Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan militer antara Amerika Serikat-Israel dan Iran tidak menghentikan arus emas hitam dari Teheran menuju Beijing. Meski Selat Hormuz kini menjadi jalur yang sangat berbahaya, Iran dilaporkan terus mengirimkan minyak mentah dalam jumlah besar ke China.
Berdasarkan data dari TankerTrackers, dikutip dari CNBC, Rabu (11/3/2026), Iran telah mengirimkan sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah melalui Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari lalu. Seluruh muatan tersebut dipastikan menuju ke China.
Samir Madani, salah satu pendiri TankerTrackers, mengungkapkan bahwa pihaknya memantau pergerakan kapal menggunakan citra satelit. Teknologi ini memungkinkan mereka menangkap keberadaan kapal yang sengaja mematikan sistem pelacakan agar tidak terdeteksi.
Advertisement
"Banyak kapal yang 'menghilang' setelah Teheran mengancam akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melewati jalur air tersebut," ujar Madani kepada CNBC, Selasa (11/3/2026).
Risiko Nyawa di Jalur SempitSenada dengan itu, penyedia data intelijen pelayaran Kpler memperkirakan sekitar 12 juta barel minyak mentah telah melewati selat tersebut sejak perang dimulai.
"Mengingat China telah menjadi pembeli utama minyak mentah Iran dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar dari barel-barel ini kemungkinan besar menuju ke sana," kata Nhway Khin Soe, analis minyak mentah di Kpler.
Padahal, Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi seperempat pasokan minyak dunia, kini hampir lumpuh. Dalam dua minggu pertama perang, sepuluh kapal di sekitar selat diserang oleh pihak Teheran, yang menewaskan sedikitnya tujuh pelaut.
Menanggapi situasi ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran memberikan peringatan keras. "Tanker minyak yang melintasi Selat harus sangat berhati-hati," tegasnya.
Â
Siasat Terminal Jask dan Gertakan Donald Trump
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261711/original/021340900_1750682308-AP23139497868577.jpg)
Di tengah blokade dan risiko serangan di Selat Hormuz, Iran mulai mengaktifkan jalur alternatif. Selama ini, Terminal Pulau Kharg menjadi fasilitas ekspor utama yang menangani 90 persen ekspor minyak Iran. Namun kini, Iran mulai melirik Terminal Jask di Teluk Oman.
Terminal Jask memiliki posisi strategis karena terletak di selatan Selat Hormuz, sehingga kapal tanker bisa langsung menuju laut lepas tanpa harus melewati titik paling berbahaya di selat tersebut.
Laporan TankerTrackers menyebutkan sebuah kapal Iran terlihat sedang memuat 2 juta barel minyak mentah di Jask. Ini merupakan pemuatan kelima yang terjadi di sana dalam lima tahun terakhir, menandakan Teheran mulai serius mencari jalan keluar dari kepungan.
Efisiensi vs PropagandaMeski menjadi alternatif, Terminal Jask dianggap kurang efisien dibandingkan Pulau Kharg. Untuk memuat satu kapal tanker raksasa (VLCC), diperlukan waktu hingga 10 hari di Jask, sementara di Pulau Kharg hanya butuh satu atau dua hari.
"Jask memiliki nilai propaganda domestik yang baik, tetapi tidak memberikan banyak keuntungan logistik," kata Samir Madani.
Komentar Pedas Donald Trump
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menanggapi dingin kelumpuhan jalur pelayaran tersebut. Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump mendesak kapal-kapal yang tertahan untuk tetap maju.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, mereka (Iran) tidak punya Angkatan Laut, kami sudah menenggelamkan semua kapal mereka," cetus Trump dengan gaya bicaranya yang khas. Ia meminta para nahkoda untuk "menunjukkan keberanian" dan terus menembus jalur tersebut.
Â
Â
Advertisement
Aksi Borong China dan Fluktuasi Harga Minyak Dunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261710/original/035993300_1750682218-AP23139497807079.jpg)
China tampaknya sudah mengantisipasi risiko energi jauh sebelum perang pecah. Negeri Tirai Bambu ini secara agresif membangun cadangan minyak nasional mereka untuk meredam guncangan pasokan.
Data bea cukai menunjukkan impor minyak mentah China melonjak 15,8 persen pada awal tahun ini. Menurut Atlantic Council, China diperkirakan memiliki timbunan cadangan sebanyak 1,2 miliar barel yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 3 hingga 4 bulan.
Langkah China ini semakin mendesak setelah Donald Trump menargetkan dua sumber pasokan utama mereka, yaitu Venezuela dan Iran. Tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam perang bulan lalu semakin memicu kekhawatiran akan stabilitas energi global.
Harga Minyak Sempat Tembus USD 120
Kekhawatiran pasar sempat membuat harga minyak mentah melonjak hingga mendekati USD 120 per barel pada awal pekan ini—level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Hal ini dipicu oleh keputusan beberapa negara produsen di Teluk Persia untuk membatasi produksi.
Namun, harga mulai melandai setelah para pemimpin negara G7 mempertimbangkan untuk merilis cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah. Hingga Selasa malam waktu setempat:
- Minyak WTI AS untuk pengiriman April turun ke kisaran USD 84,9 per barel.
- Minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei berada di level USD 88,9 per barel.
Meskipun harga sedikit turun, ketegangan di Selat Hormuz tetap tinggi dan pasar energi global masih berada dalam posisi waspada selama tanda-tanda berakhirnya perang belum terlihat jelas.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295706/original/066644800_1783939615-cek_fakta_-_prasetyo_hadi_umumkan_dana_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318485/original/050923200_1786098399-Cek_fakta_-_blt_umkm_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261713/original/017908800_1750682486-AP23215607070697.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318749/original/047089000_1786155529-Tentara_AS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594243/original/089058400_1696137886-andre-francois-mckenzie-iGYiBhdNTpE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4373616/original/042892900_1679963213-Israel-Netanyahu-AFP-800x500-780x470.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4477887/original/010773400_1687477107-Harga_Minyak_Dunia_Freepik.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5524833/original/035238900_1773017298-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261713/original/017908800_1750682486-AP23215607070697.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290338/original/083924200_1783473452-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4447080/original/018669100_1685440088-20230530-Pertumbuhan-Ekonomi-Indonesia-Angga-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516526/original/082099100_1772322543-3.jpg)