengan tulus, dan berusaha tidak mengulangi tindakan yang sama.

Mengakui kesalahan bukan berarti harus menerima seluruh tuduhan orang lain. Kedewasaan justru membutuhkan kemampuan membedakan kritik yang masuk akal, kesalahpahaman, dan perlakuan yang tidak adil. Dengan begitu, seseorang dapat bertanggung jawab atas tindakannya tanpa harus terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

3. Menghindari Konflik dan Percakapan yang Tidak Nyaman

Tidak semua orang nyaman menghadapi konflik. Namun, salah satu tanda orang belum dewasa secara emosional adalah kebiasaan menghindari pembicaraan penting tanpa berusaha menyelesaikan persoalan yang mendasarinya.

Ketika merasa tersinggung, misalnya, seseorang memilih mendiamkan pasangannya selama berhari-hari tanpa menjelaskan penyebabnya. Dalam pertemanan, ia mungkin menjauh secara tiba-tiba daripada mengungkapkan bahwa ada perkataan atau tindakan yang membuatnya kecewa. Di tempat kerja, ia bisa memendam ketidakpuasan sampai akhirnya meledak dalam bentuk pertengkaran.

Menurut Wellness Space Counseling, kesulitan menyelesaikan konflik dapat muncul dalam dua bentuk, yaitu menghindari persoalan sepenuhnya atau meresponsnya dengan permusuhan. Kedua pola tersebut berpotensi menghambat komunikasi dan membuat masalah terus berulang.

Mengambil waktu untuk menenangkan diri sebenarnya merupakan tindakan yang sehat. Seseorang tidak harus langsung membicarakan masalah ketika sedang marah. Namun, ada perbedaan antara mengambil jeda untuk mengatur emosi dan menghindari tanggung jawab untuk menyelesaikan konflik.

Orang yang lebih matang secara emosional biasanya bersedia kembali membicarakan persoalan setelah dirinya tenang. Ia berusaha mendengarkan sudut pandang pihak lain, menjelaskan perasaannya, dan mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

Kemampuan tersebut penting karena konflik merupakan bagian wajar dari hubungan antarmanusia. Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah mengalami perselisihan, melainkan hubungan yang memungkinkan setiap pihak menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus saling merendahkan.

4. Sulit Memahami Perasaan dan Kebutuhan Orang Lain

Kurangnya empati juga dapat menjadi salah satu tanda ketidakmatangan emosional. Seseorang mungkin terlalu berfokus pada keinginan sendiri sehingga kesulitan memahami bahwa orang lain memiliki perasaan, kebutuhan, dan sudut pandang yang berbeda.

WebMD menjelaskan bahwa kematangan emosional melibatkan kemampuan mempertimbangkan dampak tindakan terhadap orang lain. Sebaliknya, orang yang belum mengembangkan keterampilan tersebut dapat lebih mengutamakan kepentingannya sendiri dan kurang bersedia mempertimbangkan pendapat orang lain.

Perilaku ini bisa terlihat ketika seseorang terus mendominasi percakapan, mengharapkan orang lain selalu tersedia untuk membantunya, atau menganggap kebutuhan pribadinya harus didahulukan. Ia mungkin menuntut pengertian ketika sedang menghadapi masalah, tetapi tidak menunjukkan perhatian yang sama ketika orang lain membutuhkan dukungan.

Dalam hubungan pertemanan, misalnya, ia selalu membicarakan persoalannya sendiri, tetapi segera mengganti topik ketika temannya mulai bercerita. Dalam keluarga, ia mengharapkan anggota keluarga memahami kesibukannya, tetapi tidak mau menyesuaikan diri ketika orang lain memiliki keterbatasan waktu.

Meski demikian, seseorang yang sesekali terlihat egois belum tentu tidak memiliki empati. Kelelahan, tekanan pekerjaan, dan persoalan pribadi dapat membuat seseorang untuk sementara waktu lebih berfokus pada dirinya sendiri.

Hal yang lebih penting adalah apakah ia bersedia mendengarkan, mengakui perasaan orang lain, dan menyesuaikan perilakunya ketika menyadari bahwa tindakannya menyakiti seseorang.

Empati tidak mengharuskan seseorang selalu mengalah atau mengorbankan kebutuhan pribadi. Kedewasaan emosional justru melibatkan keseimbangan antara menghargai diri sendiri dan memperlakukan orang lain dengan hormat.

5. Bertindak Impulsif Tanpa Memikirkan Konsekuensi

Orang yang belum matang secara emosional dapat mengalami kesulitan mempertimbangkan akibat dari keputusan yang diambil. Ia cenderung mengikuti dorongan sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.

WebMD menyebut perilaku impulsif sebagai salah satu karakteristik yang dapat ditemukan pada orang dewasa dengan ketidakmatangan emosional. Perilaku tersebut dapat berupa berbicara tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, bertindak secara tidak terduga, atau mengambil keputusan tanpa memperhitungkan konsekuensinya.

