8 Pengorbanan Tenaga Medis untuk Lawan Corona Covid-19, Perlu Diapresiasi

Tenaga medis memberikan dedikasi terbaik dan pengorbanan besar untuk memerangi virus corona. Bantu tenaga medis, dengan tetap berada di rumah.

Diterbitkan 03 April 2020, 17:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Berikut Bola.com merangkum beberapa dari sekian banyak dedikasi dan pengorbanan yang diberikan tenaga medis, mulai dokter, perawat, hingga penyuluh, yang berada di garda terdepan dalam memerangi virus corona. Semuanya pantas mendapatkan apresiasi.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Tinggalkan Rumah

1. Tinggalkan rumah

Banyak dari kalangan tenaga medis terpaksa meninggalkan rumah masing-masing dalam pertempuran melawan virus corona. Hal itu karena mereka tak ingin mengambil risiko pulang dengan membawa virus dan menulari orang-orang tercinta di rumah.

Pengorbanan yang tentu harus mendapatkan apresiasi karena kita belum tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Dan selama itu, tenaga medis masih akan terus menangani pasien-pasien positif, yang berarti mereka akan lebih lama lagi tidak bertemu orang tua, suami, istri maupun anak-anak tercinta secara langsung.

2. Butuh perjuangan untuk sekadar pulang ke rumah

Di hari-hari normal, aktivitas pergi dan pulang untuk bekerja merupakan rutinitas biasa. Namun, di tengah pandemi seperti sekarang, aktivitas itu sangat tidak mudah dilakukan.

Andai memilih pulang setelah menunaikan tugas, seorang tenaga medis harus melakukan banyak prosedur untuk memastikan diri mereka benar-benar bersih dari virus corona atau virus lainnya sehingga tidak memiliki risiko menulari anggota keluarga.

Seperti dilansir dari Huffpost, seorang tenaga medis mengisahkan, ia harus segera melepas bajunya, mandi, mendisinfeksi telepon, kunci, gagang pintu, dan permukaan lain yang dia sentuh. Semua itu membutuhkan waktu dua kali lebih lama dari hari-hari normal.

3. Surat wasiat dan kuasa

Cerita sedih datang dari Maxine Dexter, dokter paru dan perawatan kritis di Portland, Oregon. Dia merawat pasien COVID-19.

Ia mendengar koleganya, dokter muda dan sehat, meninggal dunia setelah menangani pasien COVID-19. Maxine Dexter dan beberapa koleganya yang lain, memutuskan untuk membuat wasiat dan kuasa, sebagai antisipasi andai mereka mengalami nasib serupa.

"Kami berbicara dengan anak-anak kami, tentang dengan siapa mereka akan tinggal jika kami tidak selamat dari ini. Saya menolak untuk tidak siap," kata Dexter kepada HuffPost.

Mengharukan dan Menghangatkan

4. Minim Tes

Dengan tugas selalu bersinggungan dengan pasien COVID-19, tenaga medis semestinya membutuhkan pengujian kesehatan lebih sering.

Alih-alih, mereka hanya menjalani tes apabila sudah merasakan gejala seperti demam.

Tenaga medis biasanya menjalani prosedur seperti pengecekan suhu tubuh pada awal dan akhir shift serta tes setiap minggu untuk memastikan mereka tidak menjadi perantara penularan.

5. Isolasi Ekstrem

Tugas menangani pasien COVID-19 membuat tenaga medis kadang kala juga harus menjalani isolasi, yang bahkan tergolong ekstrem. Hal itu mereka lakukan demi memastikan tidak menjadi perantara penularan.

Sekian waktu lamanya mereka tak bisa meliat siapa pun selain pasien dan rekan satu shift, tidak keluarga maupun kekasih. 

Saat mendapat istirahat di rumah sakit, mereka tetap berusaha menjaga jarak satu sama lain.

Sampai batas waktu tertentu, tenaga medis seperti merasa rindu berada dalam lingkungan normal.

"Tidak ada yang mau benar-benar berada di dekat saya sekarang," ungkap Britt, salah seorang perawat yang menangani pasien COVID-19 di San Diego, dilansir dari HuffPost.

