Jejak Pengabdian Wili di Papua Berakhir di Peluru KKB

Wili merupakan satu dari tiga korban kekejaman KKB Papua pada Rabu 9 September 2026.

Diterbitkan 12 September 2026, 00:12 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wili Mbuik (24), lulusan fakultas pertanian Undana Kupang 2023, menjadi salah satu korban kekejaman KKB Papua pada Rabu 9 September 2026. Dua dari tiga korban penembakan KKB itu merupakan warga NTT.

Wili Mbuik (24) asal Kabupaten Rote Ndao dan Alfonsius Albinus Mehan (35) asal Kabupaten Sikka. Keduanya merupakan pegawai pada dinas pertanian Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

Paman kandung, Johanis Baba mengatakan, setelah lulus kuliah pada 2023, Wili kemudian berangkat ke Papua mengikuti jejak kakaknya untuk mencari kerja. Dia lalu mengikuti tes CPNS pada tahun 2025 dan Surat Keputusan (SK) pengangkatan PNS baru saja terbit pada tahun 2026.

"SK PNS baru dua bulan lalu terbit," kata Johanis.

Keluarga membantah tuduhan disampaikan KKB bahwa Wili dan dua rekannya adalah intelijen aparat. Tuduhan itu dinilai sekadar alasan dicari-cari kelompok bersenjata untuk membenarkan perbuatannya.

"Kami datang untuk mengabdi di tanah Papua, tapi kenapa dicurigai sebagai intelijen? Kalau mau perang, jangan lawan kami warga sipil," ujar Johanis.

Keluarga juga menyoroti fakta bahwa setiap hari warga pendatang menjadi korban kekerasan di Papua, namun seakan dibiarkan tanpa perlindungan memadai.

"Kami bekerja dalam ketakutan, padahal niat kami tulus untuk mengabdi. Negara harusnya melindungi kami," kata dia.

Handphone Dirampas

Johanis mengatakan, ponsel milik almarhum dirampas pelaku penembakan ternyata digunakan untuk meneror keluarga. Teror berupa panggilan video call dialami keluarga di Kupang maupun di Rote, menggunakan nomor ponsel Wili sendiri.

"Terornya lewat telepon, video call. Itu yang pegang HP-nya almarhum ini," kata Johanis.

Hingga saat ini, keluarga masih menerima teror. Johanis berharap aparat keamanan dapat menghentikan hal tersebut.

Keluarga meminta pemerintah dan aparat keamanan segera mengatasi kekerasan terhadap warga sipil datang mengabdi, serta menghentikan teror kini juga menimpa keluarga korban di kampung halaman.

"Harapan saya kepada aparat agar segera menangkap para pelaku agar tidak ada lagi korban di tanah Papua," tandasnya.

Â