Rupiah Melemah ke 17.783 per Dolar AS, Begini Prediksi Hari Ini

Nilai tukar rupiah dibuka turun 25 poin atau 0,14% menjadi 17.783 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, (21/9/2026).

Diterbitkan 21 September 2026, 11:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada pembukaan perdagangan Senin, (21/9/2026). Tekanan terhadap rupiah ini didorong kenaikan imbal hasil obligasi AS.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS susut 25 poin atau 0,14% menjadi 17.783 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.758 per dolar AS.

"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed yang memberikan tekanan pada BI (Bank Indonesia) menjelang RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI Rabu, 23 September 2026,” ujar Analis Doo Financial Lukman Leong, dikutip dari Antara.

Adapun Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen pada Rabu, 16 September 2026.

Hal ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023.

The Fed masih memiliki dua pertemuan lagi yang dijadwalkan pada tahun ini, yakni pada akhir Oktober 2026 dan awal Desember 2026.

Mengutip Xinhua, ringkasan proyeksi ekonomi yang diperbarui oleh para peserta Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan sebagian besar pejabat Fed memperkirakan suku bunga kebijakan akan naik ke kisaran 4% dan 4,25% pada akhir 2026.

Proyeksi kenaikan suku bunga Fed membuat imbal hasil obligasi AS 10 tahun masih di 5%, sedangkan 2 tahun naik ke 4,756% yang merupakan tertinggi sejak 2024.

BI diperkirakan menahan suku bunga pada Rabu, 23 September 2026. BI dijadwalkan menggelar RDG Bulanan pada 22-23 September 2026 pekan depan.

Berdasarkan sentimen tersebut, rupiah diprediksi berkisar 17.700- 17.850 per dolar AS.

Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah, Tertekan Sikap The Fed

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Rupiah turun 5 poin atau 0,03 persen menjadi 17.758 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level 17.753 per dolar AS.

Di sisi lain, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru menguat. JISDOR tercatat di level 17.745 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 17.753 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal. Salah satunya risiko harga minyak yang bertahan di level tinggi.

“Penguatan obligasi pemerintah masih dibayangi risiko harga minyak yang masih di level tinggi di atas asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ucapnya dikutip dari Antara, Jumat (18/9/2026).

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 1,3 persen menjadi US$ 103,40 per barel.

Penurunan tersebut terjadi di tengah harapan adanya jalur alternatif pengiriman minyak dari Asia Barat menuju pasar global. Namun, ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian investor.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6