Liputan6.com, Jakarta Saat berbelanja, ada orang yang tetap mengajukan tawaran meski harga barang sudah jelas dan dianggap wajar. Kebiasaan ini terkadang dianggap sekadar strategi mendapatkan harga murah. Namun, di baliknya bisa terdapat pola perilaku tertentu. Mengenali ciri orang yang suka nawar dapat memberi gambaran tentang cara seseorang mengambil keputusan.
Menariknya, kebiasaan menawar tidak selalu berkaitan dengan kondisi keuangan atau keinginan menghemat uang. Ada orang yang merasa puas ketika berhasil mendapatkan harga lebih rendah, sementara lainnya menikmati proses tawar-menawar itu sendiri. Psikologi melihat perilaku tersebut dari berbagai sisi, termasuk cara seseorang memandang nilai, kontrol, dan keputusan.
Lantas, apa saja ciri orang yang suka nawar meski harga sudah pas? Kebiasaan tersebut dapat terlihat dari cara berbicara, mengambil keputusan, hingga respons ketika menghadapi harga yang sulit diturunkan. Berikut beberapa ciri orang yang suka nawar yang dapat dikenali dalam kehidupan sehari-hari.
Advertisement
Sekilas Tentang Tawar Menawar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362031/original/047986300_1790755989-07f65b03-df09-434a-94f8-5c008e524467.jpg)
Sebelum masuk ke daftar cirinya, penting memahami apa yang sebenarnya terjadi. Menawar meski harga sudah pas adalah kebiasaan mengajukan tawaran lebih rendah bukan karena benar-benar keberatan dengan nominalnya, melainkan karena proses menawarnya sendiri memberi kepuasan tersendiri.
Pada dasarnya, tawar-menawar adalah bentuk negosiasi, yaitu komunikasi dua arah untuk mencapai kesepakatan harga. Bagi sebagian orang, memahami proses tawar-menawar membuat aktivitas ini terasa wajar dan menyenangkan, sementara bagi yang lain justru memicu rasa canggung.
Banyak orang secara alami ingin menyenangkan lawan bicara sehingga merasa bersalah ketika penjual berpura-pura tersinggung atas tawaran mereka. Orang yang tetap gemar menawar meski harga sudah pas justru mampu melewati rasa canggung itu karena dorongan untuk menang lebih kuat daripada rasa sungkan.
Advertisement
Ciri Orang yang Suka Nawar meski Harga Sudah Pas Menurut Psikologi
Salah satu ciri paling menonjol adalah kecenderungan melihat tawar-menawar sebagai tantangan yang harus dimenangkan. Bagi mereka, keberhasilan menurunkan harga, sekecil apa pun, terasa seperti bukti kecerdikan dan kemampuan bernegosiasi. Rasa puas inilah yang membuat mereka mengulang kebiasaan tersebut, bahkan ketika selisih harganya sebenarnya tidak seberapa.
Ciri berikutnya adalah kebutuhan akan rasa kontrol atas transaksi. Orang seperti ini tidak suka menerima harga secara pasif; mereka ingin merasa punya andil dalam menentukan nilai akhir yang dibayar. Tak heran, mereka biasanya juga tergolong teliti dan gemar membandingkan harga sebelum membeli, karena ingin memastikan tidak ada peluang penghematan yang terlewat.
Di sisi lain, sebagian orang menawar semata karena faktor kebiasaan yang sudah mengakar sejak lama. Mereka tumbuh di lingkungan tempat menawar dianggap wajar, sehingga pertanyaan "bisa kurang tidak?" menjadi mode default setiap berbelanja. Kebiasaan hemat semacam ini sering disalahartikan sebagai pelit, padahal kerap kali justru menandakan ciri orang cermat yang mempertimbangkan nilai jangka panjang.
Ada pula unsur skeptisisme terhadap harga yang tertera. Orang dengan ciri ini cenderung tidak langsung percaya bahwa angka di label adalah harga terbaik, sehingga menawar menjadi cara menguji kewajarannya. Menariknya, sikap ini berkebalikan dengan mereka yang tidak pernah menawar harga karena menganggap harga tertera sudah final.
