Menginap di Tepi Pantai, Lalu Menjelajah Sisi Lain Morotai

Dari Daloha Beach & Dive Resort, wisatawan dapat menikmati sisi lain Morotai melalui perpaduan panorama pantai, petualangan bawah laut, hingga wisata sejarah.

Diterbitkan 05 Juli 2026, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Pantai Daloha, Morotai, mulai menampakkan pesonanya. Ombak kecil bergulung pelan menuju bibir pantai, menghapus jejak-jejak kaki yang baru saja tercipta di atas pasir putih yang lembut.

Dari kawasan Daloha Beach & Dive Resort, pemandangan itu tersaji tanpa penghalang. Langit perlahan berubah dari semburat keemasan menjadi biru terang, sementara angin laut membawa kesejukan yang membuat pagi terasa berjalan lebih lambat. Di sudut Pulau Morotai ini, hari seolah dimulai tanpa tergesa.

Bentangan Pantai Daloha yang mencapai sekitar 4,5 kilometer menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di banyak destinasi wisata. Air lautnya begitu jernih hingga dasar perairan dangkal terlihat jelas dari tepian.

Beberapa anak bermain pasir sambil mengejar ombak kecil, sebagian wisatawan memilih berenang, sedangkan yang lain cukup duduk menikmati semilir angin tanpa melakukan apa pun. Di tempat ini, kesunyian justru menjadi kemewahan.

"Lokasi kami memang cocok untuk mereka yang ingin sejenak menjauh dari kesibukan. Di sini, orang bisa menikmati suasana yang tenang, sekaligus mengeksplorasi keindahan Morotai," kata Alan Wijaya, Direktur Utama PT Jababeka Morotai selaku pengelola dan pengembang Kawasan Ekonomi Khusus Morotai, melalui rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 3 Juli 2026.

Perjalanan menuju Daloha Beach & Dive Resort pun terbilang singkat. Dari Bandara Pitu, waktu tempuhnya hanya sekitar 10 menit dengan mobil. Tak lama setelah meninggalkan bandara, suasana berubah drastis.

Deretan pepohonan, hamparan pasir putih, dan laut biru yang membentang luas menjadi sambutan pertama yang membuat penat perjalanan perlahan menghilang. Bagi tamu yang menginap, layanan antar-jemput dari dan menuju bandara juga telah disediakan sehingga perjalanan terasa semakin praktis.

 

Terinspirasi Rumah Tradisional Tomohon

Berada tepat di tepi pantai, resort itu tidak berusaha mendominasi lanskap sekitarnya. Bangunan-bangunannya justru dirancang menyatu dengan alam. Konsep semi panggung berpadu dengan material kayu menghadirkan nuansa hangat sekaligus akrab dengan lingkungan pesisir.

Cahaya matahari leluasa masuk ke dalam ruangan, sementara angin laut mengalir melalui setiap sudut bangunan, menciptakan kesejukan alami yang menjadi bagian dari pengalaman menginap.

Alan menjelaskan, inspirasi desain resort diambil dari rumah tradisional Tomohon. Karakter itu tidak hanya tampak pada bentuk bangunan, tapi juga diteruskan hingga ke dalam kamar melalui penggunaan material kayu pada tempat tidur, meja, kursi, dan lemari.

Pilihan tersebut menghadirkan suasana yang sederhana, hangat, dan selaras dengan panorama tropis di luar jendela. Pilihan akomodasinya pun disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Tersedia cottage premium dengan dua kamar tidur yang cocok untuk keluarga atau rombongan kecil.

Sementara itu, tipe deluxe bergaya studio menjadi pilihan bagi pasangan maupun pelancong solo. Apa pun tipe kamar yang dipilih, suara ombak dan semilir angin laut tetap menjadi teman yang menyertai sepanjang hari.

 

Gerbang Penjelajahan Morotai

Namun, menginap hanyalah awal dari pengalaman. Dari akomodasi tersebut, petualangan menjelajahi Morotai dimulai. Wisatawan bisa mengawali hari dengan jogging di sepanjang pantai, berenang di perairan yang tenang, atau snorkeling menikmati ikan-ikan kecil yang berenang di antara terumbu karang dangkal sebelum berlayar menuju pulau-pulau di sekitarnya.

Perahu kemudian membawa perjalanan melintasi laut menuju gugusan pulau yang menjadi kebanggaan Morotai. Pulau Kokoya menawarkan panorama yang tenang, Kolorai menghadirkan kehidupan masyarakat pesisir yang masih lestari, sedangkan Pulau Dodola dikenal berkat hamparan pasir putih yang menghubungkan Dodola Besar dan Dodola Kecil ketika air laut surut.

Keindahan alam ternyata bukan satu-satunya alasan orang datang ke Morotai. Pulau ini juga menyimpan kisah panjang tentang Perang Dunia II. Salah satu jejaknya dapat ditemukan di Pulau Zum-zum yang pernah menjadi tempat tinggal Jenderal Douglas MacArthur.

Patung setinggi sekitar 20 meter yang berdiri di pulau tersebut kini menjadi pengingat bahwa Morotai pernah memainkan peran penting dalam sejarah kawasan Pasifik. "Banyak orang mengenal Morotai karena pantai dan lautnya. Setelah datang ke sini, mereka biasanya baru menyadari bahwa pulau ini juga memiliki sejarah yang sangat kuat," ujar Alan.

 

Wisata Sejarah sampai Petualangan Bawah Laut

Jejak sejarah itu berlanjut di Museum Swadaya Perang Dunia II milik Muhlis Eso di Desa Joubela. Berbeda dengan museum pada umumnya, tempat ini lahir dari kegigihan seorang warga yang selama puluhan tahun mengumpulkan peninggalan perang dari hutan, pesisir, dan pulau-pulau kecil di sekitar Morotai.

Ribuan koleksi, mulai dari peluru, perlengkapan militer, lencana, hingga botol minum tentara, menjadi saksi bisu perjalanan panjang pulau tersebut. Bagi pencinta dunia bawah laut, Morotai menghadirkan pengalaman yang tak kalah mengesankan.

Melalui aktivitas yang difasilitasi Daloha Beach & Dive Resort, wisatawan dapat menyelam di sejumlah titik favorit. Di Pulau Mitita, penyelam berkesempatan bertemu hiu sirip hitam di habitat alaminya.

Sementara di sekitar Pulau Wawama, Jeep Willys peninggalan Perang Dunia II kini bertransformasi menjadi rumah bagi terumbu karang dan beragam biota laut. Adapun perairan Dodola memamerkan taman bawah laut yang dipenuhi karang berwarna-warni.

"Kalau sudah datang ke Morotai, tapi belum mencoba diving, rasanya sayang sekali. Kekayaan bawah laut di sini menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi wisatawan," tandas Alan.