Bebas Stres Keuangan, Mengatasi Doom Spending dan Cemas Masa Depan

Doom spending menawarkan kesenangan sesaat, tapi dapat menyulitkan seseorang menjaga kestabilan keuangan.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 16:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kekhawatiran tentang kondisi ekonomi, harga kebutuhan yang terus berubah, hingga masa depan karier bisa memicu doom spending. Istilah ini merujuk pada kebiasaan berbelanja secara impulsif sebagai respons terhadap kecemasan, rasa putus asa, atau ketakutan terhadap masa depan.

Belanja dapat terasa seperti cara cepat untuk memperoleh kenyamanan ketika keadaan sulit dikendalikan. Melansir Psychology Today, Selasa (27/10/2026), kecemasan finansial muncul ketika tuntutan keuangan terasa lebih besar daripada kemampuan seseorang untuk memenuhinya.

Sumbernya beragam, mulai dari kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari dan utang hingga ketidakpastian pekerjaan serta persiapan masa pensiun.

Kekhawatiran tersebut dapat mengganggu rutinitas dan membuat keputusan terkait uang terasa semakin berat. Sebagian orang bahkan menunda membuka tagihan atau memeriksa saldo karena takut menghadapi angka yang muncul, sehingga masalah terasa kian menumpuk.

Membeli barang yang diinginkan mungkin menghadirkan kepuasan sesaat, tetapi perasaan itu tidak selalu bertahan lama. Ketika pembelian dilakukan tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial, pengeluaran bisa mengurangi dana untuk kebutuhan penting atau menambah beban utang.

Setelah kesenangan mereda, penyesalan dan tekanan karena uang yang berkurang dapat muncul kembali. Karena itu, doom spending bukan sekadar persoalan boros.

Perilaku ini berkaitan dengan cara seseorang merespons tekanan emosional di tengah ketidakpastian. Jika uang terus digunakan untuk mencari kelegaan sesaat, keputusan belanja dapat menjauh dari kebutuhan nyata dan memperburuk kondisi yang sebelumnya ingin diatasi.

Memahami Dorongan Belanja Impulsif

Dorongan doom spending sering muncul ketika ketidakpastian terasa sulit dikendalikan. Kemudahan berbelanja daring membuat keputusan impulsif semakin mudah terjadi.

Berbagai produk tersedia dalam beberapa ketukan, sementara iklan yang dipersonalisasi, promo berbatas waktu, dan notifikasi aplikasi terus menawarkan alasan untuk membeli.

Situasi ini dapat mendorong seseorang bertindak cepat sebelum sempat mempertimbangkan manfaat barang atau kondisi anggarannya.

Pengaruh lingkungan digital juga terasa ketika unggahan media sosial menampilkan barang baru, pengalaman konsumsi, atau gaya hidup tertentu. Perbandingan semacam ini bisa menumbuhkan dorongan untuk ikut membeli, meski barang tersebut bukan kebutuhan.

Ketika beragam tawaran muncul berulang kali, batas antara keinginan pribadi dan dorongan dari luar dapat menjadi kabur. Untuk mengenali pemicu, catat pembelian spontan beserta situasi yang menyertainya.

Perhatikan apakah keinginan muncul setelah melihat promosi, menggulir media sosial, atau menerima notifikasi toko. Pola yang tercatat membantu menentukan pemicu mana yang perlu dikurangi.

Mengalihkan Dorongan Impulsif

Saat dorongan membeli muncul, tunda transaksi yang tidak mendesak selama 24 jam. Masukkan barang ke daftar keinginan, bukan langsung ke keranjang pembayaran.

Setelah jeda, tinjau kembali apakah barang itu benar-benar dibutuhkan, apakah ada pilihan yang lebih terjangkau, dan apakah pembeliannya tetap masuk akal.

Latihan mindfulness dapat membantu seseorang menyadari emosi tanpa langsung bereaksi. Berhenti sejenak, atur napas, lalu beri nama perasaan yang sedang muncul, misalnya cemas, kecewa, atau bosan.

Cara ini memberi ruang untuk memilih tindakan dengan lebih sadar, alih-alih menjadikan belanja sebagai respons otomatis.

Alihkan perhatian ke kegiatan yang tidak melibatkan transaksi, seperti berjalan kaki, berolahraga ringan, beristirahat, atau berbicara dengan teman tepercaya. Menjaga rutinitas tidur dan makan juga dapat mendukung kondisi tubuh saat menghadapi tekanan.

Bila kecemasan terus mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental.

Menata Keuangan Lebih Terarah

Langkah praktis untuk menata keuangan dimulai dengan mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran. Dari catatan itu, kelompokkan biaya menjadi kebutuhan pokok, kewajiban, tabungan, dan keinginan.

Gambaran yang jelas membantu menentukan batas belanja berdasarkan uang yang benar-benar tersedia, bukan perkiraan atau suasana hati.

Pilih metode anggaran yang mudah dijalankan, seperti membagi uang ke pos-pos tertentu atau menetapkan batas untuk tiap kategori. Sesuaikan pembagian dengan kondisi pribadi. Jika memiliki utang, catat jumlah, cicilan, dan tenggat pembayarannya agar kewajiban tidak terlewat.

Sisihkan dana darurat secara bertahap sesuai kemampuan. Evaluasi catatan keuangan untuk melihat apakah anggaran realistis dan bagian mana yang perlu disesuaikan.

Jika utang atau keputusan finansial terasa sulit dikelola sendiri, cari bantuan profesional yang independen, transparan mengenai biaya, dan tidak mendorong pembelian produk tertentu. Pendampingan yang tepat dapat membantu menyusun langkah sesuai kebutuhan.