Cara Mengenali Orang yang Childish dan Egois Dilihat dari Ucapannya Menurut Pakar Psikologi

Cara mengenali orang yang childish dan egois dari ucapannya menurut pakar psikologi, dari kalimat lepas tanggung jawab hingga gaslighting yang halus.

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menghadapi seseorang yang kekanak-kanakan sekaligus hanya mementingkan diri sendiri memang menguras energi. Menariknya, cara mengenali orang yang childish dan egois dilihat dari ucapannya menurut pakar psikologi bisa dilakukan cukup dengan menyimak kalimat yang rutin mereka lontarkan.

Orang seperti ini kerap menghindar dari tanggung jawab, menyalahkan pihak lain, lalu menutup percakapan begitu saja. Karena itu, cara mengenali orang yang childish dan egois dilihat dari ucapannya menurut pakar psikologi menjadi bekal penting agar kamu tidak mudah terseret pola komunikasi mereka.

Sifat ini tak selalu terlihat dari luar dan sering baru terbaca saat mereka tertekan atau dikritik. 

Cara Mengenali Orang yang Childish dan Egois dari Kalimat Penghindar Tanggung Jawab

Salah satu cara mengenali orang yang childish dan egois dilihat dari ucapannya menurut pakar psikologi adalah mencermati bagaimana mereka menyikapi sebuah kesalahan. Orang yang belum matang cenderung memilih kalimat khas yang menjauhkan diri dari akuntabilitas ketimbang mengakui perannya. Alih-alih menyelesaikan masalah, mereka memilih jalan pintas agar tidak terlihat bersalah.

Dilansir dari Psychology Today, kematangan emosional justru melibatkan kesadaran diri, empati, dan kemampuan mengelola diri saat berkomunikasi. Ketika unsur-unsur itu absen, seseorang jauh lebih mudah lari dari tanggung jawab dan mengaburkan siapa yang sebenarnya berbuat salah, sehingga kematangan emosional menjadi pembeda utamanya.

  1. "Itu Bukan Salahku": Kalimat ini menjadi tameng favorit untuk melepaskan diri dari kesalahan. Begitu ada masalah, mereka langsung menyatakan diri tidak bersalah dan kabur dari situasi, tanpa mau menimbang peran mereka sendiri.

  2. "Kalau Kamu Tidak Begitu, Ini Tidak Akan Terjadi": Mereka melempar kesalahan ke orang lain, seolah dirinya sekadar korban keadaan. Taktik ini membuat lawan bicara yang justru merasa bersalah, padahal sumber persoalannya ada pada mereka.

  3. "Aku Tidak Perlu Menjelaskan Diriku": Terdengar seperti ucapan anak kecil yang sedang ngambek, kalimat ini dipakai untuk menutup komunikasi yang jujur. Tujuannya jelas, menghindari pertanggungjawaban atas apa pun yang telah mereka lakukan.

  4. "Itu Masalahmu, Bukan Masalahku": Tanggung jawab yang seharusnya dipikul bersama dialihkan sepenuhnya kepada orang lain. Ungkapan ini menandakan seseorang cuci tangan demi kenyamanannya sendiri.

  5. "Aku Cuma Bercanda": Frasa ini dipakai secara pasif-agresif untuk melontarkan kritik menyakitkan, lalu berlepas tangan. Sekilas terdengar seperti upaya mencairkan suasana, tetapi sebenarnya cara halus untuk menyindir tanpa menanggung dampaknya.

Cara Mengenali Orang yang Childish dan Egois dari Pola Bicara yang Meremehkan

Kebiasaan meremehkan perasaan dan pendapat orang lain juga menjadi cara mengenali orang yang childish dan egois dilihat dari ucapannya menurut pakar psikologi yang tak kalah penting. Kalimat-kalimatnya kerap terdengar sepele, tetapi diam-diam menutup ruang diskusi yang sehat dan membuat lawan bicara merasa kecil. Tak jarang, pola ini muncul pada pasangan yang belum dewasa secara emosional.