Contohnya, seseorang melontarkan kata-kata kasar ketika sedang marah, kemudian menyesal setelah melihat dampaknya terhadap hubungan. Dalam urusan keuangan, ia mungkin membeli barang mahal demi memenuhi keinginan sesaat meskipun mengetahui bahwa anggarannya terbatas.

Pola serupa juga bisa muncul ketika seseorang mudah membatalkan janji, mengambil keputusan penting tanpa pertimbangan memadai, atau meninggalkan tanggung jawab ketika mulai merasa tidak nyaman.

Perilaku impulsif tidak selalu menunjukkan ketidakmatangan emosional. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Karena itu, penilaiannya perlu mempertimbangkan konteks, frekuensi, dan dampak perilaku tersebut.

Untuk mengembangkan kedewasaan, seseorang dapat membiasakan diri berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan. Ia bisa bertanya kepada diri sendiri apakah tindakan tersebut benar-benar diperlukan, apa akibatnya dalam jangka panjang, dan apakah ada pilihan lain yang lebih bijaksana.

Kebiasaan sederhana ini membantu seseorang membedakan antara keinginan sesaat dan kebutuhan yang benar-benar penting.

6. Sulit Menerima Kritik dan Selalu Membutuhkan Pembenaran

Kritik dapat terasa tidak menyenangkan, terutama ketika berkaitan dengan sesuatu yang dianggap penting. Namun, orang yang matang secara emosional umumnya berusaha menilai masukan berdasarkan isinya, bukan semata-mata menganggapnya sebagai serangan terhadap harga diri.

Sebaliknya, orang yang belum matang secara emosional mungkin langsung tersinggung, membantah tanpa mendengarkan, atau menganggap pemberi kritik berniat menjatuhkannya. Ia bisa mengalihkan pembicaraan dengan mengungkit kesalahan orang lain agar tidak perlu membahas kekurangannya sendiri.

AMFM Mental Health Treatment dalam artikel Narcissism vs Emotional Immaturity: Differences & How to Tell Them Apart menjelaskan bahwa orang dengan ketidakmatangan emosional dapat bersikap defensif ketika menerima umpan balik. Meski begitu, mereka masih dapat belajar mengakui kesalahan dan memperbaiki perilaku, terutama ketika mengembangkan kesadaran diri dan memperoleh dukungan yang sesuai.

Sebagai contoh, seorang rekan kerja mendapat masukan bahwa komunikasinya kurang jelas. Alih-alih meminta contoh atau mencoba memperbaiki cara penyampaian, ia justru menuduh rekan lainnya terlalu banyak menuntut.

Pola ini dapat menghambat perkembangan karena seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar dari pengalaman. Ia juga berisiko mengulangi kesalahan yang sama karena terlalu sibuk mempertahankan citra diri.

Menerima kritik bukan berarti menyetujui semua pendapat orang lain. Sikap yang lebih dewasa adalah mendengarkan, mempertimbangkan kebenarannya, lalu menentukan bagian mana yang perlu diperbaiki. Jika kritik disampaikan dengan cara merendahkan, seseorang tetap berhak menetapkan batasan tanpa mengabaikan isi masukan yang mungkin bermanfaat.

7. Terlalu Bergantung pada Validasi dan Keputusan Orang Lain

Membutuhkan dukungan dari orang lain merupakan hal yang wajar. Hubungan manusia memang melibatkan kebutuhan akan perhatian, penerimaan, dan bantuan. Namun, ketergantungan yang berlebihan dapat menjadi persoalan ketika seseorang selalu membutuhkan persetujuan orang lain untuk merasa berharga atau mengambil keputusan sederhana.

Wellness Space Counseling menjelaskan bahwa ketergantungan pada validasi emosional maupun pengambilan keputusan dapat mencerminkan kesulitan mengembangkan kemandirian. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini bisa terlihat ketika seseorang terus-menerus meminta kepastian bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan, merasa sangat terpuruk ketika tidak mendapat pujian, atau sulit menentukan pilihan tanpa persetujuan orang terdekat.

Sebagai contoh, seseorang mungkin membatalkan keputusan yang sebenarnya sesuai dengan kebutuhannya hanya karena seorang teman tidak menyetujuinya. Dalam hubungan romantis, ia bisa menganggap keterlambatan membalas pesan sebagai bukti bahwa dirinya tidak lagi disayangi, kemudian menuntut kepastian berulang kali.

Penting untuk membedakan kebutuhan akan dukungan emosional yang sehat dari ketergantungan yang membatasi kehidupan. Meminta pendapat, berdiskusi, dan mencari bantuan bukanlah tanda ketidakdewasaan. Persoalan muncul ketika seseorang tidak mampu mempertimbangkan pilihannya sendiri atau menyerahkan seluruh tanggung jawab emosional kepada orang lain.

Menurut WebMD, orang dewasa yang matang secara emosional juga diharapkan mampu mempertimbangkan masa depan dan mengambil tanggung jawab sesuai kemampuannya.

