Sukses

Studi: Wanita Lebih Mungkin Alami Peningkatan Berat Badan Selama Pandemi Covid-19 Dibanding Pria

Liputan6.com, Jakarta - Wanita lebih mungkin untuk menambah berat badan selama tahun pertama pandemi Covid-19 dibandingkan pria, menurut sebuah studi terbaru. Namun, kebanyakan orang berhasil mempertahankan berat badan yang sama atau tidak pindah ke kategori lain, menurut indeks massa tubuh (BMI).

Ini terjadi pada saat orang menjadi lebih sadar bahwa mereka yang kelebihan berat badan lebih mungkin terinfeksi Covid-19 yang parah.

Penelitian tersebut, pada hampir satu juta orang dewasa di Inggris, menggunakan data dari Clinical Practice Research Datalink (CPRD) lebih dari 200.000 praktik GP, yang mencakup informasi tentang BMI sebelum lockdown pada Maret 2020, dan pada tahun sesudahnya.

Dari 938.164 orang yang dimasukkan dalam analisis awal, 32% digolongkan sebagai berat badan yang sehat sebelum lockdown, sementara 35% kelebihan berat badan dan 33% mengalami obesitas.

Dari mereka yang mengalami obesitas, mereka dianggap sebagai kelas 1 (BMI 30 hingga 35), kelas 2 (35 hingga 40) atau kelas 3 (lebih dari 40). Sekitar 58% dari mereka dalam penelitian ini adalah perempuan dan 83% berkulit putih.

Analisis lebih dalam terhadap 273.529 orang menemukan bahwa sebagian besar (83% hingga 93%) tetap dalam kategori BMI yang sama sebelum dan sesudah penguncian.

Dari mereka yang memiliki berat badan sehat, 83% tetap berada dalam kategori IMT yang sama pasca-lockdown, 14% menjadi kelebihan berat badan atau obesitas, dan sekitar 3% pindah ke kategori kurus. Dari mereka yang kelebihan berat badan, 11% mengalami kenaikan berat badan sementara 12% kehilangan berat badan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Lebih banyak wanita daripada pria yang mengalami kenaikan berat badan

Sementara itu, dari mereka yang mengalami obesitas, 9% mengalami penurunan berat badan dan turun ke kategori overweight, normal atau underweight, sedangkan 5% naik setidaknya satu kategori.

Studi ini menemukan bahwa lebih banyak wanita daripada pria yang mengalami kenaikan berat badan. Misalnya, dalam kategori kelebihan berat badan, 13% wanita versus 9% pria menjadi gemuk.

Dr David Kloecker, yang mengerjakan penelitian tersebut mengatakan, "Periode penguncian yang berkepanjangan mengganggu rutinitas sehari-hari sehingga menyulitkan orang untuk makan dengan sehat dan tetap bugar, dengan makan emosional dan penutupan klub olahraga kemungkinan mengintensifkan tren. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami alasan di balik perubahan berat badan dan tingkat obesitas ini."

Penelitian baru, oleh penulis dari institusi termasuk Universitas Leicester dan Rumah Sakit Umum Leicester, akan dipresentasikan pada Kongres Eropa tentang Obesitas di Maastricht.

3 dari 3 halaman

Para Ahli Buktikan Minum Air Putih Bisa Menurunkan Berat Badan

Memang benar, bisa saja air minum membantu Anda menurunkan berat badan. Namun, penjelasan tentangnya lebih rumit daripada hanya sekedar mempersenjatai diri dengan sebotol besar air minum dan memastikan Anda cukup minum di setiap waktu. Sebab penurunan berat badan bergantung pada banyak komponen berbeda yang saling bekerja sama, tetapi juga tidak bisa disangkal kalau air turut berperan penting.

Sebagaimana kita tahu, air sangat penting bagi manusia. Fungsinya dari mengatur suhu tubuh, menjaga kadar darah, hingga mengangkut nutrisi ke dan dari sel. Sehingga air menjadi salah satu zat terpenting bagi manusia. Namun, masih banyak dari kita yang mengalami dehidrasi ringan hingga kronis setiap harinya.

Kemudian pada saat yang sama, tingkat orang dewasa yang kelebihan berat badan atau obesitas terus meningkat, seperti halnya jumlah orang yang melaporkan melakukan diet penurunan berat badan atau diet rendah kalori.

Dilansir dari Livescience, Jumat (13/5/2022), jelas memang ada banyak dari kita yang ingin mengurangi kelebihan berat badan dan menjadi sehat, sementara air memegang jawaban penting selain untuk menyembuhkan dehidrasi, juga mempertahankan berat badan yang sehat.

Sebelumnya, berdasarkan laporan CDC tahun 2018, ada lebih dari 73% persen orang dewasa di AS kelebihan berat badan, dan lebih dari 42% hidup dengan obesitas. Di Indonesia pun, pengidap obesitas mengalami peningkatan, sebagaimana data Riskesdas 2018, satu dari lima anak usia sekolah dasar dan satu dari tujuh remaja di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Ini bukan kabar baik mengingat obesitas dan peningkatan BMI secara umum dikaitkan dengan serangkaian masalah kesehatan, sebagaimana yang tercantum dalam uraian rinci makalah yang dirilis tahun 2017 di Annals of Translational Medicine.

Tetapi dapatkah air benar-benar membantu kita menurunkan berat badan, dan, dengan melakukan itu, memberikan kesehatan dan kesejahteraan kita dorongan yang sangat dibutuhkan?