Lindsay C. Gibson, psikolog klinis penulis buku Adult Children of Emotionally Immature Parents, dikutip dari QuoteFancy, menyatakan, "Orang yang tidak dewasa secara emosional sangat berpusat pada diri sendiri; dalam interaksi apa pun, semua jalan berujung kembali kepada mereka."

  1. "Kamu Bereaksi Berlebihan": Kalimat ini adalah bentuk gaslighting, yaitu membuat lawan bicara meragukan perasaannya sendiri. Pesan tersiratnya sederhana, kamulah masalahnya, bukan mereka.

  2. "Kamu Terlalu Sensitif": Senada dengan yang sebelumnya, ungkapan ini menjaga ego mereka dengan menyalahkan kepekaan orang lain. Perasaanmu dianggap berlebihan supaya mereka tidak perlu menghadapi kritik.

  3. "Kamu Selalu..." atau "Kamu Tidak Pernah...": Generalisasi hitam-putih ini menyederhanakan seseorang menjadi satu pola buruk, tanpa ruang bagi konteks maupun perubahan. Pola bicara semacam ini khas orang yang mau menang sendiri.

  4. "Terserah": Biasanya diucapkan sambil mengangkat bahu dan wajah tak peduli. Kalimat ini dipakai untuk menutup jalur komunikasi dan pergi dari diskusi yang sebenarnya belum selesai.

  5. "Memang Begini Aku": Kepribadian dijadikan tameng agar tak perlu berubah. Seolah kenyamanan dirinya jauh lebih penting daripada perasaan orang yang ia sakiti.

  6. "Aku Tidak Bisa Berbuat Apa-apa": Ungkapan ini menandakan penolakan untuk mengendalikan tindakan dan emosinya sendiri. Segala perilaku buruk dibingkai sebagai sesuatu di luar kuasanya, sehingga mereka merasa tak wajib berbenah.

 

Langkah Menghadapi Orang Childish dan Egois Menurut Pakar Psikologi

Mengetahui daftar kalimatnya saja belum cukup, sebab langkah berikut ini melengkapi cara mengenali orang yang childish dan egois dilihat dari ucapannya menurut pakar psikologi. Tujuannya bukan memaksa mereka berubah, melainkan melindungi kewarasan dan energimu sendiri saat harus tetap berinteraksi. Sikap yang tepat akan mencegahmu ikut larut dalam pusaran drama mereka, termasuk saat berhadapan dengan tanda pria egois menurut psikologi.

Sebagaimana diungkapkan Cleveland Clinic, orang yang berpusat pada diri sendiri kadang masuk dalam kategori gangguan kepribadian seperti histrionik atau narsistik, sehingga menetapkan batasan yang sehat menjadi kunci utama. Karena itu, memahami cara menghadapinya jauh lebih realistis daripada berharap kepribadian mereka berubah.

  1. Jangan Ambil Hati: Jangan menyerap ucapan mereka secara pribadi. Begitu kamu menganggapnya sebagai serangan yang serius, kamu justru mudah dimanipulasi dan dikendalikan.

  2. Tetapkan Batasan yang Jelas: Batasan sehat membantumu menyampaikan kebutuhan tanpa larut dalam drama. Batasan ini juga menjadi rem agar perilaku mereka tidak melewati garis yang kamu tetapkan.

  3. Batasi Interaksi Negatif: Kurangi frekuensi bertemu bila hubungan itu terus menguras tenaga. Perbanyak ruang untuk interaksi positif dan menjauh sejenak saat suasananya mulai toksik.

  4. Jangan Berharap Mereka Berubah: Menaruh ekspektasi bahwa mereka akan berubah hanya akan membuatmu kecewa. Fokuslah pada caramu merespons, karena satu-satunya yang bisa kamu kendalikan adalah dirimu sendiri.

  5. Cari Bantuan Profesional: Jika pola ini muncul pada pasangan atau anggota keluarga dan memicu stres berkepanjangan, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog. Bantuan profesional membantumu memilah mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang perlu dilepaskan demi kesehatan mental.

