Rupiah Menguat ke 17.693 Usai Destry Damayanti Tegaskan Independensi BI

Menjelang akhir pekan, nilai tukar rupiah ditutup menguat 51 poin ke 17.693 per dolar Amerika Serikat (AS) berkat sentimen Bank Indonesia.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melesat pada perdagangan Jumat, (28/8/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS itu dipicu arah kebijakan Bank Indonesia (BI) setelah Destry Damayanti menegaskan penguatan sinergi dengan pemerintah tidak akan mengurangi independensi dan kredibilitas BI.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 51 poin atau 0,29% menjadi 17.693 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.744 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat di level 17.703 per dolar AS dari sebelumnya 17.762 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi arah kebijakan Bank Indonesia usai Destry Damayanti menegaskan, penguatan sinergi dengan pemerintah tidak akan mengurangi independensi dan kredibilitas BI.

"Destry juga menekankan pentingnya bauran kebijakan serta pendalaman pasar uang dan valas untuk menjaga stabilitas rupiah," ujar dia dikutip dari Antara.

Komisi XI DPR RI melalui rapat internal menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026-2031 serta Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS) BI terpilih periode 2026-2031.

Seiring hal itu, secara definitif Destry menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI pada 25 Juli 2026. Sementara posisi Deputi Gubernur Senior yang ditinggalkan Destry, kini beralih kepada Aida S Budiman.

Secara umum, Destry menuturkan, BI pada dasarnya mendukung pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

 

Investor Bakal Cermati Agenda Domestik

Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) juga telah mengamanatkan BI untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif untuk mendorong pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.

"Ke depan, investor akan mencermati sejumlah agenda domestik, terutama data inflasi dan perdagangan, serta perkembangan proses penetapan Gubernur Bank Indonesia berikutnya," kata Amru.

Melihat sentimen global, menurut dia, pergerakan dolar AS masih menjadi faktor utama yang menentukan arah rupiah.

Dolar AS bergerak relatif terbatas dengan DXY berada di sekitar 99,18, sementara yield US Treasury 10 tahun masih berada di level yang cukup tinggi, sekitar 4,68%. Kondisi tersebut dianggap membuat ruang penguatan rupiah cenderung terbatas.

"Perhatian pasar hari ini tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS. Pernyataan yang lebih hawkish berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan menekan rupiah, sedangkan sinyal yang lebih dovish dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan," ujar dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6