Varian COVID-19 Cicada, Kemenkes: Belum Ditemukan di Indonesia

Kemenkes RI pastikan varian COVID-19 Cicada belum ditemukan di Indonesia.

Diterbitkan 02 April 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memastikan bahwa COVID-19 Cicada alias varian BA.3.2 belum ditemukan di Indonesia.

“Sampai akhir Maret 2026, belum ditemukan varian tersebut (Cicada) di Indonesia,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman dalam pesan tertulis, Kamis (2/4/2026).

Aji menjelaskan, varian BA.3.2 (Cicada) merupakan turunan dari Omicron BA.3 dan ditetapkan sebagai Varian Under Monitoring (VUM) sejak 5 Desember 2025 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Varian tersebut belum menunjukkan peningkatan sirkulasi dan tidak ada data yang menunjukkan peningkatan keparahan, hospitalisasi, dan kematian.

Menurut WHO, risiko kesehatan masyarakat untuk varian BA.3.2 (Cicada) adalah rendah⁠. Sementara, varian dominan di Indonesia adalah XFG (57 persen), LF.7 (29 persen), XFG 3.4.3 (14 persen) dengan risiko rendah.

“Karena situasi masih terkendali dan berisiko rendah, maka tidak ada tindakan khusus berupa pengetatan di pintu masuk negara. Namun demikian Kemenkes tetap melakukan surveilans, pelaporan rutin dari lapangan dan pengujian sampel di lab serta komunikasi risiko,” kata Aji.

Kemenkes melalui Aji mengimbau masyarakat agar membiasakan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Termasuk rajin cuci tangan pakai air mengalir dan sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, pakai masker jika sakit/di keramaian, dan lain-lain.

Tidak Disebarkan Serangga Tonggeret

Belakangan, COVID-19 Cicada atau BA.3.2 memang ramai diperbincangkan. Mendengar kata Cicada, sebagian orang berpikir bahwa varian ini disebarkan oleh serangga yang dalam bahasa Sunda dikenal dengan nama tonggeret.

Serangga ini juga disebut riang-riang atau reriang karena suaranya yang nyaring. Terkait anggapan ini, epidemiolog Dicky Budiman memastikan bahwa varian COVID-19 BA.3.2 tidak disebarkan oleh tonggeret, hanya saja keduanya memiliki karakter yang mirip.

"Bukan disebarkan oleh tonggeret, namanya aja ngambil dari situ karena karakternya atau sifat biologisnya," kata Dicky kepada Health Liputan6.com saat dihubungi pada Rabu pagi (1/4/2026).

Dia menambahkan, Cicada bukan nama resmi dari WHO, melainkan hanya nick name alias sebutan saja. Alasan penamaan ini karena ada serangga cicada yang memiliki karakter bersembunyi di dalam tanah.

"Hibernasinya panjang dan ketika dia muncul, jumlahnya banyak. Nah karakter inilah yang analoginya cocok dengan BA.3.2 yang sebetulnya sudah ada sejak 2024 tapi tidak dominan dan hampir tidak terlihat, silent, undercover, selama berbulan-bulan bahkan setahun lebih,” tambahnya.

Varian ini, sambung Dicky, akhirnya muncul kembali dan menyebar secara global di akhir 2025. Artinya, virusnya ada dan beredar tapi rendah dan tidak terdeteksi cukup luas tapi kemudian mengalami ekspansi.

“Nah, karakter epidemiologi dari BA.3.2 ini terdeteksi di lebih dari 23 negara dan WHO sebetulnya masih mengklasifikasikannya sebagai varian under monitoring, jadi bukan varian of concern yang artinya belum terbukti lebih berbahaya dan parah. Tapi punya potensi epidemiologis yang signifikan,” jelasnya.