Kasus Raheem Sterling dan Sisi Gelap Sepak Bola: Ketika Klub Memaksa Pemain Berlatih Terpisah

Fenomena pemain dipaksa berlatih terpisah kembali mencuat. Dari Sterling, Disasi, hingga kisah lama di Man City, praktik ini disebut sebagai taktik yang kejam.

Diterbitkan 25 September 2025, 16:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ketika Klub Menggunakan Psikologis Sebagai Senjata

Kisah Sterling dan Disasi memperlihatkan bahwa pola ini tetap berulang. Pemain dipaksa berlatih terpisah sebagai strategi klub untuk memaksa mereka pergi. Waktu latihan sengaja dipilih agar tidak nyaman, bahkan dirancang agar mereka kehilangan kontak dengan rekan satu tim.

Bagi pemain, kondisi ini merusak motivasi sekaligus menciptakan jarak dengan klub yang mereka bela. Banyak dari mereka akhirnya memilih hengkang, bukan karena keinginan pribadi, tetapi karena merasa dipaksa keluar.

Klub beralasan manajemen skuad tak bisa menampung terlalu banyak pemain. Namun, cara mengasingkan dengan jam latihan aneh atau pelarangan akses fasilitas justru menegaskan sisi bisnis yang kejam dalam sepak bola modern.

Antara Hak Pemain dan Kuasa Klub

Fenomena pengasingan ini menegaskan betapa besarnya kuasa klub dibanding pemain. Kontrak dan gaji sering dijadikan dalih bahwa pemain harus menerima perlakuan apa pun. Padahal, bagi mereka, kehilangan kesempatan berlatih bersama tim jauh lebih merugikan daripada isu finansial.

Kisah Sterling, Disasi, hingga pengalaman di Manchester City menunjukkan bagaimana klub bisa membuat hidup pemain terasa seperti penjara. Pada akhirnya, pemain terpaksa memilih jalan keluar, meski bukan keinginan mereka.

Mungkin inilah sisi gelap sepak bola yang jarang dibicarakan. Pemain memang bintang di lapangan, tetapi di balik layar, mereka bisa dipaksa menanggung perlakuan keras.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Richard Andreas LuturmasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan