Korea Utara vs Korea Selatan: Diplomasi Setengah Hati Pyongyang

Saat Korea Utara dan Korea Selatan bertanding, tribune penonton kosong tapi tetap dijaga oleh pria berseragam.

Diterbitkan 16 Oktober 2019, 20:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Meski demikian, sebagai sesama anggota FIFA dan AFC, Korea Utara dan Korea Selatan tidak bisa menghindari pertemuan satu sama lain. Hanya saja, duel lebih banyak berlangsung di Korea Selatan ataupun di tempat netral bila yang menjadi tuan rumah adalah Korea Utara.

Pertemuan di Pyongyang sangat jarang terjadi. Terakhir kali, pada tahun 1990. Dalam laga persahabatan tersebut, Korea Utara berhasil mengalahkan Korea Selatan dengan skor 2-1. Timnas wanita juga pernah sekali bertemu di Korea Utara pada kualifikasi Piala Asia 2017.

"Sepak bola merupakan olahraga paling populer di Korea Utara dan olahraga sangat penting bagi Korea Utara," ujar Andray Abrahamian, salah seorang pejabat senior Forum Pasifik.

"Ini memberikan kebanggaan dan patriotisme. Sangat mirip dengan cara negara-negara lain dalam memanfaatkan olahraga untuk tujuan sosial," beber Abrahamian menambahkan.

S

ejauh ini, Korea Selatan masih superior atas Korea Utara untuk urusan sepak bola. Taeguk Warior lebih sering menang dan seri dalam setiap pertemuan pertama dengan Korut pada Asian Games 1978 lalu. Satu-satunya kemenangan Korut diraih 1990 lalu di Pyongyang.

Di peringkat FIFA, Korea Selatan juga berada di urutan 37 sementara Korea Utara 113.

Meski demikian, Korea Utara juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Talenta-talenta sepak bola negara Komunis ini sudah merambah hingga ke Eropa. Saat ini Korut diwakili oleh Han Kwang-song yang bermain untuk penguasa Serie A, Juventus. Sementara Korea Selatan punya Han Kwang-song yang bermain di klub elite Liga Inggris, Tottenham Hotspur.

Diplomasi Setengah Hati

Konflik memang bersenjata saat ini telah menurun. Namun hubungan politik kedua negara masih naik- turun. Korut masih kesal kepada Korsel yang masih menggelar latihan militer bersama Amerika Serikat-- musuh bebuyutan Korea Utara sejak dinasti Kim berkuasa.

Berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan untuk meredakan ketegangan di antara kedua negara. Salah satunya melalui olahraga.

Seperti diketahui, tahun lalu, pimpinan Korea Utara, Kim Jong-un mengizinkan negaranya tampil di Olimpiade musim dingin yang berlangsung di Sochi, Korea Selatan.

Beberapa bulan kemudian, kedua tim berbaris di bawah bendera yang sama, tampil bersama dan memperkuat tim hoki es wanita yang sama juga. Namun puncaknya adalah saat kedua negara juga mengulangi hal yang sama pada Asian Games Jakarta dan Palembang 2018. Bahkan pada hajatan ini, tim unifikasi Korsel-Korut sukses merebut emas dari perahu naga.

Lalu seberapa ampuh olahraga mampu mendinginkan ketengangan di semenanjung Korea itu? Melihat sikap suasana hati Pyongyang yang sulit diprediksi, apakah pertandingan yang berlangsung kemarin menjadi jalan diplomasi baru bagi hubungan kedua negara. 

September lalu Korea Utara dan Selatan sepakat untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade musim panas 2023. Namun jelang babak kualifikasi Piala Dunia berlangsung, ketegangan belum juga terlihat mereda. Keinginan Korea Selatan untuk mengirim suporter ke Korea Utara tenyata masih ditolak. Begitu juga dengan tawaran dari Korea Selatan untuk membantu menyiarkan pertandingan tersebut secara langsung. 

"Kali ini, sepertinya Pyongyang tidak menggunakan pertandingan sebagai alat untuk menjembatani hubungan politik yang tegang," kata  Abrahamian.

"Pyongyang masih memberikan Seoul pundak yang dingin sepanjang tahun ini dan itu tidak akan berubah sampai Amerika Serikat dan Korea Utara menemukan titik temu," bebernya.

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan