Liputan6.com, Jakarta Hampir semua pembeli online kini mencari keluhan sebelum membayar. Satu survei menemukan 96% konsumen secara khusus mencari ulasan negatif setidaknya sesekali. Ciri orang yang membaca ulasan terburuk sebelum membeli barang biasanya terlihat dari kebiasaan menyortir bintang satu lebih dulu. Mereka ingin tahu skenario terburuk sebelum memutuskan.
Kebiasaan ini bukan tanda pesimis, melainkan cara mengurangi risiko. Memahami ciri orang yang membaca ulasan terburuk sebelum membeli barang akan membantu kamu belanja lebih tenang.
Mengacu pada riset di jurnal Frontiers in Psychology, hasil pelacakan mata menunjukkan konsumen mengerahkan lebih banyak perhatian dan usaha kognitif pada ulasan negatif dibandingkan ulasan positif .
Advertisement
Pengertian Kebiasaan Membaca Ulasan Terburuk Sebelum Membeli
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360267/original/089880300_1790605275-Depositphotos_672158778_L.jpg)
Langkah pertama memahami kebiasaan ini adalah mengenal istilah dasarnya. Ulasan atau review adalah komentar dan penilaian dari pembeli sebelumnya, biasanya disertai rating bintang 1 sampai 5. Ulasan terburuk berarti ulasan dengan bintang paling rendah, umumnya bintang satu atau dua, yang berisi keluhan tentang produk, pengiriman, atau layanan penjual. Orang yang membaca ulasan terburuk lebih dulu sengaja melewati pujian dan langsung membuka keluhan.
Dalam praktiknya, kebiasaan ini bisa kamu lihat saat seseorang menekan filter rating terendah di marketplace. Berdasarkan pengamatan ekonomi perilaku yang dirangkum Economy Insights, banyak pembeli sengaja mengurutkan dari rating terendah lebih dulu untuk menguji titik lemah sebuah produk. Jadi, ulasan buruk dipakai sebagai alat uji, bukan sekadar bahan gosip.
Perilaku ini berkaitan dengan konsep psikologi bernama negativity bias, yaitu kecenderungan otak memberi bobot lebih besar pada informasi negatif. Merujuk sebuah makalah di arXiv, pengaruh komentar negatif yang sangat kuat pada konsumen dapat dikaitkan dengan negativity bias, kecenderungan individu memberi perhatian lebih pada kejadian negatif dibandingkan kejadian positif. Artinya, kebiasaan ini sebenarnya alami dan dimiliki banyak orang.
Contoh sederhananya, bayangkan kamu mau membeli ponsel dengan rating 4,8. Daripada membaca ratusan pujian soal kamera, kamu membuka belasan ulasan bintang satu untuk melihat apakah ada keluhan soal baterai atau layanan purnajual. Pola inilah yang menjadi inti pembahasan ciri orang yang membaca ulasan terburuk sebelum membeli barang.
Advertisement
Ciri Orang yang Membaca Ulasan Terburuk Sebelum Membeli Barang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4794189/original/040479400_1712217008-Ilustrasi_main_HP__tertawa__lucu.jpg)
Ada beberapa tanda yang cukup mudah dikenali dari pembeli tipe ini. Coba cek apakah kebiasaanmu sendiri cocok dengan ciri-ciri berikut.
1. Langsung Memakai Filter Bintang Satu
Hal pertama yang dilakukan saat membuka halaman produk adalah menyortir ulasan dari rating terendah. Pujian dianggap sudah bisa ditebak, jadi yang dicari adalah apa yang bisa salah.
2. Lebih Peduli Risiko daripada Keunggulan
Pembeli ini tidak hanya bertanya apa kelebihan produk, tapi juga masalah apa yang mungkin muncul setelah membeli. Mereka mencari alasan untuk tidak menyesal, bukan hanya alasan untuk membeli.
3. Memperhatikan Pola Keluhan yang Berulang
Satu keluhan tidak langsung membuat mereka mundur. Yang diperhatikan adalah apakah keluhan yang sama muncul berkali-kali dari pembeli berbeda, misalnya barang sering rusak saat pengiriman.
4. Membedakan Keluhan Produk dan Keluhan Personal
Mereka bisa memilah mana keluhan yang benar-benar soal kualitas dan mana yang hanya soal selera atau kurir terlambat. Keluhan yang tidak relevan dengan kebutuhannya cenderung diabaikan.
5. Curiga pada Rating yang Terlalu Sempurna
Produk dengan nilai 5,0 tanpa satu pun keluhan justru membuat mereka waspada. Mereka menganggap rating yang sedikit tidak sempurna lebih realistis.
6. Membaca Lebih dari Satu Ulasan
Pembeli tipe ini jarang memutuskan dari satu komentar. Mereka membandingkan beberapa ulasan, kadang dari lebih dari satu platform, sebelum yakin.
7. Memperhatikan Ulasan Berfoto dan Tanggal Terbaru
Ulasan yang menyertakan foto asli dan ditulis baru-baru ini lebih dipercaya. Ini membantu mereka menilai kondisi produk dan penjual saat ini, bukan beberapa tahun lalu.
Sebagaimana dilaporkan Capital One Shopping 91,1% konsumen biasanya membaca minimal satu ulasan sebelum membeli produk, dan 54,7% membaca minimal empat ulasan.
Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346633/original/066317100_1789187017-jonas-leupe-wK-elt11pF0-unsplash.jpg)
Kebiasaan membaca keluhan lebih dulu punya dasar yang cukup jelas. Ulasan positif biasanya hanya mengonfirmasi apa yang sudah dijanjikan iklan, sementara ulasan negatif memberi informasi yang tidak tertulis di deskripsi produk. Karena itu, keluhan terasa lebih bernilai saat kamu harus mengambil keputusan dengan informasi terbatas.
Dilansir dari Synfinity Dynamics, orang membaca ulasan negatif lebih dulu karena ulasan itu membantu mengurangi ketidakpastian dan mengenali risiko potensial sebelum membeli. Dalam belanja online, kamu tidak bisa memegang barang secara langsung, sehingga cerita pengalaman buruk orang lain menjadi pengganti uji coba.
Faktor lainnya adalah besarnya pengaruh satu ulasan buruk yang terlihat. Sebagaimana diungkapkan INSEAD Knowledge dari hasil risetnya, satu ulasan negatif di halaman pertama menurunkan kemungkinan pembelian hingga 42 persen setelah konsumen membuka bagian ulasan. Temuan ini menunjukkan betapa seriusnya orang menanggapi keluhan.
Menariknya, urutan membaca juga ikut berperan. Mengutip penelitian yang dipublikasikan di ResearchGate, eksperimen menunjukkan bahwa ketika konsumen melihat ulasan negatif lebih dulu lalu ulasan positif, niat beli mereka meningkat signifikan. Jadi, membaca keluhan dulu tidak selalu berujung batal membeli, justru bisa membuat keputusan terasa lebih mantap.
Advertisement
Manfaat Membaca Ulasan Terburuk Sebelum Membeli
Manfaat utama kebiasaan ini bagi pengguna adalah terhindar dari kekecewaan. Dengan mengetahui kelemahan produk sejak awal, kamu bisa menilai apakah kelemahan itu masih bisa diterima. Misalnya, keluhan soal warna yang sedikit berbeda dari foto mungkin tidak masalah bagimu, tapi keluhan soal barang mudah rusak tentu perlu dipertimbangkan serius.
Manfaat kedua adalah membantu mendeteksi penjual atau produk yang bermasalah. Keluhan yang berulang tentang barang palsu atau tidak sesuai deskripsi adalah sinyal kuat untuk mencari toko lain. Kamu bisa melengkapinya dengan tips belanja online agar tidak tertipu, seperti mengecek jumlah transaksi dan lama penjual bergabung di platform.
Manfaat ketiga, ulasan buruk justru bisa membangun kepercayaan. Berdasarkan laporan PowerReviews, lebih dari separuh (52%) konsumen secara eksplisit mencari ulasan bintang satu . Pembeli ingin gambaran yang seimbang, dan adanya sedikit keluhan membuat produk terasa lebih jujur daripada deretan pujian tanpa cela.
Manfaat keempat adalah keputusan yang lebih rasional. Dibanding membeli karena terbawa diskon atau foto yang menarik, kamu menimbang fakta dari pengalaman nyata pembeli lain. Kebiasaan ini sangat membantu untuk barang mahal seperti elektronik, di mana salah pilih bisa merugikan cukup besar.
Risiko dan Sisi Lain yang Perlu Kamu Waspadai
Meski bermanfaat, kebiasaan ini punya sisi lain yang jarang dibahas. Ulasan negatif ternyata bisa memengaruhi cara kamu merasakan produk, bahkan setelah barang sampai di tangan. Kamu jadi lebih fokus mencari kekurangan yang sudah disebut orang lain, sehingga pengalaman memakai produk terasa lebih buruk dari seharusnya.
Sebagaimana dikutip dari Journal of Marketing Research, studi terbaru menemukan bahwa konsumen yang membaca ulasan negatif sebelum mengonsumsi produk merasakan produk tersebut lebih negatif dibandingkan konsumen yang tidak membaca ulasan apa pun. Penelitian yang sama menyebut efek ini bisa dikurangi bila konsumen didorong untuk membentuk pendapat sendiri.
Risiko berikutnya adalah terlalu cepat menolak produk yang sebenarnya bagus. Satu keluhan yang emosional bisa terasa lebih berat daripada puluhan ulasan positif. Merujuk penjelasan Science of Money tentang riset tersebut, manusia secara alami lebih memperhatikan informasi negatif karena terasa lebih informatif dan mengejutkan. Akibatnya, penilaianmu bisa menjadi tidak seimbang.
