Giving While Living, Cara Bantu Keuangan Anak Tanpa Ganggu Dana Pensiun

Sejumlah pakar keuangan menyarankan orang tua memberikan sebagian bantuan finansial ke anak atau cucu selagi masih hidup (giving while living).

Liputan6.com, Jakarta - Orang tua yang ingin menyokong masa depan anak dan cucu tidak selalu harus menunggu hingga meninggal dunia untuk menurunkan warisan. Sejumlah pakar keuangan justru menyarankan agar bantuan finansial diberikan selagi orang tua masih hidup.

Pendekatan ini dikenal dengan istilah giving while living, yakni memberikan sebagian kekayaan kepada anak atau cucu selama pemberi masih hidup.

Bantuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari uang muka (down payment) rumah, biaya pendidikan, hingga bantalan finansial bagi anak yang menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK).

Gagasan ini dinilai sangat relevan di tengah melambungnya biaya hidup dan tingginya tantangan generasi muda untuk memiliki hunian pribadi.

Data Empower menunjukkan, median kekayaan bersih masyarakat Amerika Serikat berusia 30-an tahun hanya sekitar US$ 28.616. Sementara itu, median tabungan likuid mereka tercatat sekitar US$ 7.000.

CEO Hearts & Wallets, Laura Varas, mengungkapkan bahwa pemberian dana saat orang tua masih hidup memberikan dampak dan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.

"Memberi saat masih hidup bisa sangat bermakna pada saat itu," ujar Varas dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (5/11/2026). 

Ia mencontohkan, dirinya pernah memberikan sekitar US$ 5.000 kepada putrinya untuk membantu uang muka pembelian apartemen di London.

 

Pastikan Kondisi Keuangan Sendiri Tetap Aman

Kendati berniat baik, pemberian bantuan saat masih hidup membutuhkan perencanaan yang matang. Orang tua harus memastikan bantuan tersebut tidak mengganggu kebutuhan hidup harian, dana pensiun, maupun persiapan biaya kesehatan di hari tua.

Jessica Ray, penasihat senior di perusahaan pengelola kekayaan Brighton Jones, menyebutkan bahwa kekhawatiran akan kehilangan keamanan finansial setelah memberi bantuan merupakan hal yang wajar ditemui pada kelompok pensiunan.

Oleh karena itu, calon pemberi bantuan disarankan menghitung terlebih dahulu anggaran kebutuhan saat ini dan perkiraan pengeluaran di masa depan. Perhitungan ini juga harus memperhitungkan potensi inflasi yang lebih tinggi serta pergerakan imbal hasil investasi yang mungkin di bawah perkiraan.

Sementara itu, Sandy Goldman, penulis buku The News 65: Rewiring, Not Retiring, menyarankan orang tua menentukan batas maksimal dana yang benar-benar aman untuk disisihkan setelah memperhitungkan dana darurat. Dengan langkah ini, pemberian bantuan tidak membuat orang tua malah menjadi bergantung secara finansial kepada anak di kemudian hari.

 

Bicarakan Kebutuhan dan Tentukan Bentuk Bantuan

Sebelum menyerahkan uang, orang tua dianjurkan berdiskusi secara terbuka dengan anak mengenai kondisi keuangan dan kebutuhan riil mereka. Anak dapat diminta menyusun rincian anggaran agar jumlah bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Ray menyarankan orang tua meninjau rincian anggaran tersebut bersama anak sebelum mengambil keputusan.

Selain itu, bentuk bantuan tidak harus selalu berupa hibah tunai tanpa syarat. Orang tua dapat memilih opsi lain, seperti:

  • Memberikan pinjaman lunak dengan kesepakatan pengembalian berkala.
  • Membantu pembiayaan tempat tinggal.
  • Menyisihkan dana pendidikan untuk cucu melalui rekening tabungan khusus.

Jika memiliki lebih dari satu anak, orang tua perlu mempertimbangkan perbedaan kebutuhan masing-masing. Menurut Ray, membantu anak yang paling membutuhkan tidak selalu berarti harus membagi jumlah uang yang persis sama rata.

Orang tua juga sebaiknya menyampaikan sejak awal bahwa bantuan yang diberikan saat ini akan memperhitungkan atau mengurangi porsi warisan yang akan diterima anak di masa mendatang.

Melalui komunikasi dan perencanaan yang transparan, dukungan finansial saat orang tua masih hidup dapat menjadi instrumen penopang keluarga tanpa mengorbankan stabilitas keuangan di masa pensiun.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6