Kemandirian emosional dapat dibangun secara bertahap, misalnya dengan membiasakan diri mengambil keputusan kecil, mengenali kebutuhan pribadi, dan menerima bahwa tidak semua orang akan menyetujui pilihan kita. Dengan cara tersebut, seseorang dapat tetap menghargai masukan orang lain tanpa menjadikan persetujuan mereka sebagai satu-satunya ukuran harga diri.

Bagaimana Cara Mengembangkan Kedewasaan Emosional?

Kedewasaan emosional bukan kemampuan yang hanya dimiliki orang tertentu sejak lahir. Keterampilan ini dapat berkembang melalui pengalaman, refleksi diri, dan latihan yang konsisten. Artikel Wellness Space Counseling menyarankan pengembangan kesadaran diri, komunikasi yang sehat, dan praktik mindfulness sebagai bagian dari proses tersebut.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Mengenali pemicu emosi. Perhatikan situasi yang sering membuat marah, tersinggung, takut ditolak, atau merasa tidak dihargai. Memahami pemicu membantu seseorang memilih respons yang lebih tepat.

Belajar bertanggung jawab. Ketika melakukan kesalahan, akui bagian yang menjadi tanggung jawab pribadi, sampaikan permintaan maaf yang tulus, dan lakukan perbaikan nyata.

Melatih komunikasi terbuka. Gunakan kalimat yang berfokus pada pengalaman pribadi, seperti “Saya merasa kecewa ketika...” daripada langsung menuduh orang lain.

Mendengarkan tanpa buru-buru membela diri. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan perasaannya sebelum menyampaikan pendapat sendiri.

Mempertimbangkan konsekuensi. Sebelum mengambil keputusan saat emosi sedang tinggi, berikan waktu untuk menenangkan diri dan mengevaluasi pilihan yang tersedia.

Menghargai batasan. Pahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan, waktu, dan kemampuan yang berbeda. Menghormati batasan tidak sama dengan menolak kedekatan.

Mencari bantuan profesional bila diperlukan. Konseling atau psikoterapi dapat membantu seseorang memahami pola perilaku, mengembangkan strategi pengelolaan emosi, dan memperbaiki hubungan.

Perlu diingat bahwa ketidakmatangan emosional bukan diagnosis klinis tersendiri. Seperti dijelaskan dalam artikel AMFM Mental Health Treatment, pola perilaku ini juga tidak otomatis menunjukkan gangguan kepribadian narsistik. Penilaian terhadap kondisi psikologis seseorang membutuhkan pertimbangan yang lebih menyeluruh daripada sekadar mencocokkan beberapa ciri.

Pada akhirnya, kedewasaan emosional terlihat dari kesediaan seseorang untuk terus belajar, menerima tanggung jawab, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Perubahan tidak selalu berlangsung cepat, tetapi kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kedewasaan Seseorang

1. Apa yang dimaksud dengan kedewasaan emosional?

Kedewasaan emosional adalah kemampuan mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara tepat sesuai situasi. Kemampuan ini juga mencakup kesediaan bertanggung jawab atas tindakan sendiri, memahami perasaan orang lain, serta menghadapi konflik dengan cara yang konstruktif.

2. Apakah orang yang belum dewasa secara emosional bisa berubah?

Ya. Seseorang dapat mengembangkan keterampilan emosional melalui refleksi diri, latihan komunikasi, pengalaman, dan dukungan yang sesuai. Konseling atau psikoterapi juga dapat membantu jika pola perilakunya terus mengganggu kehidupan sehari-hari maupun hubungan dengan orang lain.

3. Apakah orang yang mudah marah berarti belum dewasa secara emosional?

Tidak selalu. Kemarahan merupakan emosi yang wajar dan dapat muncul ketika seseorang merasa kecewa, terancam, atau diperlakukan tidak adil. Hal yang lebih menentukan adalah cara mengungkapkan kemarahan, kemampuan mengendalikan tindakan, dan kesediaan memperbaiki dampaknya terhadap orang lain.

4. Apa perbedaan orang yang belum dewasa secara emosional dan narsistik?

Ketidakmatangan emosional merupakan pola perilaku yang berkaitan dengan keterampilan mengelola emosi yang belum berkembang dengan baik, sedangkan gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi klinis dengan kriteria tertentu. Sebagian perilakunya mungkin terlihat serupa, tetapi tidak semua orang yang egois, defensif, atau sulit menerima kritik memiliki gangguan kepribadian narsistik. Diagnosis hanya dapat ditetapkan melalui penilaian profesional.

5. Bagaimana cara menghadapi orang yang belum dewasa secara emosional?

Cobalah menyampaikan perasaan dan kebutuhan secara jelas tanpa merendahkan, pilih waktu yang tepat untuk membicarakan masalah, dan tetapkan batasan yang sehat. Hindari mengambil tanggung jawab atas seluruh emosi atau keputusan orang tersebut. Jika perilakunya terus menimbulkan tekanan atau konflik, pertimbangkan untuk mencari bantuan konselor atau psikolog.