Liputan6.com, Jakarta - Iri hati adalah ujian sosial yang hampir semua orang pernah temui. Ada orang yang mampu merayakan keberhasilan orang lain, tetapi tidak sedikit yang justru gelisah, sinis, bahkan berusaha menjatuhkan ketika melihat orang lain maju.
Dalam situasi seperti ini, yang paling berbahaya bukan hanya serangan dari luar, melainkan reaksi kita sendiri: terbawa emosi, membalas dendam, atau justru mengorbankan diri demi menyenangkan orang yang iri. Islam mengajarkan adab dan batas diri agar seseorang tetap tenang, berintegritas, dan tidak ikut ‘terbakar’ dalam lingkaran keburukan.
Konsep self-boundaries atau batas diri tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an, tetapi nilai-nilainya sangat jelas. Nilai-nilai ini menjadi landasan untuk menghadapi orang yang iri tanpa kehilangan kendali diri.
Advertisement
Shobibah Azzahro dkk, dalam jurnal Konsepsi Self-Boundaries untuk Mengurangi People Pleaser dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa QS Al-Baqarah: 195, QS Al-Ma’idah: 2, QS Al-Isra’: 7, QS Al-Kahfi: 103–104, dan QS Al-Muddatstsir: 38 mengajarkan menjaga diri dari kebinasaan, menolong dalam kebajikan, bertanggung jawab atas amal sendiri, serta beramal ikhlas karena Allah—bukan demi validasi manusia.
Dalam jurnal Sifat Iri dan Cara Mengatasinya, Muslimah dan Siti Khamim menjelaskan bahwa hasad adalah perasaan tidak senang terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, disertai harapan agar nikmat itu hilang darinya.
Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah ulasan mengenai cara menghadapi orang yang Iri hati menurut adab Islam.
Cara Cerdas Menghadapi Orang yang Iri Hati Tanpa Ikut Terbakar Emosi
Langkah pertama sebelum menghadapi orang yang iri adalah memahami apa yang sedang kita hadapi. Muslimah dan Siti Khamim dalam jurnal Konsepsi Self-Boundaries untuk Mengurangi People Pleaser dalam Al-Qur’an (Analisis Tafsir Tematik) membedakan hasad, yang diharamkan, dengan ghibtah, yang dibolehkan.
Hasad muncul ketika seseorang tidak suka nikmat Allah ada pada orang lain dan berharap nikmat itu hilang, meskipun tidak berpindah kepadanya. Adapun ghibtah adalah keinginan untuk mendapatkan nikmat serupa tanpa mengharapkan hilangnya nikmat dari orang lain.
1. Sadari bahwa iri merupakan persoalan internal orang lain
Hasad lebih banyak merugikan orang yang memilikinya daripada orang yang menjadi sasaran iri. Karena itu, sikap iri dari orang lain tidak perlu dijadikan ukuran terhadap harga diri.
QS Ali Imran ayat 120 menggambarkan bagaimana kebencian dapat membuat seseorang tidak senang melihat kebaikan orang lain. Menghadapi kondisi tersebut, seseorang sebaiknya menjaga jarak secara sehat dan tetap fokus memperbaiki diri.
2. Terapkan self-boundaries dan jangan menjadi people pleaser
Self-boundaries membantu seseorang menetapkan batas yang sehat dalam hubungan dengan orang lain. Batas ini mencakup hak, kebutuhan, nilai, dan tanggung jawab pribadi.
Dalam QS Al-Baqarah ayat 195, umat Islam dilarang menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Karena itu, berbuat baik kepada orang lain tidak berarti harus selalu menuruti keinginan mereka.
Berani mengatakan tidak secara sopan dapat menjadi cara menjaga kesehatan emosional sekaligus mempertahankan integritas.
3. Tolong-menolong hanya dalam kebaikan
QS Al-Ma'idah ayat 2 mengajarkan agar umat Islam saling menolong dalam kebajikan dan takwa, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa pertolongan kepada orang yang berbuat zalim justru dilakukan dengan mencegahnya dari kezaliman.
Dalam menghadapi orang yang iri, prinsip ini dapat diterapkan dengan menolak secara baik permintaan yang mengarah pada gibah, fitnah, atau tindakan merugikan orang lain.
4. Jangan membalas keburukan dengan keburukan
Ketika menjadi sasaran iri, seseorang tidak perlu membalas dengan kebencian atau membuka aib orang tersebut.
Salah satu latihan yang dapat dilakukan adalah membalas dorongan negatif dengan tindakan positif, seperti memuji ketika muncul keinginan menjelekkan, bersikap tawadhu ketika muncul kesombongan, serta tetap memberi ketika muncul keinginan untuk menahan kebaikan.
QS Al-Isra' ayat 7 mengingatkan bahwa kebaikan dan keburukan pada akhirnya kembali kepada pelakunya.
5. Fokus pada amal dan ridha Allah, bukan validasi manusia
QS Al-Kahfi ayat 103-104 mengingatkan tentang orang-orang yang merasa telah berbuat baik, tetapi amalnya justru menjadi sia-sia karena tidak sesuai dengan petunjuk Allah.
