LRT Jabodebek Tampung Lonjakan Penumpang, jadi Pilihan Transportasi ke Bekasi

LRT Jabodebek terus melayani perjalanan masyarakat dari kawasan Bekasi ke Jakarta.

Diterbitkan 28 April 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - LRT Jabodebek menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden kecelakaan kereta yang terjadi di wilayah Bekasi pada Senin malam, 27 April 2026. Seiring dengan ada penyesuaian operasional perjalanan kereta di kawasan Bekasi, sebagian masyarakat memanfaatkan LRT Jabodebek sebagai salah satu pilihan perjalanan menuju Jakarta.

Manager of Public Relations LRT Jabodebek Radhitya Mardika menyampaikan, pihaknya berupaya tetap memberikan pelayanan yang selamat, aman, dan nyaman bagi masyarakat yang membutuhkan alternatif perjalanan dalam melakukan mobilitasnya sehari-hari.

"LRT Jabodebek terus melayani perjalanan masyarakat dari kawasan Bekasi menuju Jakarta, dan berharap proses pemulihan operasional perjalanan kereta di wilayah Bekasi dapat segera berjalan lancar, sehingga mobilitas masyarakat kembali normal," ujarnya, Selasa (28/4/2026).

Berdasarkan data hingga pukul 16.30 WIB, sebanyak 9.023 pengguna berangkat dari Stasiun Jati Mulya pada Selasa pekan ini. Jumlah tersebut meningkat 45 persen dibandingkan Senin, 27 April 2026,  yang tercatat sebanyak 6.224 pengguna.

Stasiun Jati Mulya berjarak sekitar 2,7 kilometer dari Stasiun Bekasi Timur dan dapat ditempuh sekitar 10 menit menggunakan kendaraan roda dua. "Keberadaan stasiun ini dapat menjadi salah satu pilihan perjalanan bagi masyarakat di kawasan Bekasi yang menuju Jakarta," imbuh Radhitya. 

Ia mengutarakan, LRT Jabodebek juga memiliki konektivitas dengan berbagai moda transportasi lain sehingga memudahkan mobilitas lanjutan pengguna menuju berbagai kawasan di Jakarta. 

Beberapa stasiun yang telah terintegrasi, antara lain:

- Stasiun Cikoko yang terhubung dengan Stasiun Cawang KRL serta layanan TransJakarta

- Stasiun Dukuh Atas yang terhubung dengan Stasiun Sudirman KRL, KA Bandara, MRT Jakarta, dan TransJakarta Stasiun Halim yang terkoneksi dengan layanan Kereta Cepat Whoosh

- Stasiun Cawang yang melayani konektivitas lanjutan menuju arah Harjamukti.

"Dari sisi tarif, LRT Jabodebek menetapkan tarif maksimal Rp 20.000 pada jam sibuk (peak hour) yaitu pukul 06.00–08.59 WIB dan 16.00–19.59 WIB. Sementara di luar jam tersebut, tarif maksimal hanya Rp 10.000," tuturnya. 

 

Kenaikan Penumpang Whoosh

Senada dengan LRT Jabodebek, okupansi penumpang kereta cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh per Selasa (28/4/2026) hari ini terpantau mengalami kenaikan. 

Lonjakan ini terjadi seiring adanya kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin (27/4/2026) malam, yang membuat operasional kereta api dari Stasiun Bekasi menuju arah timur terganggu. 

General Manager Corporate Secretary PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Evaluasi Chairunisa, mengonfirmasi bahwa angka penumpang kereta cepat Whoosh mengalami sedikit peningkatan dibandingkan hari yang sama di pekan lalu. 

"Kalau dibandingkan dengan hari Selasa minggu lalu memang kita melihat sedikit peningkatan ya," ujar dia saat ditemui di Stasiun Whoosh Halim, Jakarta, Selasa (28/4/2026). 

 

Tren Okupansi Penumpang

Adapun secara tren mingguan, okupansi penumpang Whoosh biasanya mulai beranjak padat menjelang akhir pekan, pada Kamis sore hingga Senin pagi. Sementara pada Selasa dan Rabu kerap landai. 

"Kalau kita bandingkan dengan Selasa minggu lalu, memang untuk hari ini tadi kita melihat okupansi per KA itu sekitar 65 persen. Biasanya itu hanya di sekitar 45-50 persen," terang dia. 

 "Satu kereta itu 601 kursi ya, jadi (okupansi) 65 persen yaitu sekitar 370 sampai 400 penumpang lah," kata Eva.

 

Kronologi Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur

Sebelumnya, Kereta Api (KA) jarak jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya terlibat kecelakaan dengan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.

Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menjelaskan bahwa insiden bermula dari kecelakaan yang terjadi di perlintasan rel di kawasan Bulak Kapal.

Peristiwa tersebut melibatkan sebuah taksi yang tertabrak KRL di jalur perlintasan (JPL), sehingga menyebabkan perjalanan KRL terganggu dan kereta terpaksa berhenti.

“Jadi KRL itu berhenti karena ada taksi yang tertabrak di perlintasan dekat Bulak Kapal,” ujar Franoto.

KRL yang terlibat kecelakaan dengan taksi itu kemudian terhenti di tengah rel. Di sisi lain, ada KRL arah Cikarang yang terpaksa di Stasiun Bekasi Timur karena insiden kecelakaan KRL dan taksi di depannya. KRL yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur inilah yang kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta.

KA Argo ini menabrak bagian belakang KRL yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur. “KRL berhenti, lalu di belakangnya ada KA Argo Bromo Anggrek yang kemudian terjadi tabrakan,” ia menambahkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6