Gaji Numpang Lewat: Tips Agar Gen-Z Tak Bokek Sebelum Gajian

Begini cara mengatasi fenomena "gaji numpang lewat" Gen-Z ala perencana keuangan Mike Rini Sutikno dan Andy Nugroho.

Diterbitkan 27 September 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena "gaji numpang lewat" makin akrab di telinga Gen-Z. Gaji baru cair, tapi dompet sudah menipis jauh sebelum tanggal gajian berikutnya tiba.

Founder & CEO MRE Mike Rini Sutikno dan Perencana keuangan Andy Nugroho membagikan cara mengatasinya, mulai dari soal prioritas, disiplin, hingga formula pembagian gaji.

Tekanan Inflasi dan Pentingnya Prioritas

Rini menyoroti kenaikan harga kebutuhan pokok yang menggerus daya beli. "Satu porsi pecel ayam misalnya tadinya Rp 25.000, sekarang Rp 27.000. Kalau gaji kita tidak naik, daya beli kita semakin menurun," ujarnya kepada Liputan6.com, Minggu (27/9/2026).

Ia menambahkan, kenaikan harga barang dan jasa membuat sejumlah pos pengeluaran mau tidak mau harus dipangkas.

Sementara itu, Andy menekankan pentingnya skala prioritas. "Buat skala prioritas dalam membelanjakan uang, hindari membelanjakan uang hanya untuk mengikuti gaya hidup," katanya.

Ia juga menegaskan, Gen-Z harus mulai belajar mendapatkan penghasilan tambahan, "Hindari berhutang hal-hal yang bersifat konsumtif."

Disiplin Dimulai dari Sistem, Bukan Niat

"Disiplin mengatur gaji itu bukan bawaan dari lahir, tapi kebiasaan yang kita bangun pelan-pelan," kata Rini, menyebut kuncinya adalah membangun sistem, bukan sekadar niat.

Salah satu caranya, menurut Rini, adalah menerapkan prinsip pay yourself first dengan bantuan fitur auto debit bank, "Begitu gaji masuk ke rekening, langsung bayar dan amankan yang wajib dulu."

"Tanamkan dan reminder terus berulang-ulang dalam mindset kita, pikirkan apa hal terburuk yang akan kita hadapi bila kita tidak mau disiplin," ungkap Andy, menekankan pentingnya sugesti diri secara terus-menerus.

Kunci Agar Gaji Cukup Sampai Gajian Berikutnya

Rini menyarankan mengunci cashflow sejak awal bulan. "Kunci utamanya adalah mengendalikan arus kas harian dan mengunci pengeluaran tetap di awal bulan," ujar dia.

Senada, Andy membagi pengeluaran dalam tiga tingkat prioritas. "Yang utama adalah kebutuhan-kebutuhan yang bersifat penting dan wajib, contoh, bayar kos-kosan, bayar cicilan kendaraan bermotor, beli token listrik/ wifi/ paket data. Prioritas kedua adalah pengeluaran yang penting namun masih bisa diatur ulang jumlahnya, contoh, untuk makan sehari-hari, ongkos transport ke tempat kerja, kebutuhan toiletteries. Ketiga adalah kebutuhan yang bersifat kesenangan, tidak terlalu penting dan tidak wajib terpenuhi, contoh, beli kopi, nongkrong di kafe, nonton film, travelling," paparnya.

Ia juga menyarankan memisahkan rekening tabungan dengan cashflow harian. "Bahkan kalau kita sedemikian tidak bisa disiplin, maka tidak ada salahnya untuk memiliki beberapa rekening terpisah dari satu bank yang sama sebagai tempat menaruh uang untuk berbagai pos kebutuhan yang berbeda," ujar dia.

"Itu dapat mendorong kita untuk bersikap impulsif dalam berbelanja," ia menambahkan.

Terkait paylater dan kartu kredit, ia menyarankan isi saldo e-wallet secukupnya.

Untuk gaji Gen-Z yang rata-rata berkisar Rp 4 juta-Rp 5 juta, Rini membagikan formula pembagian gaji. "30 persen saya buat nabung, lima sampai 10 persen untuk asuransi, cicilan utang maksimal 30 persen, sisanya untuk biaya hidup dan lifestyle," kata dia.

Andy menawarkan metode berbeda, yakni 40:30:20:10, "40 persen untuk kebutuhan sehari-hari, 30 persen untuk cicilan dan utang, 20 persen ditabung dan diinvestasikan, 10 persen dialokasikan untuk dana charity," tutur dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6