Jebatan FOMO dan Doom Spending, Simak Resep Keuangan Sehat Buat Gen Z

Maraknya fenomena FOMO dan doom spending di kalangan Gen Z memicu tekanan finansial, OJK dan BCA Digital imbau pentingnya alokasi gaji dan kendali diri.

Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan mental finansial sering kali teruji ketika teman sekantor memamerkan tiket konser di unggahan media sosial. Tiket yang ludes dalam hitungan menit tak jarang memicu perasaan takut tertinggal (fear of missing out/FOMO) di kalangan anak muda.

Generasi Z (Gen Z) sebenarnya paham mengenai konsep menabung. Namun, jempol kerap lebih cepat menekan tombol beli hingga saldo gaji tersisa separuh akibat terjebak FOMO dan berakhir pada perilaku belanja impulsif (doom spending).

Kepala Direktorat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Andi Muhammad Yusuf mengamini nyata tekanan tersebut. Fenomena FOMO maupun you only live once (YOLO) tidak selalu terjadi karena kurangnya pemahaman finansial.

"Bisa jadi karena ada tekanan dari lingkungan, ingin ikut tren, tidak ingin ketinggalan dari teman-teman yang lain," ujar Yusuf dalam peluncuran buku Dear Money, We Need to Talk di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta.

Director of Business BCA Digital Duardi Prihandiko turut mengaminkan hal senada. Menurutnya, ilmu keuangan saat ini sangat mudah diakses dari mana saja.

"Anak muda sekarang jauh lebih pintar daripada generasi sebelumnya. Yang penting ada alat yang membantu mereka," ujar Duardi.

Sementara itu, Head of Brand Experience & Community BCA Digital Rudini Triyadi menilai FOMO dan YOLO bersumber dari dorongan internal dan pengaruh lingkungan.

"Menabung itu lebih mudah dibanding menahan diri untuk pengeluaran (spending). Yang paling sulit itu mengendalikan diri," kata Rudini.

Ia menambahkan, pengeluaran untuk rekreasi atau healing demi kesehatan mental sering dilakukan tanpa perhitungan matang. "Kalau uangnya belum cukup, ya artinya belum waktunya," tegas Rudini mengenai pentingnya kendali diri.

 

Jeda Sebelum Transaksi

Di tengah ketidakpastian ekonomi, Yusuf menekankan pentingnya mengambil jeda sebelum melakukan transaksi secara cepat.

"Kita punya prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis. Cek dulu legalitasnya, cek juga kelogisannya," tutur Yusuf.

Ia juga menyoroti keberadaan Indonesia Anti-Scam Center yang dibentuk OJK bersama kementerian dan lembaga terkait untuk melindungi masyarakat dari penipuan finansial yang angka laporannya cukup tinggi.

"Jangan sampai penghasilan yang sudah dikumpulkan setiap hari hilang seketika karena fondasi literasi yang kurang. Harapannya, masyarakat memiliki kepercayaan diri, keyakinan, dan kendali yang baik terhadap keputusan keuangan," tambahnya.

 

Tips Keuangan 10-20-30-40

Agar pengeluaran tidak lepas kendali, Yusuf membagikan formula acuan yang kerap digunakan oleh perencana keuangan tersertifikasi (Certified Financial Planner/CFP), yakni rumus 10-20-30-40:

  • 10 persen: Maksimal untuk liburan, gaya hidup (lifestyle), atau dialokasikan untuk zakat dan kegiatan sosial.
  • 20 persen: Untuk investasi dan menabung.
  • 30 persen: Maksimal untuk cicilan produktif.
  • 40 persen: Untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa metode ini dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing individu.

"Tidak semua sama untuk semua orang, tetapi ini bisa menjadi acuan. Khusus untuk urusan konser, jangan bersumber dari utang karena itu akan membebani," pungkas Yusuf.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6