Mengapa Seseorang Bisa Bersikap Childish dan Egois

Sifat childish dan egois jarang muncul begitu saja tanpa akar. Banyak ahli mengaitkannya dengan sisi kekanak-kanakan dalam diri yang belum selesai, kerap disebut inner child, akibat pengalaman masa kecil yang membentuk cara seseorang merespons konflik ketika dewasa. Sebagian orang mengembangkan pola ini sejak kecil, sebagian lagi baru menampakkannya di kemudian hari saat menghadapi tekanan. Menariknya, dalam porsi yang wajar, sikap childish yang ceria tidak selalu buruk, tetapi menjadi masalah ketika berpadu dengan keegoisan yang merugikan orang lain.

Lindsay C. Gibson menekankan bahwa orang yang belum dewasa secara emosional cenderung berorientasi pada diri sendiri, bukan merefleksikan diri, sehingga mereka sulit bertanya, "apa peranku dalam masalah ini?". Gibson, dikutip dari Goodreads, menyatakan, "Jika kamu tumbuh dengan orangtua yang tidak dewasa secara emosional, kamu bisa merasa tertarik pada orang-orang yang egosentris dan eksploitatif." Pola inilah yang membuat lingkaran sifat egois sering berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pola komunikasi seperti ini pelan-pelan merusak hubungan tanpa disadari. Mengacu pada sebuah studi tahun 2012 yang dikutip YourTango, banyak orang menolak meminta maaf karena hal itu dirasa menurunkan harga diri dan kendali atas dirinya. Akibatnya, orang yang kekanak-kanakan kerap kehilangan orang-orang terdekat hanya karena gengsi mengakui kesalahan, sementara pasangan atau rekannya perlahan merasa lelah dan tak dihargai.

Kabar baiknya, sifat ini bisa dilatih untuk berubah dengan kesadaran dan kemauan yang kuat. Sebagaimana dilaporkan Learning Mind, orang yang matang memiliki locus of control internal, yakni mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi, berbeda dari orang kekanak-kanakan yang punya locus of control eksternal dan gemar menyalahkan keadaan. Albert Ellis, psikolog terkemuka, dikutip dari geediting, menyatakan, "Tahun-tahun terbaik dalam hidupmu adalah saat kamu memutuskan bahwa masalahmu adalah milikmu sendiri, bukan menyalahkan orang lain."

Pada akhirnya, memahami cara mengenali orang yang childish dan egois dilihat dari ucapannya menurut pakar psikologi bukanlah soal menghakimi, melainkan menjaga diri. Dengan mengenali pola kalimatnya sejak dini, kamu bisa merespons lebih tenang, menetapkan batasan, serta memilih lingkungan yang lebih sehat, sambil belajar agar tidak jatuh ke dalam pola yang sama. Sikap dewasa secara emosional memang menuntut usaha, tetapi hasilnya berupa hubungan yang lebih jujur, hangat, dan penuh empati.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang Childish dan Egois

Apa perbedaan orang childish dan orang egois?

Keduanya sangat berkaitan dan sering tumpang tindih. Childish merujuk pada seseorang yang secara emosional belum dewasa, sedangkan egois menggambarkan kecenderungan mementingkan diri sendiri. Pada praktiknya, sikap egois umumnya merupakan bagian dari ketidakdewasaan emosional itu, sehingga orang yang childish kerap tampak egois pula.

Bagaimana cara menghadapi orang yang childish dan egois?

Kuncinya adalah tidak mengambil hati setiap ucapan mereka, menetapkan batasan yang jelas, serta membatasi interaksi yang menguras energi. Hindari berharap bisa mengubah mereka dan fokuslah pada caramu merespons. Bila pola ini menimbulkan stres berkepanjangan, mintalah bantuan psikolog atau tenaga profesional.

Apa penyebab seseorang bersikap childish dan egois?

Penyebabnya beragam, mulai dari pengalaman masa kecil yang membentuk inner child, pola asuh, hingga kondisi kepribadian tertentu. Rendahnya empati serta ketidakmampuan mengelola emosi membuat sifat ini bertahan hingga dewasa. Dengan kesadaran diri dan latihan, sebagian besar orang tetap bisa belajar menjadi lebih matang.