Penyaluran Pinjaman Online Tembus Rp 1.388 Triliun

Total akumulasi penyaluran pinjaman online yang dinaungi oleh Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) telah melampaui Rp 1.388 triliun.

Diterbitkan 10 Juni 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) memastikan pertumbuhan ekosistem pinjaman daring (pindar) atau dikenal juga dengan pinjaman oniine berdampak nyata bagi masyarakat.

Data industri Fintech mencatat bahwa sejak penyelenggara pindar mulai beroperasi, total akumulasi penyaluran pinjaman telah melampaui Rp 1.388 triliun, dengan lebih dari 169 juta borrower aktif yang terlayani.

Sebanyak 38 persen-40 persen di antaranya adalah pelaku UMKM yang mendapatkan akses pendanaan untuk pertama kalinya, dan lebih dari 90 persen borrower membayar tepat waktu sesuai perjanjian.

“Pindar adalah jembatan bagi jutaan orang tersebut, yang selama ini tidak punya rekam jejak perbankan dan kini bisa mendapatkan modal untuk tumbuh. Mereka yang meminjam untuk beli stok dagangan, bayar biaya sekolah anak, atau tambal modal saat arus kas seret dan kemudian melunasi pinjamannya tanpa masalah. Cerita mereka juga bagian dari realitas industri ini," ujar Sekretaris Jenderal Aftech, Firlie Ganinduto, Rabu (10/6/2026).

Firlie menambahkan pihaknya secara aktif memastikan seluruh penyelenggara pindar yang menjadi anggota Aftech untuk beroperasi di atas standar tata kelola yang ketat, transparan dalam biaya dan bunga sejak awal perjanjian, dan memiliki mekanisme perlindungan konsumen yang terstandar dan dapat diakses publik.

"Kepercayaan adalah satu-satunya fondasi yang membuat industri ini bisa terus tumbuh dan relevan. Aftech tidak hanya hadir sebagai asosiasi administratif. Kami adalah mitra aktif bagi setiap anggota dalam membangun kepercayaan itu, kepada pengguna, kepada regulator, kepada masyarakat luas," tegasnya.

 

Industri yang Lahir dari Masalah Nyata

Aftech saat ini menaungi sembilan penyelenggara pindar aktif yaitu Easycash, Samir, AdaKami, Amartha, Julo, Indosaku, PinjamDuit, LumbungDana dan Danai. Masing-masing beroperasi di segmen dan wilayah yang berbeda, namun seluruhnya berada dalam satu kerangka pengawasan yang sama di bawah OJK dan komitmen bersama terhadap tata kelola yang bertanggung jawab.

Aftech mendorong seluruh anggotanya untuk secara proaktif mempublikasikan data dampak platform masing-masing, termasuk repayment rate, jumlah UMKM yang didanai, dan laporan audit collection, sebagai bentuk transparansi nyata kepada publik.

"Kami ingin masyarakat melihat pindar sebagaimana adanya, industri yang lahir dari masalah nyata, tumbuh dengan inovasi yang bertanggung jawab dan terus berkomitmen untuk melayani mereka yang paling membutuhkan akses keuangan. Masih banyak yang harus kami perbaiki, tapi cerita tentang jutaan orang yang hidupnya berubah karena pindar, cerita itu juga harus didengar," tutur Firlie.

 

 

 

Perubahan Perilaku Ekonomi Pengguna

Di tingkat platform, dampak yang dirasakan borrower tidak berhenti pada angka pinjaman yang cair. Ekosistem yang terbentuk jauh lebih luas dari sekadar transaksi.

Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menggambarkan bagaimana platform yang ia pimpin melihat perubahan perilaku ekonomi di antara penggunanya dari waktu ke waktu.

"Yang kami lihat adalah bagaimana seorang borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya beberapa karyawan dan mulai masuk ke ekosistem perbankan formal. Pindar bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, kami adalah titik masuknya. Dan itu yang membuat pekerjaan ini punya makna," kata Nucky.

Easycash mencatat bahwa sebagian besar penggunanya berasal dari segmen yang sebelumnya tidak tersentuh layanan keuangan konvensional, dan bahwa tingkat kepercayaan yang dibangun melalui pengalaman pertama yang positif menjadi modal terbesar bagi pertumbuhan jangka panjang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6