Advertisement
Tips Membaca Ulasan Terburuk dengan Bijak
Supaya kebiasaan ini benar-benar membantu, kamu perlu cara membaca yang tepat. Berikut langkah praktis yang bisa langsung kamu terapkan saat belanja.
1. Mulai dari Rating Terendah, Lalu Baca yang Tertinggi
Buka ulasan bintang satu untuk melihat risikonya, kemudian lanjutkan ke ulasan bintang lima. Dengan begitu kamu mendapat gambaran utuh, bukan hanya sisi buruknya.
2. Cari Pola, Bukan Satu Keluhan
Catat keluhan yang muncul berulang dari beberapa pembeli berbeda. Satu keluhan bisa jadi kasus kebetulan, tapi lima keluhan serupa adalah tanda masalah nyata.
3. Pisahkan Masalah Produk dan Masalah Pengiriman
Keluhan soal kurir terlambat tidak menggambarkan kualitas barang. Fokuskan perhatian pada keluhan yang menyangkut fungsi, bahan, dan keaslian produk.
4. Sesuaikan dengan Kebutuhanmu
Tanyakan pada diri sendiri apakah keluhan itu berpengaruh pada cara kamu memakai barang. Kelemahan yang tidak mengganggu kebutuhanmu tidak perlu jadi alasan batal membeli.
5. Prioritaskan Ulasan Berfoto dan Terbaru
Ulasan dengan foto asli lebih sulit dipalsukan, dan ulasan terbaru mencerminkan kondisi produk saat ini. Waspadai komentar yang bahasanya berlebihan atau tidak logis.
6. Bentuk Penilaianmu Sendiri Setelah Barang Datang
Saat barang sudah diterima, coba nilai dengan pikiran terbuka tanpa terus mengingat keluhan orang lain. Langkah ini membantu kamu menghindari jebakan ikut merasa kecewa hanya karena sugesti dari ulasan.
Pada akhirnya, ciri orang yang membaca ulasan terburuk sebelum membeli barang menunjukkan sikap hati-hati yang sehat. Asalkan kamu tetap membaca secara seimbang dan sesuai kebutuhan, kebiasaan ini bisa jadi senjata ampuh agar setiap rupiah yang kamu keluarkan tidak berakhir dengan penyesalan.
Tanya Jawab Seputar Topik Diatas
1. Mengapa orang membaca ulasan negatif sebelum membeli barang?
Ulasan negatif membantu calon pembeli mengetahui kekurangan produk dan risiko yang mungkin muncul setelah transaksi.
2. Apakah membaca ulasan bintang satu berarti seseorang terlalu berhati-hati?
Tidak. Kebiasaan ini bisa menjadi bagian dari upaya mengevaluasi produk sebelum membeli, bukan selalu menunjukkan sikap pesimis.
3. Apa manfaat membaca ulasan terburuk sebelum berbelanja online?
Pembeli dapat mengenali masalah yang sering dialami pengguna lain, seperti kualitas produk, ketahanan barang, atau ketidaksesuaian dengan deskripsi.
4. Mengapa ulasan negatif lebih menarik perhatian konsumen?
Informasi negatif dapat membantu konsumen mengidentifikasi potensi kerugian sehingga mereka cenderung memberikan perhatian lebih untuk menilai risiko pembelian.
5. Bagaimana cara menyikapi ulasan negatif sebelum membeli barang?
Periksa pola keluhan yang berulang, baca ulasan positif sebagai pembanding, dan perhatikan foto atau video dari pembeli. Jangan langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan satu ulasan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066076/original/004010200_1656393110-Rampok1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7915199/original/007053000_1780746673-87a95eff-89b4-4b3c-ac8b-2122d6b93d4b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264387/original/067811000_1782109347-PLN_-_cek_fakta_lip6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380253/original/006195600_1792662795-cek_fakta_-_megawati_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373346/original/018567900_1791963107-01M4TE2X0Q5EEZ6K7VQ6105Y5P.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375295/original/028166300_1792138140-Gemini_Generated_Image_libaollibaolliba.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380104/original/040587500_1792658077-18788.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3983972/original/010349300_1649048680-rnaol-oKHHspCSWHQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358136/original/004574800_1790324439-01M3B1DN7GHG5PRSQYB0QMJMDH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373352/original/095536800_1791963112-01M4TDZCGXZFTAXN7J9193R8A7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377120/original/029769700_1792405872-01M59S15XYE6FN2GS8F8GF455Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374107/original/053598300_1792035688-01M4WRTP0XEXAJ14YEE7CWTHXS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372095/original/067067800_1791867676-01M4SRQ56RKME27V4A7VTC5HYB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377847/original/044796600_1792480606-28158.jpg)