12 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Egois, Sekilas Terlihat Biasa tetapi Bisa Merusak Hubungan

Pola kalimat seseorang dapat mengungkap karakter. Psikolog mengidentifikasi 12 frasa yang sering diucapkan orang egois, menunjukkan kurangnya empati hingga mani

Diterbitkan 28 Juli 2026, 12:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kalimat yang sering diucapkan seseorang sering kali mencerminkan cara berpikir dan sikapnya terhadap orang lain. Meski tidak selalu diucapkan dengan niat buruk, beberapa ungkapan dapat menjadi tanda bahwa seseorang terlalu berpusat pada diri sendiri atau memiliki kecenderungan egois.

Dalam psikologi, egois tidak selalu berarti jahat. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk memprioritaskan dirinya dalam situasi tertentu. Namun, ketika kepentingan pribadi selalu ditempatkan di atas kebutuhan orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya, perilaku tersebut dapat mengganggu hubungan sosial, keluarga, maupun lingkungan kerja.

Sejumlah pakar psikologi menjelaskan bahwa pola komunikasi orang egois biasanya memperlihatkan rasa berhak, sulit menerima kritik, hingga kurang mampu berempati. Karena itu, mengenali kalimat-kalimat yang sering mereka gunakan dapat membantu kita memahami dinamika komunikasi sekaligus menentukan cara meresponsnya secara sehat. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (28/7/2026).

 

1. "Kritik seperti ini benar-benar menghina saya."

Salah satu kalimat yang sering diucapkan oleh orang egois adalah menganggap setiap kritik sebagai bentuk penghinaan. Stefan Falk menjelaskan bahwa individu yang merasa dirinya selalu benar cenderung tidak mampu membedakan kritik yang membangun dengan serangan terhadap harga dirinya.

Alih-alih mendengarkan masukan, mereka lebih sibuk membela diri atau mencari alasan mengapa kritik tersebut tidak layak diterima. Sikap ini membuat proses belajar dan berkembang menjadi terhambat karena mereka menolak kemungkinan bahwa dirinya masih memiliki kekurangan.

Dalam hubungan kerja, respons seperti ini juga dapat menyulitkan kolaborasi. Rekan kerja akhirnya enggan memberikan saran karena khawatir akan memicu konflik yang tidak perlu.

2. "Ide saya selalu layak diprioritaskan."

Kepercayaan diri merupakan hal yang positif. Namun, ketika seseorang selalu merasa pendapatnya paling benar dan paling penting, hal itu dapat menjadi tanda adanya rasa superior yang berlebihan.

Stefan Falk menyebut bahwa orang yang sangat egois memiliki kecenderungan meyakini bahwa ide mereka selalu membawa nilai lebih dibandingkan gagasan orang lain. Mereka jarang mempertimbangkan kemungkinan bahwa usulnya masih memiliki kekurangan atau memerlukan penyempurnaan.

Akibatnya, diskusi berubah menjadi ajang mencari pembenaran, bukan ruang bertukar pikiran. Orang lain pun merasa pendapatnya tidak dihargai sehingga komunikasi menjadi kurang sehat.

3. "Keberhasilan mereka membuat saya dirugikan."

Bagi sebagian orang, keberhasilan orang lain bisa menjadi sumber inspirasi. Namun, individu yang egois justru sering memandang pencapaian orang lain sebagai ancaman terhadap dirinya.

Menurut Stefan Falk, pola pikir ini muncul karena mereka sulit melihat bahwa kesuksesan bukanlah sumber daya yang terbatas. Mereka percaya bahwa ketika orang lain berhasil, berarti kesempatan mereka otomatis berkurang.

Cara pandang tersebut mendorong rasa iri, persaingan yang tidak sehat, bahkan keengganan untuk membantu orang lain berkembang. Padahal, dalam banyak situasi, keberhasilan tim justru membuka peluang yang lebih besar bagi semua anggotanya.

4. "Saya lebih pantas mendapatkannya."

Ungkapan ini terdengar sederhana, tetapi dapat menunjukkan adanya rasa berhak atau entitlement. Cottonwood Psychology menjelaskan bahwa orang yang terlalu berpusat pada diri sendiri sering kali merasa kebutuhan mereka harus didahulukan dibandingkan kepentingan orang lain.

Mereka jarang mempertimbangkan konteks, usaha, maupun kondisi yang dihadapi orang lain. Fokus utamanya adalah memenuhi keinginan pribadi secepat mungkin.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap seperti ini dapat muncul ketika memperebutkan promosi, pembagian tugas, hingga hal-hal kecil seperti antrean atau pembagian waktu. Jika terus dipertahankan, hubungan sosial menjadi dipenuhi rasa tidak adil karena setiap keputusan selalu diarahkan untuk menguntungkan dirinya sendiri.

5. "Kalau kamu benar-benar peduli, kamu pasti mau melakukannya."

Kalimat ini terdengar seperti permintaan biasa, tetapi menurut Cottonwood Psychology, sebenarnya dapat menjadi bentuk manipulasi emosional.

Alih-alih menyampaikan kebutuhan secara terbuka, orang egois mengaitkan kasih sayang, loyalitas, atau kepedulian dengan kesediaan seseorang memenuhi keinginannya. Orang lain akhirnya merasa bersalah jika menolak, meskipun memiliki alasan yang masuk akal.

Komunikasi yang sehat seharusnya menjelaskan kebutuhan secara jujur tanpa menjadikan hubungan sebagai alat untuk menekan atau mengendalikan lawan bicara.

6. "Kenapa kamu selalu berusaha mengatur saya?"

Tidak semua arahan merupakan bentuk kontrol yang berlebihan. Dalam lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari, aturan dan pembagian peran justru diperlukan agar setiap orang dapat bekerja sama dengan baik.

Namun, Stefan Falk menjelaskan bahwa orang yang memiliki rasa berhak (entitlement) cenderung memandang setiap arahan sebagai ancaman terhadap kebebasannya. Mereka menganggap instruksi, masukan, atau aturan sebagai upaya mengendalikan dirinya, bukan sebagai bagian dari kerja sama.

Akibatnya, mereka lebih sering menolak saran daripada mencoba memahaminya. Padahal, kemampuan menerima arahan merupakan salah satu ciri kedewasaan emosional dan profesional.

7. "Kamu terlalu sensitif."

Kalimat ini sering terdengar ketika seseorang merasa tersinggung oleh ucapan atau tindakan orang lain. Sayangnya, menurut Cottonwood Psychology, ungkapan tersebut sering digunakan untuk mengalihkan perhatian dari perilaku yang sebenarnya menyakiti orang lain.

Alih-alih mengakui bahwa perkataannya mungkin kurang tepat, orang egois justru menyalahkan respons emosional lawan bicaranya. Pesan yang tersirat adalah bahwa masalahnya bukan pada ucapan mereka, melainkan pada perasaan orang lain.

Jika dilakukan berulang kali, pola komunikasi seperti ini dapat membuat seseorang merasa pendapat dan emosinya tidak dihargai. Dalam psikologi, sikap yang lebih sehat adalah mendengarkan terlebih dahulu, mencoba memahami sudut pandang lawan bicara, lalu mencari solusi bersama.

8. "Saya tidak punya waktu untuk ini."

Setiap orang tentu memiliki kesibukan. Namun, cara menyampaikan keterbatasan waktu juga mencerminkan penghargaan terhadap orang lain.

Cottonwood Psychology menjelaskan bahwa kalimat ini dapat terdengar meremehkan apabila digunakan untuk mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Seolah-olah waktu dan kepentingan orang lain tidak sama berharganya.

Sebagai alternatif, seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk sekaligus menawarkan waktu lain untuk melanjutkan diskusi. Respons sederhana tersebut menunjukkan adanya rasa hormat tanpa harus mengorbankan batasan pribadi.

9. "Kamu tidak menghormati saya karena tidak setuju."

Perbedaan pendapat merupakan bagian alami dari komunikasi. Sayangnya, orang yang egois sering kali menganggap ketidaksetujuan sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya.

Menurut Stefan Falk, individu yang terlalu mementingkan dirinya sendiri biasanya berharap pandangan mereka selalu diterima. Ketika orang lain memiliki perspektif berbeda, mereka mengartikannya sebagai sikap tidak hormat, bukan sebagai kesempatan untuk berdiskusi.

Padahal, lingkungan yang sehat justru memberikan ruang bagi berbagai sudut pandang. Perbedaan pendapat tidak selalu berarti permusuhan, melainkan dapat menjadi cara menemukan solusi yang lebih baik.

10. "Saya cuma jujur."

Kejujuran memang penting, tetapi cara menyampaikannya juga tidak kalah penting. Cottonwood Psychology menilai bahwa ungkapan ini sering dijadikan pembenaran setelah seseorang melontarkan komentar yang kasar atau menyakitkan.

Orang egois kerap menggunakan alasan "kejujuran" untuk menghindari tanggung jawab atas dampak ucapannya. Mereka lebih fokus pada hak untuk berbicara daripada mempertimbangkan bagaimana kata-kata tersebut diterima oleh orang lain.

Dalam komunikasi yang sehat, kejujuran tetap disampaikan dengan empati. Kritik dapat diberikan secara jelas tanpa harus merendahkan atau mempermalukan orang lain.

11. "Saya tidak pernah mengatakan itu."

Perbedaan ingatan memang bisa terjadi. Namun, apabila kalimat ini terus-menerus digunakan untuk menyangkal ucapan atau tindakan yang pernah dilakukan, hubungan akan semakin sulit diperbaiki.

Cottonwood Psychology menjelaskan bahwa penyangkalan tanpa kemauan mencari solusi dapat membuat lawan bicara merasa pengalaman mereka diabaikan. Percakapan pun berubah menjadi perdebatan mengenai siapa yang benar, bukan bagaimana menyelesaikan masalah.

Sikap yang lebih konstruktif adalah mengakui kemungkinan adanya perbedaan persepsi, kemudian berfokus pada langkah yang perlu dilakukan agar situasi tidak terulang.