Karena itu, seseorang tidak perlu mengurangi kebaikan hanya karena takut dicemburui atau tidak disukai orang lain. Tetaplah berbuat baik dengan proporsional, disertai keikhlasan, tawadhu, dan orientasi mencari ridha Allah SWT.
6. Lindungi privasi dan hindari memancing iri
Menghadapi orang yang memiliki kecenderungan iri bukan berarti harus menutup diri dari lingkungan. Namun, informasi mengenai pencapaian, harta, rencana, atau persoalan pribadi tetap perlu dikelola dengan bijak.
Tidak semua hal harus dibagikan kepada semua orang, termasuk di media sosial. Membatasi informasi pribadi merupakan bentuk self-boundaries dan bukan berarti bersikap sombong.
7. Perkuat spiritualitas dan kendalikan emosi
Ketika menghadapi provokasi, seseorang sebaiknya tidak langsung bereaksi dalam keadaan marah. Beri waktu untuk menenangkan diri, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan melakukan muhasabah.
Al-Qur'an disebut sebagai syifa' atau penyembuh bagi orang beriman. Pengendalian diri membantu seseorang menghadapi perilaku orang lain tanpa ikut terseret dalam konflik emosional.
8. Tetap berbuat baik dan berprestasi tanpa arogansi
Keberadaan orang yang iri tidak seharusnya membuat seseorang berhenti berkembang. QS Al-Hadid ayat 21 mendorong umat Islam untuk berlomba dalam kebaikan.
Prestasi dan keberhasilan tetap perlu disertai rasa syukur dan tawadhu. Dengan sikap tersebut, seseorang tidak mudah menjadi sombong ketika mendapat pujian dan tidak mudah runtuh ketika menghadapi kecemburuan orang lain.
Hikmah Menerapkan Self-Boundaries dalam Islam
1. Menjaga keselamatan dan keseimbangan hak diri
QS Al-Baqarah ayat 195 menjadi pengingat agar seseorang tidak melakukan tindakan yang mencelakakan dirinya. Berbuat baik kepada orang lain tetap penting, tetapi tidak harus dilakukan dengan mengorbankan kesehatan fisik, mental, maupun emosional secara berlebihan. Self-boundaries membantu seseorang tetap peduli tanpa kehilangan hak untuk beristirahat dan menjaga diri.
2. Menolong tanpa melanggar syariat
Islam mengajarkan bahwa pertolongan harus berada dalam kerangka kebajikan dan ketakwaan. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa bersalah ketika menolak permintaan yang mengarah pada dosa, fitnah, atau kemudaratan. Menolak dalam kondisi tersebut justru merupakan bagian dari menjaga prinsip agama.
3. Menumbuhkan tanggung jawab personal
QS Al-Isra' ayat 7 dan QS Al-Muddatstsir ayat 38 menegaskan bahwa manusia bertanggung jawab atas amalnya sendiri. Self-boundaries membantu seseorang mengambil keputusan berdasarkan nilai dan prinsip yang diyakini benar, bukan semata-mata karena tekanan lingkungan atau keinginan untuk menyenangkan orang lain.
4. Menjaga keikhlasan dalam beramal
Seseorang yang terlalu bergantung pada penilaian orang lain rentan melakukan sesuatu demi mendapatkan penerimaan sosial. Padahal, amal dalam Islam harus diarahkan kepada Allah SWT. Batas diri yang sehat membantu seseorang tetap melakukan kebaikan tanpa menjadikan pujian atau pengakuan manusia sebagai tujuan utama.
5. Membangun kesehatan mental dan hubungan yang sehat
Batas diri yang lemah dapat membuat seseorang sulit mengatakan tidak, terlalu bergantung pada validasi, dan mudah mengalami kelelahan emosional. Sebaliknya, self-boundaries membantu membangun hubungan yang lebih proporsional. Seseorang tetap dapat peduli kepada orang lain tanpa menyerahkan seluruh hak dan kebutuhannya.
6. Menjaga integritas dan keberanian menolak kemudaratan
Memiliki batas diri membuat seseorang lebih mampu berkata tidak secara sopan ketika berhadapan dengan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip. Sikap ini juga membantu seseorang tidak mudah terprovokasi dan tidak ikut terseret dalam perilaku buruk orang lain.
Amalan agar Terhindar dari Iri dan Dengki
1. Menuntut ilmu tentang bahaya hasad
Memahami bahaya hasad dapat menjadi langkah awal untuk menghindarinya. Ketika seseorang mengetahui bahwa iri dan dengki justru merusak dirinya sendiri, ia akan lebih mudah mengendalikan dorongan tersebut. Pengetahuan perlu dilanjutkan dengan latihan nyata agar tidak berhenti sebagai pemahaman.
