Kebakaran Hutan Way Kambas Capai 7.000 Hektare

7.000 Hektare TN Way Kambas Terbakar

Diterbitkan 03 Oktober 2026, 11:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih dalam penanganan petugas gabungan hingga Jumat (2/10/2026).

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengungkapkan, sepanjang 2026 telah terjadi 21 kejadian karhutla di kawasan konservasi tersebut. Total luasan yang terbakar mencapai sekitar 7.000 hektare.

"Sepanjang tahun 2026, karhutla di TN Way Kambas telah tercatat 21 kejadian, luas yang terbakar sekitar 7.000 hektare," kata Zaidi, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, luasan kebakaran tahun ini meningkat dibandingkan 2025. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode El Nino pada 2023 dan 2024.

Zaidi mengatakan seluruh kejadian karhutla sepanjang tahun ini juga tidak tercatat berulang di lokasi yang sama.

"Pada tahun ini tidak tercatat pengulangan di satu lokasi yang sama," ujarnya.

Sementara itu, hingga Jumat (2/10/2026), petugas gabungan masih melakukan pemadaman di sejumlah titik kebakaran TNWK.

Sehari sebelumnya, Kamis (1/10/2026), pemadaman difokuskan di Grid 33 U. Kondisi vegetasi berupa semak belukar dengan karakteristik tanah gambut membuat proses pemadaman membutuhkan suplai air dan waktu lebih lama.

Petugas juga menemukan titik api baru di Titik B yang diduga merupakan sisa kebakaran pada 30 September 2026 dan kembali muncul setelah diterpa hembusan angin kencang.

"Pemadaman dilakukan secara darat dan udara dengan melibatkan BPBD Lampung, BNPB, TNWK, BPBD Lampung Timur, serta tim terkait," sebutnya.

 

Api Masih Dipadamkan

 

Helikopter water bombing (WB) melakukan 54 kali penyiraman. Setelah pemadaman udara, masih terlihat asap dari area yang terbakar dengan perkiraan luas sekitar 14 hektare.

Sementara itu, tim darat melakukan penyisiran api sepanjang sekitar 800 meter menggunakan peralatan pemadam dan jet shooter.

"Dari hasil pemadaman, tim darat diperkirakan berhasil menangani area sekitar 10 hektare, sedangkan sekitar 6 hektare area mendapatkan water bombing," terang dia.

Namun, luas kebakaran aktual belum dapat dipastikan sepenuhnya karena jarak pandang terbatas akibat kabut asap tebal.

Pemadaman bahkan dilanjutkan hingga malam hari. Kondisi cuaca yang lebih dingin dimanfaatkan petugas untuk mengejar laju penyebaran api.

Pemadaman udara juga diarahkan untuk memutus jalur rambatan api, terutama ke arah timur. Petugas turut menyiapkan sumur bor untuk memperkuat suplai air bagi tim pemadam di lapangan.

Zaidi berharap hujan segera turun sehingga kondisi lahan kembali basah dan tidak mudah terbakar.

"Semoga hujan segera turun sehingga api padam, kondisi lahan basah dan tidak mudah terbakar," katanya.

Menghadapi karhutla yang terus terjadi, TNWK menilai pencegahan tidak dapat dilakukan sendiri. Penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat desa penyangga, dunia usaha, TNI/Polri, dan pihak terkait lainnya diperlukan.

Selain pencegahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran juga dinilai penting.

"Upaya pencegahan dan penindakan terhadap kejadian karhutla tidak mungkin dilakukan oleh TNWK sendiri," bebernya.

Menurut dia, kecepatan mendeteksi dan merespons api sejak tahap awal menjadi faktor penting agar kebakaran tidak berkembang luas.

"Artinya, Zero Fire Spot," katanya.

 

Satwa Liar Terus Dipantau

Di tengah ancaman karhutla, TNWK juga memastikan pemantauan terhadap satwa liar, termasuk satwa kunci seperti gajah dan harimau, tetap dilakukan.

Patroli rutin terus digelar dengan mencatat dan merekam temuan sekunder keberadaan satwa di dalam kawasan hutan.

Khusus gajah, monitoring juga dilakukan menggunakan GPS Collar untuk mendapatkan informasi keberadaan satwa secara real time.

"Patroli rutin terus dilakukan dengan pencatatan atau perekaman temuan sekunder satwa di hutan. Selain itu, monitoring satwa dengan GPS Collar untuk mendapat laporan keberadaan gajah secara realtime," jelas Zaidi.

Hingga saat ini, TNWK belum menemukan laporan kematian satwa di lokasi bekas kebakaran.

"Sampai saat ini belum ditemukan kejadian kematian satwa di bekas lokasi kebakaran," tandasnya.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung.