Harga Gas Eropa Menguat ke Level Tertinggi Sejak 2022, Pasokan Energi Terancam

Harga gas Eropa melambung dipicu sejumlah faktor, salah satunya permintaan pemanas yang naik.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 16:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga gas Eropa melonjak ke level tertinggi sejak 2022 pada Senin, 26 Oktober 2026, seiring meningkatnya permintaan pemanas akibat penurunan suhu dan kekhawatiran terhadap pasokan energi jelang musim dingin.

Dikutip dari The Guardian, Selasa (27/10/2026), harga gas grosir Eropa mencapai  97 euro per megawatt-jam, atau Rp 1,9 juta (asumsi kurs euro terhadap rupiah 20.260). Sementara itu, kontrak gas Inggris untuk pengiriman bulan berikutnya naik 4% menjadi 240 pence per therm atau Rp 58.057, tertinggi sejak Desember 2022.

Kenaikan harga terjadi di tengah laporan Amerika Serikat (AS) dan Israel menyusun rencana penyerangan kembali Iran setelah pemilihan paruh waktu AS. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan tambahan terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Harga minyak juga sempat menyentuh US$ 117 per barel atau Rp 2,1 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.130) pada Jumat, 23 Oktober. Pada Senin, harga acuan minyak mentah Brent turun sekitar 2%, tetapi masih berada di kisaran US$ 115 per barel atau Rp 2 juta.

Eropa menghadapi keterbatasan cadangan gas menjelang musim dingin. Persediaan gas di kawasan tersebut saat ini hanya sekitar 75% dari kapasitas, lebih rendah dibandingkan rata-rata musiman yang mendekati 80%.

Kondisi ini dipengaruhi perlambatan ekspor gas dari Qatar serta peningkatan konsumsi selama musim panas untuk kebutuhan pendinginan dan pendingin ruangan. Akibatnya, persediaan gas Eropa berada pada tingkat terendah dalam lebih dari satu dekade.

 

 

Inggris Hadapi Kenaikan Biaya Energi

Inggris diperkirakan menghadapi salah satu biaya energi tertinggi di Eropa musim dingin ini. Regulator energi setempat menyoroti ketergantungan negara pada impor untuk menjaga pasokan, sementara kapasitas penyimpanan gasnya terkecil di Eropa.

Selama setahun hingga Agustus 2026, Inggris mengeluarkan rekor 4 miliar pound sterling atau Rp 96,8 triliun (asumsi kurs pound sterling terhadap rupiah 24.210) untuk impor listrik, berdasarkan data Office for National Statistics, yang setengahnya untuk membeli listrik dari Prancis.

Dalam setahun terakhir, Inggris juga mengeluarkan biaya mendekati rekor untuk mengoperasikan pembangkit listrik berbahan bakar gas. Pada saat yang sama, sejumlah pembangkit listrik tenaga angin dan surya dibayar untuk menghentikan produksi akibat keterbatasan kapasitas jaringan listrik.

Tagihan energi rumah tangga Inggris diperkirakan kembali meningkat pada Januari 2027. Biaya tahunan untuk rumah tangga dengan penggunaan gas dan listrik diproyeksikan naik 16% menjadi sekitar 2.000 pound sterling atau Rp 48,4 juta.

Di pasar saham, indeks Stoxx Europe 600 yang mencakup perusahaan-perusahaan besar Eropa naik 0,3% pada awal perdagangan Senin. Indeks FTSE 100 Inggris juga menguat 0,4%, seiring penurunan harga minyak.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6