Kondisi Terkini 2 Siswi Diduga Korban Keracunan hingga Dirujuk ke Jakarta

Menurut Bobby, korban makin kena mental karena derasnya komentar negatif serta perundungan siber.

Diterbitkan 13 September 2026, 00:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengambil langkah cepat dalam menangani dampak lanjutan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo.

Dua siswa yang mengalami trauma psikologis mendalam secara resmi dirujuk ke salah satu rumah sakit rujukan di Jakarta untuk mendapatkan perawatan intensif lanjutan.

Keputusan penting ini diambil menyusul atensi khusus dari Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, yang meminta agar para korban dengan kondisi psikis berat mendapatkan perhatian luar biasa.

Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menjelaskan bahwa secara medis kondisi fisik para siswa sebenarnya telah berhasil ditangani dengan baik oleh tim dokter di Sumatera Utara.

Kendati demikian, dua orang siswa yang masing-masing bernama F dan A dinilai membutuhkan penanganan komprehensif karena tingkat trauma psikologis yang mereka hadapi jauh lebih berat dibandingkan korban lainnya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gubernur Bobby di hadapan awak media usai melepas keberangkatan kedua siswa tersebut menuju ibu kota melalui Bandara Internasional Kualanamu. Tim dokter spesialis dari Sumatera Utara yang mendampingi proses perawatan mereka di Jakarta.

"Wakil Presiden menyampaikan agar ada penanganan langsung dan dimonitor. Ada dua anak yang indikasi medis dan traumanya lebih tinggi daripada teman-temannya, sehingga dibawa ke Jakarta," ujar Gubernur Bobby menegaskan komitmen pemerintah dalam pemulihan total para korban.

Lebih lanjut, Gubernur Bobby menekankan bahwa fokus penanganan kasus ini tidak boleh hanya berpusat pada pemulihan fisik semata. Aspek kesehatan mental dan psikis anak-anak yang terdampak menjadi perhatian krusial agar mereka tidak mengalami gangguan jangka panjang.

 

Makin Tertekan Dibuat Cyberbullying

Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis yang mendalam, terungkap fakta yang memprihatinkan bahwa korban justru mengalami tekanan mental tambahan yang dipicu oleh derasnya komentar negatif serta perundungan siber (cyberbullying) di berbagai platform media sosial setelah insiden tersebut menjadi sorotan publik.

"Anak-anak ini perlu dipulihkan bukan hanya kesehatan medisnya, tetapi juga mental dan psikisnya. Ada yang terganggu karena komentar-komentar dan cyberbullying," kata Bobby dengan nada prihatin.

Menanggapi situasi tersebut, tim medis telah mengambil langkah preventif dengan meminta para siswa untuk membatasi atau bahkan menghentikan sementara aktivitas mereka di media sosial demi menjaga stabilitas mental selama masa pemulihan.

Sejalan dengan instruksi tersebut, Gubernur Bobby melayangkan imbauan tegas kepada masyarakat luas serta insan media untuk ikut ambil bagian dalam proses penyembuhan dengan cara menahan diri dari segala bentuk komentar miring yang dapat memperburuk keadaan psikologis anak-anak tersebut.

Menurutnya, dukungan moral yang positif dari lingkungan sekitar jauh lebih dibutuhkan ketimbang tekanan luar yang justru menjadi beban mental tambahan bagi korban yang masih berusia muda.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berharap seluruh pihak dapat berempati dan memberikan ruang yang tenang bagi para siswa agar proses pemulihan fisik dan mental mereka dapat berjalan secara optimal tanpa hambatan psikologis lanjutan.

"Demi penyembuhan anak-anak kita, jangan terlalu memberikan tekanan dari luar. Fokus kita adalah membantu mereka pulih," pungkas Bobby menutup keterangannya.