Liputan6.com, Jakarta - Di sekitar kita, ada sebagian orang yang memiliki kecenderungan seseorang untuk selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengesampingkan kebutuhan, hak, dan kepentingan pribadinya. Jika dibiarkan, fenomena yang disebut people pleaser ini dapat menimbulkan stres, kelelahan emosional, rendahnya harga diri, kecemasan, hingga hilangnya identitas diri.
Dalam jurnal Konsepsi Self-Boundaries untuk Mengurangi People Pleaser dalam Al-Qur’an, Shobibah Azzahro dkk. menjelaskan bahwa perilaku ini sering muncul karena tekanan sosial, pengalaman menjadi korban perundungan, pola asuh yang menuntut, serta kebutuhan tinggi akan penerimaan.
Kemampuan menetapkan batas diri menjadi penting agar kebaikan tidak berubah menjadi alat yang membuat seseorang dimanfaatkan. Islam tidak melarang berbuat baik. Namun, Islam juga tidak mengajarkan kebaikan yang tanpa batas hingga merusak diri sendiri.
Advertisement
Al-Qur’an menegaskan prinsip menjaga diri dari kebinasaan dalam QS Al-Baqarah: 195, tolong-menolong hanya dalam kebajikan dan takwa dalam QS Al-Ma’idah: 2, serta tanggung jawab personal dalam QS Al-Isra’: 7 dan QS Al-Muddatstsir: 38. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa perintah berbuat ihsan tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran untuk mengorbankan diri secara berlebihan. Dengan kata lain, berbuat baik tetap harus proporsional dan sesuai batas syariat.
Dalam Jurnal Sifat Iri dan Cara Mengatasinya karya Muslimah dan Siti Khamim memberi peringatan penting tentang penyakit hati, termasuk iri dan dengki, yang dapat mendorong seseorang memanfaatkan orang lain atau justru menjadikan orang baik sebagai sasaran. Orang yang terlalu mudah menyenangkan orang lain berisiko terjebak dalam relasi yang tidak sehat, dia terus memberi, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanfaatkan.
Mengapa People Pleaser Rentan Dimanfaatkan Orang Lain?
People pleaser sering disalahartikan sebagai orang yang tulus. Padahal, tidak semua perilaku menyenangkan orang lain lahir dari ketulusan.
Azzahro dkk. mencatat bahwa people pleaser sering didorong rasa takut akan penolakan, kritik, atau konflik. Akibatnya, seseorang sulit mengatakan “tidak”, mudah merasa bersalah, dan lebih memilih diam daripada mengecewakan orang lain.
Dalam kondisi seperti ini, orang lain yang memiliki niat kurang baik dapat dengan mudah memanfaatkan kebaikannya.
Muslimah dan Siti Khamim menjelaskan bahwa iri dan dengki termasuk penyakit hati yang paling bejat. Orang yang iri tidak senang melihat nikmat pada orang lain dan dapat terdorong untuk mencela, membuka rahasia, atau menjatuhkan.
Ketika orang baik tidak memiliki batas, ia bisa terus memberi peluang kepada orang semacam ini untuk mengambil keuntungan. Karena itu, batas berbuat baik bukan berarti pelit atau keras hati, melainkan bentuk kehati-hatian agar kebaikan tidak menjadi pintu masuk kemudaratan.
Berikut ini adalah batasan berbuat baik menurut adab islam agar tidak dimanfaatkan orang lain.
Batasan Berbuat Baik Menurut Adab Islam
1. Meluruskan niat berbuat baik karena Allah SWT
Berbuat baik hendaknya dilandasi keikhlasan kepada Allah SWT, bukan karena takut ditolak atau ingin selalu mendapat pengakuan orang lain. QS Al-Kahfi ayat 103–104 mengingatkan tentang orang-orang yang merugi karena amal mereka tidak sesuai dengan petunjuk Allah.
Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan pentingnya kesesuaian amal dengan tuntunan Allah. Dengan niat yang lurus, seseorang dapat tetap berbuat baik tanpa harus memenuhi setiap permintaan yang bertentangan dengan prinsip kebenaran.
2. Tidak mengorbankan diri secara berlebihan
QS Al-Baqarah ayat 195 melarang manusia menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan pentingnya memahami perintah berbuat baik secara proporsional.
Artinya, membantu orang lain tidak boleh membuat seseorang mengabaikan kesehatan, kebutuhan istirahat, dan kesejahteraan dirinya sendiri. Sikap ini penting agar keinginan membantu tidak berubah menjadi beban yang merugikan diri.
