Kronologi Warga Bawang Keracunan Massal

Sedikitnya 200 anak diperkirakan mendapat perawatan setelah menyantap MBG. Penyebabnya masih ditelusuri.

Diterbitkan 24 September 2026, 00:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Raungan sirene ambulans bersahut-sahutan di tengah kepanikan warga Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (23/9/2026) malam.

Gelombang pasien berdatangan ke sejumlah fasilitas kesehatan setelah ratusan siswa, anak usia dini, ibu hamil, hingga orang tua diduga mengalami keracunan usai menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jumlah korban dalam kasus terbaru bahkan terus bertambah, seiring proses pendataan dan evakuasi yang masih berlangsung hingga Rabu malam (23/9/2026).

Di Kecamatan Bawang, puluhan ambulans datang silih berganti membawa pasien ke fasilitas kesehatan. Sejumlah korban harus dievakuasi secara bertahap, setelah mengalami keluhan kesehatan.

Ratusan korban mengalami pusing, mual, muntah, dan sakit perut seusai mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program MBG.

Dugaan keracunan tersebut berdampak pada sejumlah satuan pendidikan di Kecamatan Bawang, antara lain SD Negeri 3 Bawang, SD Pasusukan, SD Purbo, SD Bawang, TK PAUD Al Ikhlas, TK PAUD Harapan Bunda, dan TK Pertiwi.

Puskesmas Bawang menjadi salah satu titik utama penanganan korban. Lonjakan pasien membuat fasilitas kesehatan tersebut, dipadati warga sejak Selasa (22/9/2026) malam hingga Rabu (23/9/2026) malam

Sebagian pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, kemudian dirujuk menggunakan ambulans dan armada bantuan ke sejumlah rumah sakit. Diantaranya ke RSUD Limpung, RSUD Batang dan RS QIM.

Gejala Muncul Sejak Selasa

Di Kecamatan Bawang, sejumlah warga menyebut gejala seperti pusing, mual, muntah dan sakit perut, mulai dirasakan beberapa jam setelah hidangan MBG dibagikan pada Selasa (22/9/2026) siang.

Juwaihir salah satu warga Bawang mengatakan, sebagian korban mulai berdatangan ke fasilitas kesehatan sejak Selasa (22/9/2026) malam.

"Kejadian itu sebenarnya dari kemarin. Baru tadi malam ada siswa dan orang tua yang masuk puskesmas," ujar Juwaihir saat ditemui di lokasi penanganan medis.

Dugaan sementara mengarah pada makanan yang dipasok dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bela Batang Sejahtera di Desa Bawang RT 26 RW 05, Kecamatan Bawang.

Menu MBG yang dikonsumsi para korban antara lain olahan telur, tahu dan sayuran. Namun, penyebab pasti kejadian belum dapat dipastikan.

Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan, masih diperlukan untuk memastikan apakah makanan tersebut memang menjadi sumber gangguan kesehatan yang dialami para korban.

Sekretaris Desa Pasusukan, Ahmadi menjelaslan, pendataan jumlah korban masih berlangsung. Korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa, tetapi juga orang tua yang ikut mengonsumsi makanan MBG yang dibawa anak mereka ke rumah.

 

200 Anak Dirawat

Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah menginstruksikan tenaga medis di wilayah Bawang dan sekitarnya untuk bersiaga. Petugas harus memprioritaskan penanganan pasien dalam kondisi darurat.

Hingga Rabu (23/9/2026) malam, pendataan dan pemeriksaan masih berlangsung. Namun, petugas medis di lapangan memperkirakan sedikitnya 200 anak telah mendapatkan perawatan.

Seperti kondisi yang dialami lima pasien yang kini harus dirawat di Puskesmas Bandar I Batang. Mereka diantar menggunakan lima ambulans dari wilayah Kecamatan Bawang.

Kelima pasien tersebut yakni M. Ulul Albad (27), Muhamad Hanif Dakiri (16), Mayda Vianisya (18), Luthfi Sahbana (30), serta M. Sahdan Sulaiman (4), siswa TK Al Ikhlas.

Para pasien mengeluhkan sejumlah gejala termasuk sakit perut dan pusing, setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Selasa (22/9/2026). Hingga Rabu malam, kelima pasien masih menjalani perawatan di Puskesmas Bandar I.

Kedatangan pasien juga mendapat bantuan dan pengawalan aparat gabungan dari Polres Batang dan Kodim Batang. Aparat gabungan mengawal proses evakuasi dan penanganan korban di Puskesmas Bandar I.

Orang Tua Mendesak Evaluasi

Situasi darurat itu menambah daftar kasus dugaan keracunan makanan yang terjadi di Kabupaten Batang. Sebelumnya, dugaan keracunan akibat pemberian makanan tambahan (PMT) juga menimpa puluhan lansia dan balita di Desa Rowobelang.

Hingga kini, penanganan dan pengusutan kasus keracunan di Desa Rowobelang tersebut disebut belum sepenuhnya tuntas.Belum selesai persoalan di Rowobelang, kini dugaan keracunan kembali terjadi di Kecamatan Bawang.

Rentetan kejadian tersebut membuat kekhawatiran orang tua semakin besar. Mereka meminta pemerintah tidak hanya menangani korban saja. Namun juga memastikan penyebab kejadian secara terbuka dan melakukan evaluasi terhadap mekanisme penyediaan serta distribusi MBG.

Sejumlah wali murid di Kecamatan Bawang mengaku trauma setelah anak mereka mengalami gangguan kesehatan. Mereka meminta adanya jaminan keamanan makanan, sebelum program kembali diberikan kepada anak-anak.

Sementara itu, pihak pengelola SPPG Yayasan Bela Batang Sejahtera belum berhasil ditemui untuk memberikan keterangan resmi mengenai dugaan keracunan di Bawang.

Â