Supermarket Jadi Destinasi Baru Wisatawan, dari Berburu Camilan hingga Pengalaman Lokal

Supermarket kini masuk ke itinerary perjalanan karena menawarkan pengalaman wisata yang lebih dekat dengan kehidupan lokal.

Diterbitkan 18 Agustus 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengunjungi supermarket di negara lain kini menjadi bagian menarik dari pengalaman perjalanan. Rak berisi camilan, minuman lokal, produk susu, bumbu masak, dan makanan siap santap menawarkan cara berbeda untuk mengenal sebuah destinasi.

Aktivitas yang semula hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari perlahan berubah menjadi pengalaman wisata yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat. Wisatawan bahkan mulai memasukkan supermarket dalam itinerary perjalanan.

Di Tokyo, misalnya, pengunjung dapat menemukan beragam pilihan makanan khas yang mudah dijumpai di minimarket, mulai dari sandwich telur, roti katsu, cokelat rasa matcha, hingga kopi kaleng hangat.

Fenomena tersebut dikenal sebagai grocery store tourism. Berdasarkan Hilton 2026 Trends Report, sebanyak 77 persen wisatawan global mengaku senang menjelajahi supermarket lokal saat bepergian ke luar negeri untuk menemukan makanan dan minuman autentik dari destinasi yang mereka kunjungi.

Riset yang melibatkan lebih dari 14 ribu wisatawan dari 14 negara itu menunjukkan pergeseran minat terhadap pengalaman perjalanan yang lebih bermakna dan berkaitan dengan budaya lokal, seperti dilansir BBC, Selasa (18/8/2026).

Harga yang relatif terjangkau turut membuat aktivitas ini semakin menarik. Wisatawan dapat mencicipi makanan dan minuman lokal tanpa perlu mengeluarkan biaya besar. Pilihan produk yang beragam juga memungkinkan pelancong menemukan rasa atau bahan yang belum pernah mereka coba sebelumnya.

Berbelanja di supermarket juga memberikan gambaran sederhana tentang keseharian warga lokal. Dari produk yang memenuhi rak hingga kebiasaan memilih makanan, wisatawan bisa melihat sisi lain sebuah destinasi yang jarang ditemukan dalam kunjungan ke objek wisata populer.

Cara Sederhana Melihat Kehidupan Lokal

Supermarket menawarkan cara sederhana untuk melihat kehidupan masyarakat yang mungkin tidak ditemukan dalam atraksi wisata konvensional. Pilihan menu sarapan, produk yang memenuhi rak, dan banyaknya varian makanan tertentu dapat memberi gambaran tentang kebiasaan konsumsi di suatu negara.

Wisatawan juga dapat merasakan suasana yang lebih alami ketika berada di antara warga lokal. Orang-orang yang mengantre di kasir datang untuk membeli kebutuhan makan malam, menyiapkan bekal, atau mengisi persediaan rumah, bukan untuk menikmati sebuah atraksi.

Situasi tersebut membuat supermarket terasa seperti jendela kecil untuk memahami budaya makanan sehari-hari. Monumen dan museum memang membantu wisatawan mengenal sejarah serta warisan suatu negara.

Supermarket menghadirkan sisi berbeda dengan memperlihatkan bagaimana masyarakat memilih, membeli, dan menikmati makanan dalam keseharian. Pengalaman sederhana ini dapat membuat perjalanan terasa lebih dekat dengan kehidupan lokal.

Faktor Psikologis di Baliknya

Makanan yang ditemukan saat bepergian sering terasa lebih istimewa dibandingkan produk serupa yang dinikmati setelah kembali ke rumah. Kesan tersebut tidak hanya muncul dari rasa, tetapi juga dipengaruhi suasana tempat, momen perjalanan, serta kenangan yang terbentuk ketika pertama kali mencicipinya.

Pengalaman menyantap makanan selama liburan berkaitan dengan cara seseorang mempersepsikan rasa dalam lingkungan tertentu. Suasana kota, kondisi sekitar, hingga perasaan saat menikmati perjalanan dapat membuat makanan sederhana terasa lebih berkesan.

Karena itu, camilan dari supermarket dapat menjadi bagian dari memori liburan. Sebungkus keripik dengan rasa unik, minuman khas lokal, atau sandwich yang dibeli dari minimarket bisa menghadirkan kembali suasana destinasi yang pernah dikunjungi.

Produk tersebut akhirnya bukan sekadar makanan, melainkan pengingat kecil tentang perjalanan dan pengalaman yang menyertainya.

Belanja Seperti Warga Lokal Jadi Daya Tarik

Ketertarikan terhadap supermarket menunjukkan perubahan cara wisatawan menikmati sebuah destinasi. Mereka tidak lagi hanya mengejar objek wisata terkenal, tetapi juga mencari pengalaman yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Aktivitas berbelanja terasa familiar bagi banyak orang. Wisatawan sudah memahami cara mengambil keranjang, memilih barang, hingga membayar di kasir. Kebiasaan tersebut membuat perhatian lebih mudah tertuju pada produk, makanan, serta pola konsumsi yang berbeda dari negara asal.

Fenomena ini tetap memiliki batas ketika popularitas sebuah supermarket mulai mengganggu fungsi utamanya sebagai ruang sehari-hari. Gerai Lawson di Kawaguchiko, Jepang, pernah menjadi lokasi populer untuk berfoto dengan latar Gunung Fuji. Lonjakan wisatawan kemudian mendorong otoritas setempat mengatur kerumunan agar aktivitas pengunjung tidak mengganggu lingkungan maupun masyarakat sekitar.