Dorongan Psikologis yang Membuat Seseorang Terus Menawar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362032/original/055780400_1790755989-8d1179c0-c7dd-4552-9238-8ef90da3ded9.jpg)
Kalau ditelusuri lebih dalam, ada beberapa mekanisme psikologis yang bekerja di balik kebiasaan ini. Yang pertama adalah sistem penghargaan di otak: keberhasilan mendapatkan diskon memicu pelepasan dopamin, zat kimia yang sama yang muncul saat seseorang memenangkan permainan. Sensasi menang inilah yang membuat menawar terasa menyenangkan dan ingin diulang.
Faktor kedua berhubungan dengan disonansi kognitif, yaitu rasa tidak nyaman ketika seseorang khawatir membayar lebih mahal dari seharusnya. Menawar menjadi cara meredakan kegelisahan itu dan meyakinkan diri bahwa keputusan belanjanya sudah tepat. Contoh sederhananya, bayangkan Anda membeli oleh-oleh di pasar; meski harganya sudah murah, berhasil menawar seribu atau dua ribu rupiah tetap terasa memuaskan karena Anda merasa lebih menguasai keadaan.
Advertisement
Pengaruh Kepribadian dan Budaya pada Kebiasaan Menawar
Kepribadian turut menentukan seberapa gigih seseorang menawar. Merujuk laporan Program on Negotiation Harvard Law School, riset Bruce Barry dan Raymond Friedman menemukan bahwa orang dengan kepribadian kooperatif dan mudah percaya justru memperoleh hasil lebih rendah dibanding pribadi yang kompetitif dan asertif dalam tawar-menawar harga. Artinya, mereka yang gemar menawar umumnya punya keberanian lebih untuk mempertahankan pendirian tanpa merasa sungkan.
Selain kepribadian, faktor budaya juga berperan besar. Di banyak daerah, menawar adalah bagian tak terpisahkan dari transaksi, bahkan dianggap sebagai bentuk penghormatan dan keakraban dengan penjual. Memahami karakteristik negosiasi semacam ini membantu Anda melihat bahwa kebiasaan menawar tidak selalu bermakna negatif.
Ada pula kaitannya dengan rasa percaya. Di lingkungan dengan tingkat kepercayaan yang rendah, orang cenderung lebih sering menawar karena tidak sepenuhnya yakin harga yang ditetapkan sudah adil. Bagi sebagian orang, keberhasilan menawar bahkan bisa menjadi penopang harga diri karena merasa mampu mengendalikan situasi.
Ketika Kebiasaan Menawar Mengarah ke Perilaku Kompulsif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362033/original/065593000_1790755989-d564712f-47a2-4c2b-bfa6-7d193fd237ec.jpg)
Sebagian besar kebiasaan menawar tergolong normal dan sehat. Namun, ada kalanya dorongan menawar berubah menjadi kompulsif, yaitu ketika seseorang merasa harus menawar terus-menerus, sulit menghentikannya, dan menyadari perilakunya kadang tidak sejalan dengan tujuannya sendiri. Pada titik ini, menawar tidak lagi soal penghematan, melainkan pelampiasan dorongan yang sulit dikendalikan.
Fenomena serupa terlihat pada perilaku belanja kompulsif. Berdasarkan meta-analisis yang terhimpun di National Library of Medicine terhadap 40 studi dari 16 negara, sekitar 4,9% orang dewasa mengalami perilaku belanja kompulsif, dan pembelian sering dilakukan untuk memperbaiki suasana hati, meredakan stres, atau memperoleh pengakuan sosial.Meski menawar dan belanja kompulsif adalah dua hal berbeda, keduanya bisa sama-sama berakar pada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.
Perlu digarisbawahi, orang yang sangat memperhatikan nominal, misalnya selalu menghitung kembalian, belum tentu kompulsif; sering kali itu hanya bentuk ketelitian. Namun, jika kebiasaan menawar sudah menimbulkan konflik dengan penjual, rasa malu, atau mengganggu hubungan sosial, ada baiknya menyikapinya lebih serius. Kesadaran diri menjadi langkah awal untuk membedakan mana menawar yang wajar dan mana yang sudah berlebihan.
Advertisement
Cara Menyikapi dan Menyalurkan Dorongan Menawar dengan Bijak
Lalu, bagaimana menyikapi dorongan menawar agar tetap sehat? Langkah pertama adalah mengenali motivasi Anda: apakah menawar karena benar-benar butuh penghematan, atau sekadar ingin merasakan sensasi menang. Sebagaimana dikutip dari SoFi, kunci menawar yang bijak adalah menekan dorongan belanja impulsif serta memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.
Jika Anda memang ingin menawar, lakukan dengan sopan dan tetapkan lebih dulu nilai wajar barang tersebut agar tidak mudah terpengaruh angka yang disodorkan penjual. Menariknya, cara Anda menyebut angka pun berpengaruh.Â
Terakhir, ketahui kapan harus berhenti. Menawar yang sehat berujung pada kesepakatan yang membuat kedua pihak nyaman, bukan pada kemenangan sepihak yang mengorbankan hubungan. Kebiasaan mengelola uang dengan disiplin, seperti mereka yang rapi menata uang di dompet, justru lebih menentukan kesehatan finansial dibanding sekadar menang menawar.
Pada akhirnya, ciri orang yang suka nawar meski harga sudah pas menurut psikologi mengingatkan kita bahwa perilaku belanja selalu punya cerita di baliknya. Ada yang menawar demi kontrol, demi sensasi menang, atau sekadar mengikuti kebiasaan lama yang sudah melekat. Dengan memahaminya, Anda bisa lebih bijak menilai diri sendiri maupun orang lain, sekaligus menjadikan setiap transaksi sebagai interaksi yang menyenangkan, bukan ajang saling menjatuhkan.
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Suka Menawar Menurut Psikologi
Apa penyebab seseorang suka menawar meski harga sudah pas?
Kebiasaan ini umumnya didorong oleh kebutuhan akan rasa kontrol atas transaksi, kepuasan saat berhasil menurunkan harga, serta pelepasan dopamin di otak yang membuat proses tawar-menawar terasa seperti kemenangan kecil.
Apakah suka menawar berarti pelit atau kekurangan uang?
Tidak selalu. Kebiasaan menawar sering kali tidak berkaitan dengan kondisi keuangan, melainkan lebih pada kepuasan psikologis dari proses tawar-menawar itu sendiri atau kebiasaan yang terbentuk sejak lama di lingkungan tertentu.
Bagaimana ciri kepribadian orang yang gemar menawar?
Mereka cenderung kompetitif, asertif, dan berani mempertahankan pendirian saat bernegosiasi, berbeda dari orang berkepribadian kooperatif dan mudah percaya yang biasanya mendapatkan hasil tawar-menawar lebih rendah.
Kapan kebiasaan menawar sudah tergolong tidak sehat?
Kebiasaan menawar menjadi kompulsif ketika seseorang merasa harus terus-menerus menawar, sulit menghentikannya, dan perilakunya mulai menimbulkan konflik dengan penjual atau rasa malu secara sosial.
Bagaimana cara menawar dengan bijak agar tetap sehat secara psikologis?
Kenali dulu motivasi di balik keinginan menawar, tentukan nilai wajar barang sebelum bernegosiasi, lakukan dengan sopan, dan ketahui kapan harus berhenti agar kesepakatan tetap nyaman bagi kedua pihak.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362040/original/020203500_1790756057-Cek_fakta_gubernur_papua.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361803/original/099544000_1790748121-Cek_fakta_Bantuan_sembako.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362030/original/039094500_1790755989-0b3f5ac1-8c9d-4aef-acde-650a4d374dcf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)