Usai Santap MBG, Siswa Lombok Tengah Alami Sesak hingga Pingsan

Salah satu orang tua siswa mengungkap kondisi anaknya sempat mengkhawatirkan setelah mengonsumsi menu MBG.

Diterbitkan 11 September 2026, 23:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ratusan siswa di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu orang tua siswa mengungkap kondisi anaknya sempat mengkhawatirkan setelah mengonsumsi menu MBG.

Inak Yana, orang tua siswa, mengatakan anaknya mengalami sejumlah keluhan seperti sakit perut, sesak napas, dan sakit kepala. Kondisinya bahkan sempat tidak sadarkan diri beberapa kali.

"Perut sama sesak napas sama kepalanya sakit," ujar Inak Yana sebagaimana dikutip dari Liputan6 SCTV, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, anak tersebut mengalami kondisi tersebut setelah menyantap makanan MBG yang dibagikan di sekolah. Ia kemudian dibawa untuk mendapatkan penanganan.

"Dibawa dari sekolah, dia pingsan setelah makan itu MBG-nya," kata dia.

Adapun menu MBG yang disantap anak tersebut terdiri dari kebab, ayam, sayuran, dan buah salak. Inak Yana menyebut lauk yang dikonsumsi anaknya berupa daging ayam.

Saat ini kondisi anaknya disebut mulai membaik. Namun, sebelumnya anak tersebut sempat kehilangan kesadaran hingga tiga kali.

"Agak baikan sekarang, tapi tadinya pingsan tiga kali," ujar dia.

 

Satgas MBG Minta Evaluasi

Sementara itu, Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, meminta seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG melakukan evaluasi menyeluruh menyusul dugaan kejadian tersebut.

Ia menginstruksikan satgas di Lombok Tengah, koordinator wilayah, koordinator cabang, SPPI, hingga mitra yayasan untuk melakukan introspeksi dan memastikan layanan MBG diberikan dengan standar terbaik.

"Harapan kita, saya langsung instruksikan kepada seluruh satgas, terutama satgas yang ada di Lombok Tengah, kemudian korwil, korcang, SPPI, mitra yayasan untuk menjadi bahan evaluasi. Introspeksilah dengan situasi kondisi saat ini. Maka mari kita berikan layanan yang terbaik," kata Fathul.

Fathul juga meminta penyedia MBG lebih selektif dalam memilih bahan makanan. Menurutnya, bahan makanan yang berpotensi cepat basi harus dihindari karena waktu konsumsi setiap siswa bisa berbeda.

"Pilihlah bahan makanan yang tidak berpotensi cepat basi. Itu cepat basi. Karena bagaimanapun siswa-siswa ini ada yang langsung makan, ada yang menunda dan sebagainya. Jadi tidak sama," ujar dia.

Fathul menyebut berdasarkan penjelasan di lapangan, terdapat siswa yang terlambat menyantap makanan. Namun, ia menegaskan kondisi tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan keamanan pangan.

"Kalau menurut penjelasan di lapangan tadi terlambat makan, menyantap. Tapi itu bukan menjadi alasan sebenarnya," tegas dia.

Menurut Fathul, seluruh pihak harus memastikan bahan makanan yang diolah benar-benar aman dan sehat sebelum didistribusikan kepada siswa. Ia juga menekankan pentingnya peran ahli gizi dalam memastikan kualitas makanan.

"Yang terpenting semua pihak harus mengevaluasi diri dengan memastikan bahan-bahan makanan yang diolah itu benar-benar sehat. Kan ada ahli gizi juga," jelasnya.

Selain pemilihan bahan, Fathul menekankan tanggung jawab kepala dapur dalam setiap tahapan penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan hingga proses pengolahan dan distribusi.

Ia meminta kepala dapur benar-benar menjalankan fungsi pengawasan secara menyeluruh agar kualitas dan keamanan makanan yang diterima siswa dapat terjamin.

"Yang terpenting kepala dapur betul-betul menjadi kepala rumah tangga di SPBG itu yang bertanggung jawab penuh terhadap siklus dari proses memilih dan memilah bahan, lalu bagaimana prosesnya, lalu bagaimana mendistribusikan," pungkasnya.