Industri Petrokimia Masih Bergantung Bahan Baku Impor

Investasi di sektor petrokimia harus diikuti kenaikan kapasitas produksi.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Industri petrokimia nasional masih menghadapi ketergantungan terhadap bahan baku impor sehingga penguatan kapasitas produksi dalam negeri menjadi pekerjaan penting bagi pemerintah dan pelaku industri.

Peneliti Center of Industry, Trade and Investment (CITI) INDEF Ahmad Heri Firdaus mengatakan, sejumlah bahan baku seperti nafta masih harus didatangkan dari luar negeri dalam jangka pendek.

"Untuk jangka pendek masih belum memungkinkan. Seperti nafta, itu sudah ada roadmap-nya sampai kita bisa memenuhi kebutuhan bahan baku sendiri, cuma perlu investasi yang lebih besar lagi," kata Heri kepada wartawan, Jumat (28/8/2026).

Heri mengatakan, pemerintah dan industri perlu meningkatkan kapasitas produksi domestik agar industri petrokimia tidak terlalu rentan terhadap gejolak harga komoditas global.

Menurut Heri, strategi substitusi impor juga harus mempertahankan efisiensi rantai pasok karena perubahan sumber bahan baku dapat meningkatkan biaya distribusi bagi industri pengguna.

"Strategi substitusi impornya harus bisa berjalan smooth tanpa mengganggu rantai pasok yang efisien,” ujarnya.

Heri menilai investasi sektor petrokimia memiliki prospek besar karena pasar domestik memiliki kebutuhan produk turunan yang luas. Namun, investasi tersebut membutuhkan dukungan sektor hulu, infrastruktur, tenaga kerja, dan pasokan energi.

"Investasi di sektor petrokimia meningkat cukup besar, tetapi investasi itu harus diiringi dengan peningkatan kapasitas produksi,” kata Heri.

Heri menambahkan, penguatan industri petrokimia juga membutuhkan investasi di sektor hulu untuk meningkatkan pasokan minyak dan gas bagi kebutuhan industri non-energi.

 

Sisi Kebijakan

Di sisi kebijakan, Heri menilai pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan insentif fiskal untuk mendorong pengembangan industri petrokimia. Pemerintah perlu membangun ekosistem industri dengan skala produksi besar agar industri domestik mampu beroperasi secara efisien.

"Yang dibutuhkan industri bukan insentif fiskal semata, tetapi bagaimana ekosistem industrinya sudah terbentuk, skalanya sudah besar, dan bisa lebih efisien,” tutur Heri.

Heri mengatakan ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi industri pengguna rentan terhadap gejolak pasar global. Kondisi tersebut dapat meningkatkan harga produk dan menekan daya beli masyarakat.

"Kalau ketergantungan impor bahan baku tidak dikurangi, kita akan bergantung sama kondisi global,” pungkas Heri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6