2. Memperbanyak syukur dan qanaah
Rasa syukur membantu seseorang melihat nikmat yang telah dimilikinya, sementara qanaah mengajarkan sikap menerima ketentuan Allah dengan lapang. Keduanya dapat menjadi benteng ketika muncul kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
3. Mengubah dorongan iri menjadi tindakan positif
Ketika muncul keinginan untuk menjelekkan orang lain, cobalah menggantinya dengan memuji kebaikannya. Ketika muncul kesombongan, lawan dengan tawadhu. Jika muncul keinginan untuk tidak berbagi, latih diri dengan memberi. Latihan semacam ini membutuhkan kesabaran, tetapi dapat membantu membentuk kebiasaan baru.
4. Memperbanyak dzikir, doa, dan membaca Al-Qur'an
Dzikir dan doa dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menenangkan hati. Membaca dan menghayati Al-Qur'an juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kondisi batin agar tidak mudah dikuasai kecemasan, kebencian, maupun iri hati.
5. Bergaul dengan orang saleh dan berlomba dalam kebaikan
Lingkungan memiliki pengaruh terhadap cara seseorang berpikir dan bertindak. Bergaul dengan orang-orang yang mendorong kebaikan dapat membantu mengubah rasa iri menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Dalam QS Al-Hadid ayat 21, umat Islam diperintahkan berlomba-lomba memperoleh ampunan dan rahmat Allah.
6. Membiasakan memuji, tawadhu, dan memberi
Memuji kebaikan orang lain dapat menjadi latihan untuk mengikis rasa iri. Demikian pula sikap tawadhu dan kebiasaan memberi. Ketiganya membantu seseorang mengalihkan perhatian dari apa yang dimiliki orang lain kepada kesempatan untuk melakukan kebaikan.
7. Melakukan muhasabah dan bersabar dalam melawan hawa nafsu
Iri hati tidak selalu hilang dalam sekali usaha. Karena itu, diperlukan muhasabah untuk mengenali pemicu iri, mengevaluasi respons diri, kemudian memperbaikinya secara bertahap. Kesabaran dan mujahadah menjadi bagian penting dalam proses membersihkan hati.
8. Membatasi perbandingan sosial dan memilih informasi secara bijak
Kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain, terutama melalui media sosial, dapat memicu rasa tidak puas dan iri. Mengurangi paparan terhadap konten yang memancing perbandingan serta lebih fokus pada proses diri sendiri dapat membantu menjaga ketenangan dan rasa syukur.
Â
Pertanyaan Seputar Cara Menghadapi Orang Iri Hati
1. Apakah boleh menjauh dari orang yang iri kepada kita?
Boleh, jika kedekatan itu terus menyakiti dan memicu konflik. Namun, jangan memutus silaturahmi tanpa alasan yang jelas. Yang dianjurkan adalah menjaga jarak sehat, tetap beradab, dan menetapkan batas komunikasi.
2. Apa beda iri dan ghibtah?
Iri atau hasad adalah tidak senang melihat nikmat orang lain dan berharap nikmat itu hilang. Ghibtah adalah ingin memperoleh kebaikan serupa tanpa berharap nikmat orang lain hilang. Hasad diharamkan, sedangkan ghibtah dalam kebaikan dipuji.
3. Apa dalil tidak boleh mengorbankan diri demi menyenangkan orang lain?
QS Al-Baqarah: 195 melarang menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa berbuat baik tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan diri secara berlebihan. QS Al-Ma’idah: 2 juga membatasi pertolongan pada kebajikan, bukan dosa dan permusuhan.
4. Bagaimana menolak permintaan orang yang iri tanpa melukai perasaan?
Tolak dengan tegas tetapi sopan, jelaskan batas dan alasan secara singkat, tawarkan alternatif jika memungkinkan, dan hindari permintaan maaf berlebihan. Prinsipnya: menjaga adab tanpa mengorbankan hak diri.
5. Apakah memuji orang yang iri kepada kita dianjurkan?
Dalam terapi melawan iri, memuji adalah cara melawan dorongan negative. Namun, pujian harus jujur dan tidak berpura-pura. Untuk menghadapi orang yang iri, tetap utamakan adab, jangan memancing, dan jangan membalas dengan keburukan.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7915199/original/007053000_1780746673-87a95eff-89b4-4b3c-ac8b-2122d6b93d4b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264387/original/067811000_1782109347-PLN_-_cek_fakta_lip6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380253/original/006195600_1792662795-cek_fakta_-_megawati_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4651071/original/079522700_1700118528-cek_fakta_produk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370055/original/098443100_1791547367-985c9c47-22b7-474c-bfc0-b0a2f8cc1456.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380502/original/037995100_1792719900-1001573273.jpg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1772072/original/054183500_1510817623-ilustrasi_korupsi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380476/original/027448500_1792711812-download__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380427/original/093092400_1792684867-1000064366.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380429/original/081414100_1792684870-1000064347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380415/original/028870400_1792683382-IMG-20261022-WA0145.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380406/original/002560200_1792682216-1000064215.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375032/original/065267400_1792121666-Screenshot_20261016_103122_YouTube.jpg)