12. Selalu Mengembalikan Pembicaraan pada Diri Sendiri

Tidak semua orang akan mengucapkan secara langsung, "Mari bicara tentang saya." Namun, kebiasaan mengarahkan setiap topik kembali kepada pengalaman, keberhasilan, atau masalah pribadi merupakan salah satu pola komunikasi yang sering ditemukan pada orang yang terlalu berpusat pada dirinya sendiri.

Cottonwood Psychology menjelaskan bahwa perilaku ini membuat lawan bicara merasa tidak didengar. Setiap kali seseorang berbagi cerita, perhatian segera dialihkan kepada pengalaman orang egois tersebut.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat mengurangi kedekatan emosional karena percakapan menjadi tidak seimbang. Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan mendengarkan, memberikan perhatian, dan memberi ruang bagi orang lain untuk berbicara.

Mengapa Orang Egois Memiliki Pola Kalimat yang Mirip?

Cara seseorang berbicara tidak muncul begitu saja. Menurut psikolog organisasi dan pakar psikologi kerja Stefan Falk, bahasa yang digunakan seseorang sering kali mencerminkan pola pikir, keyakinan, dan motivasi yang mendasari perilakunya. Dalam artikelnya di CNBC berjudul A Psychology Expert Shares 5 Toxic Phrases Highly Selfish, Entitled People Always Use, Falk menjelaskan bahwa individu yang sangat egois atau merasa dirinya selalu berhak memperoleh perlakuan istimewa cenderung menggunakan ungkapan yang serupa dalam berbagai situasi.

Mereka biasanya memandang kritik sebagai serangan pribadi, menganggap pendapatnya paling bernilai, serta sulit menerima bahwa orang lain juga memiliki kontribusi yang sama pentingnya. Akibatnya, komunikasi menjadi tidak seimbang karena percakapan lebih banyak berputar pada kebutuhan dan kepentingan dirinya sendiri.

Temuan serupa juga dijelaskan oleh Cottonwood Psychology. Menurut laman tersebut, orang yang terlalu berpusat pada diri sendiri sering kali tidak menyadari bahwa pilihan kata mereka terdengar meremehkan, manipulatif, atau mengabaikan perasaan orang lain. Padahal, ungkapan-ungkapan sederhana yang diulang terus-menerus dapat mengikis rasa saling percaya dalam sebuah hubungan.

Cara Menghadapi Orang Egois Menurut Psikologi

Menghadapi orang egois bukan berarti harus selalu mengalah atau memutus hubungan. Stefan Falk menyarankan beberapa langkah yang dapat membantu menjaga komunikasi tetap sehat.

Pertama, tetapkan batasan yang jelas. Jangan ragu menyampaikan bahwa perilaku tertentu membuat Anda merasa tidak nyaman. Batasan yang disampaikan dengan tenang akan membantu mencegah perilaku yang merugikan terus berulang.

Kedua, hindari terjebak dalam perdebatan yang hanya bertujuan membuktikan siapa yang paling benar. Orang yang sangat egois sering kali sulit menerima sudut pandang berbeda sehingga diskusi panjang belum tentu menghasilkan perubahan.

Ketiga, ajukan pertanyaan yang mendorong refleksi. Misalnya, tanyakan bagaimana perilaku tersebut memengaruhi hubungan atau kerja sama dengan orang lain. Cara ini lebih efektif daripada langsung menyalahkan karena mengajak mereka melihat situasi dari perspektif yang lebih luas.

Terakhir, jangan abaikan kesehatan emosional diri sendiri. Jika komunikasi mulai terasa melelahkan atau mengganggu kesejahteraan mental, menjaga jarak secara sehat merupakan pilihan yang wajar. Menjalin hubungan yang saling menghargai akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan terus mempertahankan interaksi yang dipenuhi konflik.

Tanya Jawab Seputar orang egois

1. Apakah orang egois sama dengan narsistik?

Tidak. Egois adalah kecenderungan lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri, sedangkan gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi psikologis yang memiliki kriteria diagnosis khusus dan hanya dapat ditegakkan oleh tenaga profesional.

2. Apakah orang egois bisa berubah?

Bisa. Perubahan dapat terjadi jika seseorang menyadari perilakunya, bersedia menerima masukan, serta berupaya meningkatkan empati dan kemampuan berkomunikasi.

3. Bagaimana cara menghadapi orang egois tanpa memicu konflik?

Sampaikan batasan dengan tenang, fokus pada perilaku yang menjadi masalah, hindari serangan pribadi, dan jangan terpancing dalam perdebatan yang tidak produktif.

4. Apakah semua orang pernah bersikap egois?

Ya. Psikolog menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tingkat keegoisan tertentu. Yang membedakan adalah apakah perilaku tersebut masih dalam batas wajar atau sudah terus-menerus merugikan orang lain.

5. Mengapa orang egois sulit menerima kritik?

Karena mereka sering menganggap kritik sebagai ancaman terhadap harga diri atau identitasnya. Akibatnya, mereka lebih memilih membela diri daripada menjadikan masukan sebagai kesempatan untuk berkembang.

 

 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6