3. Menolong hanya dalam kebajikan dan ketakwaan
QS Al-Ma'idah ayat 2 memerintahkan umat Islam untuk saling menolong dalam kebajikan dan takwa serta melarang kerja sama dalam dosa dan permusuhan.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa pertolongan harus berlandaskan kebaikan, bukan mendukung kezaliman. Karena itu, seseorang perlu berani menolak permintaan yang mengarah pada kebohongan, gibah, fitnah, atau tindakan yang merugikan orang lain.
4. Menjaga tanggung jawab pribadi, keluarga, dan agama
QS Al-Isra' ayat 7 mengingatkan bahwa akibat perbuatan akan kembali kepada pelakunya, sedangkan QS Al-Muddatstsir ayat 38 menegaskan bahwa setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.
Al-Qurthubi dalam Tafsir al-Jami' li Ahkam al-Qur'an dan Hamka dalam Tafsir Al-Azhar membahas tanggung jawab manusia atas perbuatannya.
Prinsip ini mengajarkan bahwa seseorang tidak harus mengorbankan seluruh waktu dan tenaganya demi memenuhi harapan orang lain hingga melalaikan kewajiban kepada keluarga, pekerjaan, dan Allah SWT.
5. Menetapkan batas kemampuan fisik, mental, dan emosional
Self-boundaries merupakan kemampuan menetapkan batas yang sehat dalam hubungan dengan orang lain tanpa mengabaikan hak mereka. Azzahro dkk. menjelaskan bahwa batas diri membantu seseorang menjaga kebutuhan, nilai, dan tanggung jawab pribadinya.
Sejalan dengan prinsip keseimbangan dalam Islam, seseorang boleh menentukan sejauh mana ia mampu membantu. Jika kondisi fisik atau emosional tidak memungkinkan, menunda atau menolak permintaan secara baik merupakan pilihan yang wajar.
6. Menjaga lisan dan privasi orang lain
Berbuat baik tidak berarti harus mengikuti semua pembicaraan dalam lingkungan pergaulan. Seseorang perlu menghindari gibah, fitnah, penyebaran rahasia, dan tindakan membuka aib orang lain demi mendapatkan penerimaan kelompok.
Prinsip QS Al-Ma'idah ayat 2 menjadi pedoman agar tidak ikut serta dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dengan menjaga lisan dan privasi, seseorang dapat tetap ramah tanpa mengorbankan kehormatan orang lain.
7. Berani menolak dengan sopan dan tegas
Menolak permintaan yang tidak sesuai dengan kemampuan atau prinsip agama bukan berarti bersikap kasar. Azzahro dkk. menjelaskan bahwa self-boundaries membantu seseorang menyampaikan kebutuhan dan pendiriannya secara sehat.
Penolakan dapat disampaikan dengan jujur, singkat, dan santun tanpa harus memberikan alasan panjang atau meminta maaf secara berlebihan. Dengan begitu, seseorang tetap menjaga adab sekaligus melindungi hak dirinya.
8. Memberi bantuan secara proporsional
Islam mendorong umatnya untuk berbuat ihsan, tetapi kebaikan perlu dijalankan sesuai kemampuan dan tidak melanggar ketentuan syariat. QS Al-Baqarah ayat 195 dan QS Al-Ma'idah ayat 2 memberikan landasan untuk menjaga keseimbangan antara membantu orang lain dan menghindari kemudaratan.
Bantuan berupa waktu, tenaga, uang, maupun perhatian sebaiknya diberikan secara bijaksana. Kebaikan tidak harus berarti selalu tersedia atau memenuhi semua tuntutan orang lain.
Hikmah Menerapkan Batasan Berbuat Baik Menurut Adab Islam
1. Menjaga keikhlasan dan integritas diri
Batas diri membantu seseorang berbuat baik karena Allah SWT, bukan karena takut ditolak atau ingin menyenangkan semua orang. Dengan demikian, ia dapat mempertahankan prinsip agama dan tidak mudah mengikuti permintaan yang bertentangan dengan keyakinannya.
2. Mencegah kelelahan emosional
Azzahro dkk. menjelaskan bahwa lemahnya batas diri dapat berkaitan dengan kecenderungan people pleaser, yakni perilaku yang mengutamakan kepuasan orang lain hingga mengabaikan kebutuhan pribadi. Batas diri yang sehat membantu seseorang mengatur tenaga, waktu, dan perhatian agar tetap mampu membantu tanpa mengalami kelelahan berlebihan.
3. Membangun hubungan sosial yang sehat
Hubungan yang baik tidak harus dibangun melalui kepatuhan terhadap setiap keinginan orang lain. QS Al-Ma'idah ayat 2 mengajarkan pentingnya tolong-menolong dalam kebajikan. Hubungan yang sehat justru tumbuh ketika kedua pihak saling menghormati hak, kemampuan, dan tanggung jawab masing-masing.
