Eropa dan Asia Berebut Gas, Harga Diprediksi Tembus US$ 117

Apabila ekspor LNG dari Timur Tengah hanya pulih secara bertahap hingga 2027, harga kontrak berjangka gas alam harus menembus €100 per megawatt-jam.

Diterbitkan 27 Agustus 2026, 19:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Persaingan negara-negara di dunia mendapatkan pasokan gas alam akan kian ketat, terutama antara kawasan Eropa dan Asia. Persaingan ini dipicu kesulitan Eropa dalam mengisi kembali cadangan gas alam menjelang musim dingin.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong harga gas menembus €100 (sekitar US$ 117) per megawatt-jam, yang akan menjadi level tertinggi sejak krisis energi yang melanda Eropa empat tahun lalu.

Dari data, kontrak berjangka gas acuan Eropa, Dutch TTF, telah menembus level €68 per megawatt-jam, tertinggi sejak awal 2023 pada Selasa kemarin, sebelum mengalami sedikit penurunan.

Melansir CNBC, Kamis (27/8/2026), Tancrede Fulop, Analis Ekuitas Aenior di Morningstar, mengatakan musim dingin yang lebih dingin dari perkiraan, ditambah dengan pasokan yang masih terbatas, berpotensi mendorong harga gas ke kisaran €90–€120 per megawatt-jam.

 

Sementara itu, Analis Goldman Sachs menyebutkan bahwa apabila ekspor LNG dari Timur Tengah hanya pulih secara bertahap hingga 2027, harga kontrak berjangka gas alam harus menembus €100 per megawatt-jam.

Kenaikan harga tersebut diperlukan untuk menekan permintaan di Asia, sehingga Eropa dapat menjaga cadangan gasnya tetap mencukupi hingga musim dingin berakhir.

Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz telah memangkas secara tajam ekspor LNG dari produsen utama di kawasan Teluk, seperti Qatar, selama musim pengisian kembali penyimpanan gas Eropa.

Permintaan Pendingin Naik

Sementara itu, musim panas yang sangat terik di benua tersebut telah meningkatkan permintaan akan pendingin udara dan peralatan lain yang membutuhkan banyak energi, pada saat permintaan gas, yang banyak digunakan untuk kebutuhan pemanasan dan memasak di Eropa secara alami menurun. Gas menyumbang sekitar seperenam dari pembangkitan listrik Uni Eropa.

Kondisi cuaca juga membuat pasokan dari sumber energi alternatif menjadi lebih terbatas. Suhu panas telah menyebabkan penurunan pembangkitan listrik tenaga nuklir, dengan sejumlah pembangkit listrik terpaksa ditutup atau mengurangi produksinya di berbagai wilayah. Sementara itu, produksi tenaga angin juga relatif lemah sepanjang musim panas.

Akibatnya,  menurut data dari Gas Infrastructure Europe, tingkat penyimpanan gas di Uni Eropa berada di sekitar 63%. Angka ini merupakan salah satu tingkat terendah yang pernah tercatat untuk periode seperti ini dalam setahun dan sekitar 18 poin persentase di bawah rata-rata lima tahun.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6