Nota Keuangan dan RAPBN 2027: Ini Hal yang Ditunggu Pasar dari Pidato Prabowo

Pembacaan nota keuangan dan RAPBN 2027 oleh Presiden Prabowo akan dicermati oleh pelaku pasar. Berikut ulasannya.

Diterbitkan 13 Agustus 2026, 22:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto akan pidato mengenai Nota Keuangan dan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027 dalam rapat paripurna pada Jumat, (13/8/2026).

Seiring hal itu, Ekonom BCA David Sumual menuturkan, pelaku pasar akan mencermati mengenai arah kebijakan dan bukan sekadar asumsi dan angka-angka teknis. Ia menuturkan, kebijakan yang akan menjadi perhatian bagaimana efisiensi dan tata kelola dari program prioritas. Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati persiapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk fase konsolidasi untuk menjaga stabilitas  (shock absorber) atau menjadi instrumen ekspansi untuk capai pertumbuhan tinggi. David mencontohkan, ketika kondisi eksternal sedang penuh ketidakpastian.

"APBN juga bisa dirancang sebagai penahan kejut lewat kebijakan atau target pajak dan belanja yang konservatif,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Nafan Aji menuturkan, pelaku pasar akan lebih mencermati substansi kebijakan ekonomi dalam Sidang Tahunan MPR dan pembacaan nota keuangan serta RAPBN 2027 pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Nafan menuturkan, Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan nota keuangan dan RAPBN 2027, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang telah disepakati di kisaran 5,8%-6,5% dan defisit 1,8%-2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Investor ingin melihat apakah target 5,8%-6,5% tersebut didukung oleh program yang konkret, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, hilirisasi dan pembangunan infrastruktur,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

 

 

 

Dampak ke Pasar Saham

Ia mengatakan, semakin kredibel strategi pencapaiannya, semakin positif untuk persepsi terhadap pasar saham. “Sementara itu, marjet bukan hanya melihat seberapa besar APBN dibelanjakan, tetapi ke mana uang tersebut diarahkan. Tentunya market akan mencermati belanja produktif yang dapat menciptakan multiplier effect bagi sektor swasta dan emiten,” kata dia.

Nafan menuturkan, sektor yang berpotensi mendapatkan sentimen positif  apabila belanja produktif diperkuat antara lain konstruksi, infrastruktur, semen, basic materials, transportasi, consumer, perbankan dan sektor mengenai hilirisasi dan energi.

“Di sisi lain, defisit 1,8%-2,4% PDB tersebut relatif memberikan sinyal disiplin fiskal. Namun, market akan melihat bagaimana pemerintah menyeimbangkan stimulus ekonomi dengan sustainability APBN,” kata dia.

Ia menuturkan, hal ini penting karena investor asing saat ini juga sensitif terhadap persepsi risiko Indonesia. Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tertekan cukup dalam akibat sentimen MSCI. Pada penutupan perdagangan saham, Kamis, 13 Agustus 2026, IHSG melemah 1,13% menjadi 6.301.

Para pelaku pasar dan investor, menurut Nafan, juga ingin melihat kebijakan pemerintah untuk menjaga konsumsi kelas menengah, penciptaan lapangan kerja, bantuan sosial yang tepat sasaran, serta berbagai program yang dapat meningkatkan disposable income masyarakat.

 

Kebijakan Subsidi Energi hingga Transisi Energi jadi Perhatian

Selain itu, Nafan menambahkan, kebijakan terkait subsidi energi, ketahanan pangan, impor, swasembada, biofuel, dan transisi energi juga akan menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap inflasi, daya beli, neraca perdagangan, dan profitabilitas emiten.

“Apabila pidato Presiden RI menunjukkan kebijakan fiskal yang kredibel tetapi tetap pro-pertumbuhan, belanja produktif meningkat, investasi dipacu, daya beli diperkuat, dan tidak ada kejutan negatif mengenai defisit maupun penerimaan negara, maka ini bisa menjadi counter-sentiment positif bagi IHSG setelah tekanan MSCI,” kata dia.

Sebaliknya, menurut Nafan apabila target pertumbuhan dinilai terlalu agresif tetapi tidak didukung oleh program konkret, atau pasar melihat risiko pelebaran defisit, tekanan penerimaan negara, peningkatan utang, maupun kebijakan yang berpotensi membebani korporasi, maka respons pasar bisa negatif.

“Dengan demikian, diharapkan Nota Keuangan 2027 berpotensi menjadi katalis penyeimbang bagi IHSG setelah tekanan MSCI, dengan kunci pada kredibilitas target pertumbuhan, kualitas belanja, disiplin fiskal, dan stimulus investasi,” kata Nafan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6