Tenaga medis bahkan tidak lagi memiliki keistimewaan untuk sekadar datang ke minimarket dan harus mengandalkan jasa pesan antar, karena mereka bisa jadi pembawa virus tanpa mereka sadari.

Terkadang, dalam perjalanan pulang atau berangkat bertugas, mereka secara otomatis menjauhkan diri sebanyak mungkin dari orang-orang yang mereka jumpai.

6. Mengharukan dan menghangatkan

Berinteraksi dengan pasien COVID-19 bisa jadi hal mengharukan sekaligus menghangatkan bagi para tenaga medis. 

Seperti diketahui, pasien COVID-19 yang mendapat perawatan di rumah sakit tak bisa menerima kunjungan dari siapa pun karena mereka berada di ruang isolasi. Para tenaga medis itulah yang mendampingi setiap waktu. 

Banyak aktivitas dilakukan bersama, sekadar ngobrol, hingga main puzzle. Tenaga medis bahkan melontarkan lelucon-lelucon untuk membuat suasana lebih menyenangkan dan ceria.

Lembur

7. Sulit melarikan diri

Ketika hari-hari Anda secara intens terlibat dalam aktivitas merawat pasien-pasien COVID-19, dengan cepat bisa terasa seperti Anda tidak dapat lepas dari pandemi.

Di manapun, tenaga medis kerap merasa selalu dihadapkan dengan virus corona. Bahkan ketika beristirahat dan sekadar bermain media sosial.

"Anda bahkan tak bisa membuka Instagram tanpa melihat virus corona; meme, lelucon, semua bicarakan itu," kata Britt kepada HuffPost.

Di samping itu, ada juga pengakuan dari tenaga medis, saat ini ponsel mereka juga dibanjiri dengan banyak pesan singkat maupun telepon bahkan dari orang-orang yang sudah lama mereka tidak berhubungan, yang menanyakan seperti apa sebenarnya virus corona dan apakah pandemi ini seburuk yang dikatakan oleh berita.

Sebagian percakapan di luar pekerjaan juga berkisar pada virus corona. Sulit bagi tenaga medis untuk "melarikan diri".

8. Lembur 

Di beberapa rumah sakit, sudah mulai menetapkan Kode Oranye. Kode itu bisa diartikan bahwa staf medis diberi mandat untuk "menginap di rumah sakit selama dianggap perlu".

Hal lain, banyaknya pasien COVID-19 tidak dibarengi ketersediaan tenaga medis yang mencukupi. Di beberapa negara, pemerintah memberikan imbauan pada tenaga medis yang telah pensiun, untuk kembali bertugas, membuktikan betapa mendesaknya kehadiran tenaga medis.

Dengan belum diketahui kapan pandemi ini akan berakhir, itu berarti tenaga medis masih harus memenuhi panggilan tugasnya.

Tenaga medis, yang sudah banyak berkorban, kemungkinan akan perlu membuat lebih banyak pengorbanan hingga beberapa minggu mendatang.

Semua tetap memberikan perawatan sepanjang waktu bagi mereka yang mengalami COVID-19.

"Saya tak ingin melakukan ini sepanjang musim panas, jujur saja. Tapi, orang-orang membutuhkan bantuan, dan itulah sebabnya saya menjadi perawat," ucap Britt, dilansir dari HuffPost.

Sumber: HuffPost

 

Disclaimer:

Bersama lebih dari 50 media nasional dan lokal, Bola.com ikut serta melakukan kampanye edukasi #amandirumah secara serentak di stasiun televisi, radio, koran, majalah, media siber, dan media sosial.

Bola.com secara intens akan memproduksi konten-konten edukasi informatif yang positif berkaitan dengan wabah virus corona COVID-19 sebagai bagian gerakan moral bersama #medialawancovid19. Tolong bantu sebar seluas mungkin info positif ini ke seluruh lapisan masyarakat agar mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia dapat diputus.

 
 
 
View this post on Instagram

Sayang seluruh anggota keluarga kalian, putus penyebaran COVID-19 dengan selalu mengikuti anjuran dari pemerintah. Stay safe everyone! #medialawancovid19 #amandirumah #BolacomID #Covid19 #BCEms

A post shared by Bola.com (@bolacomid) on

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Aning Jati, Jonathan Pandapotan Purba, Fadjriah NurdiarsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan