Liputan6.com, Jakarta - Mengapa kalimat "semua akan baik-baik saja" sering dianggap sebagai bentuk dukungan ketika seseorang sedang mengalami kehilangan atau kesedihan mendalam? Meski terdengar menenangkan, ungkapan tersebut tidak selalu memberikan efek yang diharapkan. Dalam situasi tertentu, kalimat ini justru dapat membuat seseorang merasa emosinya diabaikan.
Sebagian besar orang mengucapkannya dengan niat baik. Mereka ingin memberikan harapan, mengurangi kecanggungan, atau menunjukkan kepedulian. Namun, menurut para psikolog, niat yang baik belum tentu menghasilkan dampak yang baik apabila tidak disertai empati yang tepat.
Alih-alih terburu-buru mencari kata-kata penyemangat, seseorang yang sedang berduka sering kali hanya membutuhkan kehadiran dan ruang untuk merasakan emosinya. Inilah yang menjadi alasan mengapa konsep empati dan bahaya toxic positivity semakin banyak dibahas dalam psikologi modern. Berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (31/7/2026).
Advertisement
Mengapa Kalimat "Semua Akan Baik-Baik Saja" Bisa Terasa Menyakitkan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4972499/original/004998300_1729241259-Picsart_24-10-18_15-05-40-038.jpg)
Kalimat "semua akan baik-baik saja" berangkat dari harapan bahwa keadaan pada akhirnya akan membaik. Sayangnya, bagi orang yang baru kehilangan orang tercinta, mengalami perceraian, gagal dalam pekerjaan, atau menghadapi musibah besar, masa depan belum tentu menjadi hal yang mampu mereka pikirkan saat itu.
Menurut psikolog Cheralyn Leeby dalam artikelnya di Psychology Today, kalimat seperti "Everything happens for a reason" atau "You'll feel better soon" sering kali termasuk bentuk spiritual bypassing. Istilah ini menggambarkan kecenderungan menggunakan penjelasan spiritual atau optimisme untuk menghindari emosi yang sebenarnya masih membutuhkan pengakuan dan penerimaan.
Akibatnya, orang yang sedang berduka dapat merasa bahwa kesedihannya dianggap berlebihan. Mereka bahkan bisa merasa bersalah karena belum mampu bangkit secepat yang diharapkan orang lain. Fokus pembicaraan bergeser dari mendengarkan menjadi mendorong seseorang agar segera merasa lebih baik.
Toxic Positivity Membungkam Emosi yang Sehat
Toxic positivity bukan berarti bersikap positif itu salah. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang merasa harus selalu terlihat kuat, bahagia, atau optimistis, bahkan saat sedang mengalami penderitaan yang nyata.
Ungkapan seperti "ambil sisi positifnya", "setidaknya masih ada...", atau "semua akan baik-baik saja" memang terdengar menghibur. Namun, apabila disampaikan terlalu cepat, kalimat tersebut dapat mengirim pesan bahwa kesedihan tidak seharusnya dirasakan terlalu lama.
Padahal, duka merupakan proses emosional yang normal. Setiap orang memiliki cara dan waktu yang berbeda untuk memproses kehilangan. Memaksa seseorang segera berpikir positif justru berpotensi menghambat proses penyembuhan emosional yang alami.
Advertisement
Empati Tidak Selalu Berarti Memberikan Solusi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4560152/original/051450100_1693566127-rosie-sun-rTwhmFSoXC8-unsplash.jpg)
Banyak orang mengira empati berarti menemukan kata-kata yang tepat untuk membuat orang lain merasa lebih baik. Kenyataannya, empati lebih banyak berkaitan dengan kemampuan hadir dan memahami apa yang sedang dirasakan orang lain.
Dalam psikologi, empati memiliki dua komponen utama. Pertama adalah empati kognitif, yaitu kemampuan memahami sudut pandang orang lain. Kedua adalah empati afektif, yakni kemampuan ikut merasakan beban emosi yang sedang dialami tanpa kehilangan kendali atas emosi sendiri.
Karena itu, seseorang tidak harus memiliki solusi untuk menunjukkan empati. Terkadang, mendengarkan tanpa menghakimi jauh lebih berarti dibandingkan memberikan nasihat yang belum diminta.
Hadir Menemani Lebih Berarti daripada Memberikan Jawaban
Leeby menggunakan ilustrasi menarik tentang empati. Selama ini, empati sering digambarkan sebagai berjalan satu mil menggunakan sepatu orang lain. Namun, ia menawarkan gambaran yang berbeda.
Empati bukan sekadar memahami bagaimana rasanya berada di posisi orang lain. Empati adalah bersedia duduk bersama mereka di tengah "lumpur" tanpa tergesa-gesa membersihkan lumpur itu atau menjelaskan mengapa mereka bisa berada di sana.
Pendekatan ini membuat seseorang merasa diterima apa adanya. Mereka tidak perlu berpura-pura kuat demi membuat orang lain merasa nyaman.
Mengenal Konsep Mimamoru dari Jepang
Artikel tersebut juga memperkenalkan konsep Jepang bernama mimamoru. Secara sederhana, mimamoru berarti mengawasi dengan penuh perhatian tanpa melakukan intervensi yang tidak diperlukan.
Dalam praktik pengasuhan di Jepang, orang tua dan guru memberi kesempatan kepada anak untuk menghadapi tantangan sendiri sambil tetap mengawasi dan siap membantu bila diperlukan. Pendekatan ini didasarkan pada kepercayaan bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk berkembang melalui pengalaman.
