Sosok ASN Wili Mbuik, Tulang Punggung Keluarga Gugur Ditembak KKB

Wili baru dua bulan diangkat menjadi ASN.

Diterbitkan 11 September 2026, 13:48 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kesedihan mendalam dirasakan keluarga besar Wili Mbuik, pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua, yang menjadi korban penembakan Kelompok Bersenjata (KKB).

Johanis Baba, perwakilan keluarga almarhum, menyampaikan perasaan duka sekaligus kekhawatiran keluarga yang kini juga menerima teror melalui telepon dari nomor ponsel milik korban yang diambil pelaku.

"Kami sebagai keluarga, saya mewakili keluarga sebagai om kandung, sangat sedih dan sangat kecewa dengan kejadian ini. Kami merasa sangat sedih dan merasa kehilangan harapan kami sebagai keluarga," kata Johanis Baba, Jumat (11/9/2026).

Wili Mbuik, yang dikenal sebagai anak pendiam dan penurut, berangkat dari Kupang pada tahun 2003 menyusul kakaknya di Papua sebagai guru. Ia kemudian mengikuti tes CPNS dan lulus, lalu ditempatkan di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. SK pengangkatannya baru saja terbit dan ia baru melaksanakan tugas selama dua bulan.

"Ini adalah anak kami yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap bulan selalu kirim uang untuk ayahnya di Rote," ujar Johanis dengan suara bergetar.

Keluarga baru mengetahui kabar duka pada sore hari setelah kejadian, melalui pemberitaan media. Sebelum penembakan, Wili sempat berkomunikasi biasa-biasa saja pada minggu sebelumnya, namun pada hari kejadian sekitar pukul 03.00 WITA, tidak ada komunikasi sama sekali.

"Sosok almarhum ini selama kuliah kan tinggal dengan saya di sini. Jadi anak ini pendiam dan penurut," kenang Johanis.

 

Terima Teror

Ia mengaku ponsel milik almarhum yang diambil oleh pelaku penembakan ternyata digunakan untuk meneror keluarga. Teror berupa panggilan video call dialami keluarga di Kupang maupun di Rote, menggunakan nomor ponsel Wili sendiri.

"Terornya lewat telepon, video call. Itu yang pegang HP-nya almarhum ini," ungkap Johanis.

Hingga saat ini, keluarga masih menerima teror. Johanis berharap aparat keamanan dapat menghentikan hal tersebut.

Keluarga meminta pemerintah dan aparat keamanan segera mengatasi kekerasan terhadap warga sipil yang datang mengabdi, serta menghentikan teror yang kini juga menimpa keluarga korban di kampung halaman.

"Harapan saya kepada aparat agar segera menangkap para pelaku agar tidak ada lagi korban di tanah Papua," pintanya.