4. Menjaga hak diri dan kewajiban kepada keluarga
Terlalu sibuk memenuhi permintaan orang lain dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan diri, keluarga, dan kewajiban agama. Batas diri membantu mengatur prioritas sehingga kepedulian terhadap orang lain tidak mengorbankan tanggung jawab yang lebih utama.
5. Menghindari dosa dan kemudaratan
Keberanian menetapkan batas membuat seseorang lebih mudah menolak ajakan yang mengarah pada gibah, fitnah, kebohongan, atau tindakan merugikan. Dengan demikian, niat membantu tidak justru menjerumuskannya ke dalam perbuatan yang dilarang agama.
6. Melatih keberanian menolak dengan adab
Kemampuan mengatakan tidak secara santun membantu seseorang menyampaikan pendirian tanpa harus memusuhi pihak lain. Sikap ini dapat mengurangi rasa terpaksa dan mencegah munculnya kekecewaan akibat terus-menerus memenuhi permintaan yang sebenarnya tidak sanggup dilakukan.
7. Menjaga ketenangan batin dan kesehatan spiritual
Batas diri yang jelas membantu mengurangi konflik batin antara keinginan menyenangkan orang lain dan kebutuhan menjaga diri. Ketika disertai doa, dzikir, dan penghayatan terhadap Al-Qur'an, seseorang dapat berusaha menjalani hubungan sosial dengan lebih tenang, bijaksana, dan berpegang pada nilai-nilai Islam.
Pertanyaan Seputar People Pleaser
1. Apa itu people pleaser?
People pleaser adalah kecenderungan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengabaikan kebutuhan dan hak pribadi. Perilaku ini dapat muncul karena takut ditolak, merasa bersalah ketika menolak, atau terlalu bergantung pada penerimaan orang lain.
2. Apakah Islam melarang menolak permintaan orang lain?
Tidak. Islam menganjurkan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, sebagaimana QS Al-Ma'idah ayat 2. Namun, seseorang tidak wajib memenuhi permintaan yang mengarah pada dosa, kezaliman, atau kemudaratan. Penolakan sebaiknya disampaikan dengan sopan dan tetap menghormati orang yang meminta.
3. Apa dalil agar tidak mengorbankan diri demi orang lain?
QS Al-Baqarah ayat 195 melarang manusia menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Ayat ini menjadi pengingat pentingnya menghindari tindakan yang membahayakan diri. Membantu orang lain tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan dan tanggung jawab pribadi.
4. Bagaimana cara menolak permintaan tanpa menyinggung perasaan?
Sampaikan penolakan secara jujur, singkat, dan sopan. Jelaskan batas kemampuan jika diperlukan, lalu tawarkan alternatif apabila memang memungkinkan. Hindari memberikan janji yang tidak sanggup dipenuhi hanya karena merasa tidak enak menolak.
5. Apakah berbuat baik berarti harus selalu menuruti keinginan orang lain?
Tidak. Berbuat baik harus tetap berada dalam koridor kebajikan, ketakwaan, dan kemampuan. Seseorang dapat tetap ramah dan peduli tanpa harus menyetujui semua permintaan atau membiarkan dirinya dimanfaatkan.
6. Apa manfaat menetapkan batas diri menurut Islam?
Manfaatnya antara lain menjaga keikhlasan, melindungi kesehatan fisik dan emosional, membangun hubungan yang sehat, mempertahankan tanggung jawab kepada keluarga, serta mencegah keterlibatan dalam perbuatan dosa. Batas diri juga membantu seseorang berbuat baik dengan lebih bijaksana dan proporsional.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066076/original/004010200_1656393110-Rampok1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7915199/original/007053000_1780746673-87a95eff-89b4-4b3c-ac8b-2122d6b93d4b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264387/original/067811000_1782109347-PLN_-_cek_fakta_lip6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380253/original/006195600_1792662795-cek_fakta_-_megawati_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340425/original/073786700_1788505036-1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380647/original/044912600_1792729090-IMG-20261023-WA0040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380646/original/088609200_1792728996-IMG-20261023-WA0002.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380616/original/082183500_1792727784-1001786012.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380607/original/075279900_1792727121-Dokumen_Polsek_Rumpin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380601/original/063630400_1792726704-1001784093.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380598/original/084838600_1792726589-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_10.29.11__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4930489/original/007171900_1724836824-pexels-karolina-grabowska-8547448.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5195246/original/095709600_1745332965-workplace-violence-taking-place-colleagues_23-2149361817.jpg)