Prinsip serupa ternyata juga relevan ketika mendampingi orang yang sedang berduka. Tidak semua kesedihan harus segera "diperbaiki". Kadang-kadang, kehadiran yang tenang dan konsisten justru menjadi bentuk dukungan yang paling dibutuhkan.
Memberikan Kepercayaan, Bukan Rasa Kasihan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305534/original/006051300_1784796642-b3LMlSX7cvmNiwqlKPCtCOnAwE1lxtv98JVvQ9B0.jpg)
Salah satu bagian paling menyentuh dari tulisan Leeby adalah pengalaman pribadi ketika seorang temannya mengirim pesan dukungan. Temannya tidak mengatakan bahwa semuanya akan segera membaik. Ia juga tidak berusaha menghapus rasa sakit yang sedang dirasakan.
Sebaliknya, ia mengatakan bahwa apa pun yang sedang terjadi, ia akan tetap hadir menemani. Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa Leeby memiliki kemampuan untuk melewati masa sulit tersebut.
Pesan seperti ini memberikan ruang bagi semua emosi untuk hadir. Orang yang sedang berduka tidak dipaksa terlihat kuat, tetapi tetap diingatkan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk bertahan.
Apa yang Sebaiknya Diucapkan kepada Orang yang Sedang Berduka?
Apabila seseorang yang Anda sayangi sedang mengalami masa sulit, tidak perlu merasa harus menemukan kalimat yang sempurna. Justru, kejujuran dan kehadiran sering kali lebih bermakna dibandingkan kata-kata yang terdengar indah.
Anda bisa mengatakan bahwa Anda tidak tahu persis apa yang sedang mereka rasakan, tetapi Anda siap menemani mereka melewati semuanya. Kalimat sederhana seperti, "Aku di sini kalau kamu ingin bercerita," sering kali terasa jauh lebih menenangkan daripada "semua akan baik-baik saja."
Selain itu, hindari membuat penderitaan mereka terasa lebih kecil dengan membandingkannya dengan pengalaman orang lain. Setiap kehilangan memiliki makna yang berbeda bagi masing-masing individu.
Kesabaran Adalah Bentuk Empati
Salah satu pelajaran terbesar dari konsep mimamoru adalah pentingnya kesabaran. Mendampingi seseorang yang sedang berduka bukan tentang mempercepat proses penyembuhan, melainkan menemani mereka selama proses itu berlangsung.
Empati berarti bersedia menerima bahwa kita mungkin tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Kita juga tidak tahu kapan seseorang akan pulih sepenuhnya dari luka emosinya.
Ketika kita berhenti memaksa orang lain segera bangkit dan mulai memberi ruang bagi mereka untuk merasakan seluruh emosinya, di situlah empati yang sesungguhnya hadir. Kehadiran yang penuh perhatian sering kali lebih menyembuhkan daripada serangkaian kalimat motivasi.
Advertisement
Tanya Jawab Seputar Toxic Positivity
1. Apa yang dimaksud dengan toxic positivity?
Toxic positivity adalah kecenderungan memaksakan sikap positif dalam segala situasi hingga mengabaikan atau menekan emosi negatif yang sebenarnya wajar dirasakan.
2. Mengapa kalimat "semua akan baik-baik saja" bisa berdampak negatif?
Karena kalimat tersebut dapat membuat orang yang sedang berduka merasa emosinya tidak dipahami atau seolah-olah harus segera berhenti bersedih.
3. Apa perbedaan empati dan rasa kasihan?
Empati berfokus pada memahami serta mendampingi seseorang tanpa menghakimi, sedangkan rasa kasihan sering kali menempatkan orang lain sebagai pihak yang lemah dan perlu diselamatkan.
4. Apa itu konsep mimamoru dari Jepang?
Mimamoru adalah praktik mendampingi seseorang dengan penuh perhatian tanpa terburu-buru mengintervensi atau mengambil alih masalahnya, sambil tetap menunjukkan dukungan dan kepercayaan.
5. Apa kalimat yang lebih baik daripada "semua akan baik-baik saja"?
Anda bisa mengatakan, "Aku di sini untukmu," "Terima kasih sudah mau bercerita," "Aku tidak tahu persis apa yang kamu rasakan, tetapi aku siap menemanimu," atau "Kamu tidak harus melewati ini sendirian."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5394044/original/017340400_1761624269-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390489/original/006123400_1761278823-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__96_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5207813/original/099765500_1746273577-depressed-girl-crying-because-break-up-with-boyfriend-while-supportive-female-friend-expressing-sympathy-being-sorry-her-saying-everything-will-be-alright.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312164/original/033539200_1785482222-ae4b3780-b28b-4afa-bcba-7b2edba48089.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4288561/original/026176600_1673471360-pexels-mart-production-7679456.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312221/original/076482200_1785484197-86e76beb-6283-4086-b861-e4caed6a6bab.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312499/original/027247200_1785499474-watermarked_img_13887921445509553971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292909/original/067786000_1783664277-1__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312463/original/086503200_1785494779-365d76f7-d4b4-4346-9a80-cd8f4edd5395.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312372/original/085994400_1785488944-hl.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309362/original/052470800_1785225637-hAUuxXjjVkKnxFeJ7Rj9T84jwSJ4kxuioPDOhUEk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3360415/original/611719069-picture-frustrated-young-dark-haired-female-studying-skin-her-arm-after-she-fell-off-bike-student-girl-dressed-stylish-striped-t-shirt-looking-her-elbow-feeling-itch-pain_343059-1454__1_.jpg)