Kasus Siswa Pati Tumbang Usai Santap MBG, Pengelola Dapur Diperiksa

Polisi ambil sampel makanan dan periksa saksi.

Diterbitkan 12 September 2026, 11:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jawa Tengah Kasat Reskrim Polresta Pati Kompol Dika Hadian Widya Wiratama mengatakan, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi terkait tumbangnya siswa MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 usai mereka menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Saksi dari siswa (MTs Negeri 3 Pati dan SMPN 1 Gembong) dan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) telah kita periksa. Informasi lebih lanjut akan kita sampaikan. Kita masih proses penyelidikan," kata dia kepada wartawan, ditulis Sabtu (12/9/2026).

Menurut Dika, pihaknya tak hanya mengandalkan keterangan saksi, penyidik juga telah mengamankan sejumlah sampel yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

"Kita juga sudah ambil sampel makanan dan sisa muntahan dari para siswa untuk dilakukan uji labfor," jelas dia.

Menurut Dika, hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi salah satu bagian penting bagi penyidik mengungkap sumber persoalan. Selain itu, menentukan ada atau tidaknya unsur pidana dalam kasus tersebut.

Polisi juga masih mendalami rangkaian proses penyediaan hingga pendistribusian makanan kepada para penerima MBG.

Untuk sementara, belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka. Polisi memastikan proses hukum masih berada pada tahap penyelidikan.

"Kami masih melakukan penyelidikan," tukas Dika.

 

Siswa di Pati Tumbang Usai Santap MBG

Sebelumnya, kepanikan luar biasa terjadi di lingkungan MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ratusan siswa di dua sekolahan tersebut tumbang diduga keracunan.

Mereka mengalami gejala gangguan pencernaan secara massal, Rabu (9/9/2026) siang. Kondisi itu diduga terjadi usai mereka menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di dua sekolah tersebut, Selasa (8/9/2026).

Ratusan siswa mengalami sejumlah keluhan yang sama. Yakni mulai dari mual, pusing, sakit perut, muntah hingga diare. Kondisi tersebut membuat sejumlah siswa harus dievakuasi menggunakan ambulans dan kendaraan kepolisian untuk mendapatkan penanganan medis.

Informasi dihimpun, awalnya MBG terlambat didistribusikan ke sekolah, Selasa (8/9/2026). Biasanya mobil pengantar MBG datang ke MTs Negeri 3 Pati dan diterima pukul 11.20 WIB.

Namun pada hari tersebut makanan baru tiba pukul 12.00 WIB. Kala makanan tiba, para siswa bergegas menyantap menu MBG, usai melaksanakan salat zuhur berjemaah di musala MTs Negeri 3 Pati.

Keluhan kesehatan tidak langsung dirasakan siswa MTs. Gejala mulai muncul pada Selasa sore hingga malam hari.

“Keluhannya (para siswa) mulai muncul sore sampai malam, ada yang mual, pusing, sakit perut, muntah dan diare,” ungkap Kepala MTsN 3 Pati, Zaenal Arifin, Rabu (9/9/2026).

Situasi pun semakin mengkhawatirkan pada Rabu pagi. Sebagian siswa masih datang ke sekolah, tetapi keluhan kesehatan kembali bermunculan. Aktivitas siswa menuju toilet bahkan disebut mengalami peningkatan cukup drastis.

Pihak guru MTs Negeri 3 Pati yang melihat kondisi siswa mereka, kemudian berkoordinasi dengan petugas kesehatan. Sejumlah ambulans dan kendaraan kepolisian dikerahkan membawa siswa yang mengalami keluhan menuju Puskesmas Gembong.

Karena jumlah pasien yang datang cukup banyak, Puskesmas Gembong mengalami kelebihan kapasitas. Sebagian siswa kemudian dirujuk ke RSUD RAA Soewondo Pati. Mereka menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan medis.

 

Dinkes Pati Telusuri Keracunan

Terpisah, Dinas Kesehatan Kabupaten Pati turun tangan ke lokasi untuk memantau proses evakuasi dan penanganan terhadap para siswa yang mengalami keluhan.

“Kami masih memantau evakuasi pasien (siswa sekolah), informasi lebih lanjut akan disampaikan selanjutnya,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Luki Pratugas Narimo.

Petugas kesehatan hingga kini juga masih melakukan pemeriksaan dan pemantauan terhadap kondisi para siswa. Penyebab pasti dugaan keracunan setelah konsumsi MBG tersebut masih dalam penelusuran.

Kasus di Kecamatan Gembong Pati ini menjadi perhatian. Sebab terjadi di tengah pelaksanaan program MBG yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah.

Peristiwa tersebut juga menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam setiap tahapan penyediaan makanan. Mulai dari pengolahan, pengemasan, penyimpanan hingga distribusi ke sekolah.

Program MBG diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan nutrisi siswa. Namun juga memastikan setiap makanan yang diterima dan dikonsumsi anak-anak berada dalam kondisi aman serta memenuhi standar kesehatan.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pemantauan terhadap para siswa dan penelusuran untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gangguan kesehatan tersebut.