Pemerintah Diminta Perhatikan Kesehatan Jiwa Korban Gempa NTT

Dukungan psikososial dan kesehatan jiwa juga diperlukan bagi tenaga kesehatan dan relawan.

Diterbitkan 28 Agustus 2026, 18:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Anggota DPR mendesak pemerintah perkuat dukungan psikososial pasca-gempa NTT.
  • Kasus depresi pemuda meninggal jadi alarm pentingnya penanganan psikologis korban.
  • Dukungan psikososial juga krusial bagi nakes dan relawan, serta pemulihan layanan kesehatan.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher menyoroti persoalan kesehatan jiwa masyarakat pasca-bencana gempa bumi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mendorong agar Pemerintah memberi dukungan psikososial bagi korban maupun relawan yang bertugas.

“Saat raker dengan Menkes kemarin, saya juga sudah bertanya dan memberi masukan soal dukungan psikososial dan kesehatan jiwa diperkuat dalam penanganan pascagempa Flores, NTT,” kata Netty pada wartawan, Jumat (28/8/2026).

Netty menyinggung cerita viral saat pemuda berinisial LM (20) di Dusun Nggolonio, Kabupaten Nagekeo, NTT, ditemukan meninggal dunia di sekitar tenda pengungsian pada Kamis (20/8/2026), diduga mengalami depresi berat.

Untuk itu, Netty meminta Pemerintah memberi perhatian lebih mengenai permasalahan dampak psikososial yang muncul akibat gempa.

“Kasus meninggalnya seorang pemuda di belakang tenda penampungan karena diduga depresi harus menjadi alarm bagi Pemerintah bahwa penanganan fisik penting, namun masalah psikologis pasca bencana patut diwaspadai,” tuturnya.

Selain itu, Netty menilai dukungan psikososial dan kesehatan jiwa juga diperlukan bagi tenaga kesehatan (nakes), Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK), dan relawan kesehatan lainnya.

“Karena kondisi penanganan bencana cukup berat, dan sering kali nakes dan relawan juga ikut menanggung beban mental, maka dibutuhkan penguatan fasilitas mental health bagi mereka,” ungkap Netty.

Nakes-Relawan Perlu Dilindungi

Politikus PKS ini juga meminta Pemerintah mengatur pelindungan bagi nakes, Tim SAR, maupun relawan yang bertugas dan menjalankan misi kemanusiaan di NTT.

“Sistem ini untuk memastikan bahwa tak perlu ada korban jiwa tambahan. Pemerintah juga harus memberikan edukasi kepada semua relawan yang bertugas untuk memastikan bisa menyelamatkan diri sendiri dulu sebelum menyelamatkan orang lain,” paparnya.

Netty pun menilai, respons kesehatan pascabencana tidak boleh berhenti pada penanganan korban luka. Dia mengingatkan, perlu mengantisipasi munculnya masalah kesehatan di lokasi pengungsian, seperti ISPA, dehidrasi, gangguan gizi, serta penyakit yang berpotensi muncul akibat keterbatasan air bersih, sanitasi dan tempat tinggal yang layak.

“Setelah fase tanggap darurat, perhatian harus bergeser pada pemulihan layanan kesehatan. Puskesmas dan rumah sakit yang rusak harus segera dipulihkan agar masyarakat tidak terus bergantung pada layanan darurat,” sebutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6