Rekam Jejak Kebakaran Hutan dan Lahan dalam 6 Tahun

Data Kemenhut menunjukkan luas karhutla di tujuh provinsi prioritas berubah setiap tahun.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 17:34 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia saat ini bukanlah kejadian pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, karhutla berulang kali melanda sejumlah wilayah di Tanah Air dengan luas kebakaran yang berbeda-beda setiap tahunnya.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan (Kemenhut) yang dikutip Liputan6.com, Selasa (13/10/2026), terdapat tujuh provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.

Berikut sebaran luas karhutla di tujuh provinsi prioritas tersebut berdasarkan data per Juli 2026:

1. Kalimantan Barat

2021: 20.590 hektare

2022: 21.836 hektare

2023: 111.848 hektare

2024: 24.154 hektare

2025: 26.702 hektare

2026: 38.310 hektare

 

2. Kalimantan Tengah

2021: 3.653 hektare

2022: 1.554 hektare

2023: 165.896 hektare

2024: 11.459 hektare

2025: 4.803 hektare

2026: 7.634 hektare

 

3. Kalimantan Selatan

2021: 8.625 hektare

2022: 429 hektare

2023: 190.394 hektare

2024: 4.993 hektare

2025: 11.896 hektare

2026: 8.019 hektare

 

4. Kalimantan Timur

2021: 3.029 hektare

2022: 373 hektare

2023: 39.494 hektare

2024: 22.570 hektare

2025: 9.573 hektare

2026: 2.715 hektare5.

5. Sumatera Selatan

2021: 5.245 hektare

2022: 3.723 hektare

2023: 132.082 hektare

2024: 15.422 hektare

2025: 5.939 hektare

2026: 1.926 hektare

6. Riau

2021: 8.970 hektare

2022: 4.915 hektare

2023: 7.267 hektare

2024: 11.027 hektare

2025: 21.843 hektare

2026: 15.738 hektare

 

7. Jambi

2021: 540 hektare

2022: 918 hektare

2023: 6.539 hektare

2024: 5.636 hektare

2025: 3.566 hektare

2026: 379 hektare

 

Update Sebaran Hotspot Kebakaran Hutan Kalteng dan Sumsel

Sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel) masih meluas. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin malam, 12 Oktober 2026, total lahan yang terbakar di kedua provinsi tersebut mencapai 343,55 hektare.

Kondisi ini turut berdampak pada kualitas udara yang berada pada kategori berbahaya di kedua wilayah. Jarak pandang di bandara juga mengalami penurunan, yakni 0,2 kilometer di Kalteng dan berkisar 0,3 hingga 7 kilometer di Sumsel.

Di Kalimantan Tengah, luas lahan yang terbakar pada 11 Oktober 2026 mencapai 64,8 hektare di 49 lokasi kebakaran atau fire spot (FS). Dari total tersebut, petugas berhasil memadamkan 54 hektare di 38 lokasi. Masih tersisa 10,8 hektare di 11 lokasi yang akan menjadi sasaran operasi pemadaman.

Pemadaman di Kalteng dilakukan melalui operasi darat. Sementara itu, operasi udara tidak dapat dilaksanakan akibat rendahnya jarak pandang.

BNPB juga mencatat terdapat 74 titik panas dengan tingkat tinggi di Kalteng, sedangkan total titik panas mencapai 3.908 titik. Karhutla juga dilaporkan berdampak pada 11 kabupaten/kota.

 

Upaya Penanganan 

"Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan menyebabkan terjadinya hujan yang bersifat lokal di Katingan, Kotawaringin Barat dan Murung Raya," tulis Dashboard Informasi Penanganan Karhutla BNPB, dikutip Selasa (13/10/2026).

Sementara itu, di Sumatera Selatan, luas lahan yang terbakar mencapai 278,75 hektare. Petugas berhasil memadamkan 271,85 hektare, sedangkan 6,90 hektare lainnya masih dalam penanganan.

BNPB mencatat 121 titik panas dengan tingkat tinggi dari total 1.991 titik panas di Sumsel. Karhutla berdampak pada delapan kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Operasi pemadaman melalui water bombing atau pengeboman air belum dapat dilaksanakan karena rendahnya jarak pandang. Meski demikian, upaya penanganan terus dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca.

Pada 12 Oktober 2026, OMC di Sumsel dilaksanakan sebanyak satu sorti dengan menggunakan 800 kilogram natrium klorida (NaCl). Dengan demikian, akumulasi operasi pada 9-11 Oktober tercatat sebanyak empat sorti dengan total penggunaan 3.600 kilogram NaCl.

Rekomendasi Penanganan

Untuk penanganan lanjutan, petugas merencanakan patroli udara dan pemadaman lanjutan dengan tetap memperhatikan keselamatan penerbangan.

BNPB merekomendasikan agar penanganan karhutla di kedua provinsi difokuskan pada lokasi yang belum padam, melalui penyekatan, pemadaman, pendinginan, serta pengerahan personel, peralatan, dan sumber air secara terarah.

Selain itu, armada pemadaman perlu dioptimalkan di lokasi prioritas saat kondisi memungkinkan. Patroli udara juga diperlukan untuk mengidentifikasi sasaran pemadaman, disertai pemantauan jarak pandang dan kondisi atmosfer secara berkala.

Khusus di Sumsel, kesiapsiagaan armada water bombing perlu ditingkatkan di wilayah rawan, terutama Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Kesiapsiagaan satuan tugas darat di sekitar permukiman juga perlu diperkuat untuk mengantisipasi perluasan kebakaran.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6